Musim Hujan Telah Tiba, Perhatikan Keasaman Tanah Anda

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan pada 150 zona musim di Indonedia diperkirakan jatuh pada Januari 2018. Hal ini tentu saja menjadi berkah bagi petani, karena peran air demikan penting untuk budidaya berbagai komoditas. Akan tetapi intensitas curah hujan yang tinggi juga bisa menjadi salah satu penyebab menurunnya tingkat keasaman tanah.

Sepereti dikutip dari laman www.thespruce.com, keasaman tanah diukur dengan pH, pada skala 1 hingga 14. Tanah dikatakan asam jika pH-nya berada di bawah angka 7. Pada umumnya tanaman bisa tumbuh subur pada tanah dengan pH antara 6 dan 7,5. Hal ini disebabkan karena pada tingkat keasaman tersebut fosfor dalam tanah bisa larut dalam air dan diambil oleh akar tanaman.  Fosfor adalah salah satu dari tiga macronutrien (N, P, dan K) yang dibutuhkan oleh semua tanaman, dan bertanggung jawab untuk membantu tanaman berbunga dan pembuahan.

Ada tiga hal mendasar yang menyebabkan tanah menjadi asam. Yang pertama, dan yang paling umum, adalah bahwa bahan organik dan mineral yang terurai di tanah dari waktu ke waktu bersifat asam, dan membuat tanah menjadi asam. Ini biasa terjadi di hutan pinus dan rawa gambut.

Penyebab kedua adalah melalui pencucian karena curah hujan yang berlebihan atau irigasi yang tidak ideal. Terlalu banyak air menjadikan nutrisi utama, seperti kalium, magnesium, dan kalsium, tercuci dari tanah. Padahal unsur-unsur tersebut berperan untuk mencegah tanah menjadi asam.

Penyebab ketiga  adalah penggunaan pupuk nitrogen dengan dosis berlebihan. Sebab Nitrogen biasanya berbasis amonia, yang bisa meningkatkan keasaman tanah .

Ada beberapa metode yang dapat anda gunakan untuk menguji keasaman tanah. Yang pertama adalah mengirim contoh tanah ke laboratorium, atau ke Mobil Uji Tanah (MUT) milik PT Petrokimia Gresik, dan minta mereka menganalisisnya untuk. Hasilnya tidak hanya memberi tahu berapa pH tanah anda, tetapi juga akan memberi tahu  tentang tingkat nutrisi tanah (dan kekurangannya).

Bisa juga anda membeli alat uji pH tanah yang banyak dujual di toko pertanian.  Atau jika Anda memiliki beberapa kertas lakmus, anda dapat mengambil sampel tanah, mencampurnya dengan air, dan celupkan kertas lakmus untuk menguji pH.

Ada juga tes yang sangat cepat dan sangat murah dengan hanya menggunakan  cuka  untuk mengetahui apakah tanah Anda asam atau tidak. Tempatkan segenggam tanah  yang akan diuji ke loyang. Tuangkan cuka pada tanah, jika berbusa maka tanah tersebut bersifat asam.

Jika tanah anda sudah terbukti memiliki pH rendah, maka langkah yang harus dilakukan adalah dengan memberikan kapur pertanian. Menurut GM Pemasaran dan Logistik PT Petrokimia Gresik (PG) Wismi Budiono, pihaknya memproduksi “Kapur Pertanian Kebomas”,  kapur pertanian yang bermanfaat untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.

“Kapur Pertanian Kebomas bermanfaat untuk menetralkan pH tanah, dan meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah, sehingga mudah diserap tanaman. Selain itu Kapur Pertanian Kebomas mampu meningkatkan populasi  dan aktivitas mikro organisme, yang sangat menguntungkan terhadap ketersediaan hara tanah,” ujarnya.

Yang tidak kalah pentingnya, lanjut Wismo, petani hendaknya mengaplikasikan pemupukan berimbang. Dengan pemupukan berimbang, terbukti bisa meningkatkan hasil panen hingga 10 persen. Sebab jika penggunaan pupuk urea (yang mengandung 46 persen nitrogen) secara berlebihan, selain tanah menjadi asam, tanaman juga rentan terhadap serangan hama dan penyakit. (SP)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *