Penggunaan Benih Padi Hibrida di Indonesia Baru 0,04 Persen

Penggunaan benih padi hibrida di Indonesia masih sangat rendah, baru 0,04 persen. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, yang pertama adalah desiminasi (pengembangan) padi hibrida belum banyak berhasil ke petani. Yang ke dua adalah kebanyakan petani melihat padi hibrida sebagai sebuah varietas, padahal hibrida adalah tipe padi.

Hal tersebut disampaikan oleh Yuni Widyastuti, M. Si., peneliti dan pemulia padi hibrida dari BB Padi Balitbangtan, saat  menjadi pemateri pelatihan alih teknologi produksi benih padi hibrida Petro Hibrid, di PT Petrokimia Gresik pada Selasa (23/10).

“Jadi ketika ada satu atau dua padi hibrida yang jelek, entah karena ketahanan terhadap penyakitnya nggak bagus atau hasilnya rendah, petani langsung bilang semua padi hibrida nggak ada yang bagus.  Padahal padi hibrida itu varietasnya ada berbagai macam, dan masing-masing memiliki karakter sendiri-sendiri,” ujarnya.

Informasi yang diterima oleh petani, lanjut Yuni,  masih belum terlalu banyak. Selain itu harga benih padi hibrida yang lebih mahal dibandingkan dengan padi inbrida, turut mempengaruhi tingkat adopsi yang rendah di antara petani.

“Bayangkan saja, taruh lah kalau benih inbrida ES (extension seed) harganya Rp. 7 ribu per kilogram, kelas yang sama untuk hibrida harganya bisa mencapai Rp. 60 ribu – Rp. 120 ribu per kilogram. Petani yang tidak responsif dan tidak punya modal banyak tidak akan mengunakan (benih padi) hibrida,” paparnya.

Dengan mahalnya harga benih padi hibrida, menurut Yuni, tentu saja benih ini mempunyai potensi hasil yang tinggi. Dengan menggunakan benih padi hibrida, petani akan mendapatkan kelebihan hasil dibandingkan dengan padi inbrida. Secara teoritis padi hibrida mempunyai kelebihan hasil 20 – 30 persen dibanding padi inbrida.

“Sebagai contoh misalnya benih padi hibrida Hipa 18, jika ditanam oleh petani hasilnya bisa mencapai 10 ton per hektar, jika dibandingkan dengan ketika menanam benih padi IR-64 yang hanya menghasilkan 8 ton per hektar. Dari sini terlihat ada kelebihan 20 persen yang bisa mereka jual,” tegasnya.

Lebih lanjut Yuni mengatakan, tidak semua padi hibrida bagus dan sebaliknya tidak semua padi inbrida jelek. Pihaknya sudah dua kali melakukan even internasional yang berkaitan dengan padi hibrida, yang pertama di Tabanan-Bali pada Desember 2017, yang ke dua di Jogjakarta pada Februari 2018.

“Pada dua even itu feedback petani terhadap padi hibrida luar biasa. Ada (petani) yang rela membeli dengan harga Rp. 120 ribu per kilogram, untuk ditanam pada beberapa musim tanam. Artinya apa, kalau petani tahu langsung hasilnya, mereka rela beli dengan harga mahal sekalipun,” ujarnya.

Yuni mengungkapkan bahwa  keunggulan lain dari padi hibrida adalah ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit. Karena syarat minimal dari benih padi hibrida yang dikeluarkan oleh Balitbangtan, adalah tahan terhadap 2 hama, yaitu wereng batang coklat dan hawar daun bakteri.

“Misalnya Hipa 18, benih hibrida ini tahan terhadap serangan hama wereng batang coklat, walaupun tidak terlalu tahan terhadap hawar daun bakteri. Kelebihan lain dari benih padi hibrida Hipa 18, yang diproduksi oleh Petrokimia (Petro Hibrid), teksturnya yang pulen,” pungkas Yuni. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *