Ketut Martin Menjadi Petani Durian Sukses Setelah Pulang ke Desa

Karena orang tuanya sudah tidak sanggup lagi membiayai, selepas SMP Ketut Martin tidak melanjutkan sekolahnya. Anak ke empat dari enam bersaudara itu pun kembali ke kebun dan sawah untuk membantu kedua orang tuanya. Meskipun memiliki lahan hampir satu hektar di daerah yang relatif subur, Desa Padang Bulia, Kecamatan Sukasada, Buleleng, hasil panen di lahan mereka tidak kunjung meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Bapak saya petani tradisional yang tidak begitu memahami bagaimana cara budidaya yang ideal. Hal ini lah yang menyebabkan hasil panen semakin menurun dan berimbas pada pendapatan keluarga. Saat itu saya juga belajar dari Bapak, dengan ilmu pertanian yang serba terbatas,” kisah Ketut Martin.

Tidak tahan hidup dalam kemiskinan di desanya, anak muda kelahiran 30 April 1991 itu merantau ke Denpasar. Dicobanya berbagai pekerjaan di ibu kota Provinsi Bali tersebut. Ternyata hidup di kota besar tidak membuatnya nyaman, meskipun mendapatkan gaji bulanan, tapi kehidupan di kota yang mahal, tidak bisa mengubah nasibnya. Ketut akhirnya memutuskan kembali ke desa.

“Saya kembali berkebun dan membantu orang tua menanam padi di sawah. Tapi saya lebih kerasan tinggal di desa, meskipun saat itu penghasilan masih tidak menentu. Di desa, kami bisa makan dari hasil bumi, dan tidak usah menyewa kamar kost,” ujarnya.

Dari hampir satu hektar lahan milik orang tuanya, setengahnya ditanami pohon durian. Ketut mengaku saat itu panen pohon duriannya tidak pernah memuaskan. Hasilnya dari musin ke musim terus memburuk.

“Sebelumnya sering terjadi busuk batang, dan buahnya rontok sebelum masak. Hingga akhirnya kami dibantu oleh Pak Gusti Susila (Staf Penjualan PT Petrokimia Gresik). Pak Gusti menyampaikan bahwa pohon-pohon durian kami harus dirawat dengan serius,” akunya.

Hal pertama yang dilakukan oleh Gusti Susila saat itu, kata Ketut, menyarankan untuk memberikan Petroganik, pupuk organik produksi PT Petrokimia Gresik (PG). Kemudian mereka dianjurkan untuk mengaplikasikan Petro Gladiator serbuk, dekomposter produksi PG. “Petro Gladiator kami taburkan di atas tumpukan daun-daun kering yang berserakan di bawah pohon,” terang Ketut,

Setelah mengaplikasikan dua produk PG tersebut, mereka disarankan lagi oleh Gusti Susila untuk memupuk dengan PHONSKA Plus, pupuk NPK dengan tambahan 2.000 ppm sink. “Pak Gusti juga melakukan pendampingan dalam pencegahan dan penaggulangan terhadap hama dan penyakit,” paparnya.

“Setelah berjalan selama 6 bulan, ternyata hasilnya di luar dugaan. Pada saat panen, selain jumlah buah semakin banyak, ukuran buah durian juga menjadi lebih besar, dagingnya semakin tebal, dan rasanya manis sekali. Rasanya baru kali ini pohon durian di lahan kami bisa mendapatkan panen yang seperti itu,” terang Ketut.

Dengan kualitas dan kuantitas panen yang meningkat, tentu saja berpengaruh pada nilai jualnya. Saat panen pertama semenjak mengaplikasikan Petroganik, Petro Gladiator, dan PHONSKA Plus, bapaknya mendapatkan untung lumayan besar. “Saat musim panen, satu pohon durian rata-rata bisa mencapai 20 buah siap petik, dengan bobot sekitar 7 kilogram per bijinya,” katanya.

Melihat hasil panen durian di lahan milik orang tuanya,  menjadikan Ketut Martin optimis, ternyata hidup di desa sebagai petani bisa menghasilkan uang lumayan besar.

Suami dari Nyoman Resminadi itu pun akhirnya total menekuni budidaya durian. Selain ke dua orang tuanya beranjak tua dan tenaganya tidak seperkasa dulu lagi, dia merasa bahwa pertanian adalah dunianya. “Dengan bekal ilmu yang saya dapatkan dari berbagai pihak, utamanya Pak Gusti Susila dalam hal perawatan tanaman, saya pun mulai serius bertani,” ungkapnya.

Dengan kerja keras dilambari dengan ilmu pertanian yang didapat, hasil penen duriannya semakin bagus. Tidak hanya itu, dia menyewa kebun durian milik tetangganya yang kondisinya mengenaskan. Oleh Ketut Martini pohon-pohin durian itu dipelihara dengan telaten, sehingga hasil panennya meningkat.

“Ketika hasil panen bagus, permintaan terus meningkat. Saya tidak hanya melayani pasar di Buleleng saja, tapi juga pembeli dari kabupaten-kabupaten lain di Bali. Bahkan saya juga mengirim hingga Surabaya dan Jakarta,” tegasnya. Durian dari lahan yang dikelolanya berhasil menembus pasar swalayan besar di Denpasar, Surabaya, dan Jakarta.

Keuntungan dari hasil usahataninya, disisihkan untuk tambahan modal, dan membeli kendaraan bak terbuka. Selain itu, Ketut Martini juga bisa membangun rumah sendiri. Ke depan dia berencana akan mengembangkan usaha taninya, dengan menambah luas lahan durian yang disewa, dan memperluas jaringan pemasaran di Indonesia. (Made Wirya / Fanlex  Ardi)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *