, ,

Risky dan Keluarganya Tidur di Jalan untuk Mengantisipasi Marabahaya Karena Gempa Susulan (Bagian 2 – Habis)

Paska gempa hebat yang mengguncang Palu, suasana perumahan di mana Risky dan keluarganya tinggal, masih mencekam.  Mereka tidak tahu apa selanjutnya yang akan terjadi. Jaringan komunikasi masih belum sempurna, aliran listrik pun mati.

Seperti hidup di peradaban masa lalu, orang-orang tidak bisa dengan cepat mengetahui apa yang terjadi di luar lingkungan di mana mereka tinggal. Mereka juga tidak tahu sampai berapa lama  hidup dengan kondisi seperti ini.

Untuk menghindari marabahaya karena gempa susulan, malam itu Risky dan anak-istrinya tidur di jalan, seperti tetangga lainnya. Karena Risky tidak punya tikar, dia dan istrinya menggunakan alas tidur seadanya. Untuk anak, Risky  memanfaatkan  karpet mobil sebagai alas tidur.

“Meskipun demikian, saya selalu mengucapkan syukur kepada Allah karena masih diberi kesempatan hidup, dan anak saya tidak rewel dalam kondisi serba sulit ini,” paparnya.   Risky menyampaikan, Khatijah Nur Fadilah tidak mengeluh dan tidak rewel, meskipun tidur di alam terbuka. Gadis kecil itu terlelap dalam dekapan ibunya.

Paginya, tanggal 29 September 2018, Risky mencoba mencari informasi dengan mendatangi wilayah lain di Palu. Karena tidak ada saluran berita yang bisa diakses, orang-orang hanya mendengar bencana ini dari mulut ke mulut. Kata beberapa tetangga,  gempa dahsyat ini menyebabkan tsunami.

Dengan mengendarai motor, Risky menuju ke pantai. Dia ingin tahu seberapa parah akibat gempa ini di Kota Palu. Di sepanjang jalan yang dilewati, banyak sekali bangunan yang atapnya runtuh, dan dindingnya retak. Bahkan ada beberapa rumah yang rata dengan tanah.

“Ketika sampai di Pantai Talise, saya melihat banyak mayat bergelimpangan. Ada yang tergeletak di jalanan, tertimbun bangunan,  dan ada juga yang tersangkut di atap rumah. Pemandangan mengerikan yang baru pertama kali ini saya lihat langsung. Hal tersebut membuat saya trauma,” ungkapnya.

(foto: dokumen pribadi)

Risky  teringat dengan Dody Irawan, SPDP wilayah Palu, Sigi,  Morowali, dan Luwuk Banggai, yang juga  tinggal di Palu. Dia memacu motornya menuju rumah Dody, untuk mengetahui kabar seniornya itu.  Sesampai di depan rumah Dody, kondisi rumah itu mengenaskan.

“Pagarnya roboh dan beberapa dinding  retak, maka saya putuskan untuk kembali ke rumah.  Alhamdulillah, hari Sabtu sore Pak Dody mendatangi rumah saya, dalam keadaan sehat,” ucapnya.

Senin pagi, tanggal 1 Oktober 2018, Risky baru bisa  berhasil dihubungi oleh salah seorang pimpinannya di Gresik, yang mengatakan akan segera dievakuasi. Itu pun melalui telepon seleluler milik anaknya. Sebab ponsel miliknya hancur terkena reruntuhan rumah. Malamnya dua koleganya, Ilham Dharmawan (SPDP wilayah Sulawesi Selatan) dan dan Ruswandono (SPDP wilayah Gorontalo), datang membawa bantuan makanan, minuman, dan BBM.

Mereka menggunakan jalan darat melalui satu-satunya jalur yang biasa disebut dengan “jalur kebun kopi”. Saat itu jalur tersebut longsor akibat gempa, mereka berdua harus menunggu sekitar enam jam, hingga reruntuhan tanah bisa disingkirkan oleh petugas.

Selasa pagi, 2 Oktober 2018, Risky dan keluarganya dievakuasi menuju Mamuju, karena kota ini satu-satunya  yang terdekat jaraknya dari Palu. Di Mamuju keluarga muda itu bermalam di salah satu hotel, sambil menunggu jadwal penerbangan ke Surabaya. Rencana berangkat hari Rabu, tertunda karena padatnya jadwal penerbangan. Saat itu di Mamuju banyak pengungsi yang akan pulang ke daerah asal masing-masing.

Setelah menginap semalam lagi, Kamis pagi tanggal 4 Oktober2018 mereka baru bisa mendapatkan tiket pesawat dan terbang ke Surabaya. Dari Bandara Juanda Surabaya, mereka langsung menuju ke rumah mertuanya di Bunder, Gresik. Risky butuh menenangkan anak-istrinya, dan berusaha meredakan trauma akibat gempa yang mereka alami di Palu.

Meskipun mengalami peristiwa dramatik, Risky mengaku tidak kapok kembali ke Palu, sebab dia masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di sana. Sambil menunggu suasana Palu kembali kondusif, saat ini dia beraktivitas di Departemen Penjualan Retail W ilayah II,  di Kantor Pusat PT Petrokimia Gresik. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *