Dengan PHONSKA Plus dan Petro-Cas, Panen Sawit di Lahan Gambut Milik Agra Meningkat Signifikan

Setelah lulus dari  SMA di Blitar tahun 2004, Cahaya Diarga Bahari menyusul bapaknya ke Kabupaten Siak, Riau, untuk membantu mengelola kios pertanian.  Sudah sudah cukup lama bapaknya memiliki kios pertanian, yang menjadi penyalur resmi pupuk bersubsidi PT Petrokimia Gresik. Lelaki yang akrab dipanggil Arga tersebut, kemudian melanjutkan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi swasta di Riau

“Tahun 2014 ayah  membeli lahan sawit seluas 2 hektar, jenis tanahnya gambut dengan kondisi yang tidak sehat. Hal ini berpengaruh pada pertumbuhan sawit,  janur (daun muda) yang baru muncul pun sudah menguning. Dengan kondisi demikian, panen yang kami dapat hanya sekitar 600 kg. Tentu saja ini hasil panen yang jauh dari ideal,” kisahnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, langkah awal yang mereka lakukan adalah memadatkan tanah gambut agar akar sawit dapat menyentuh media hidupnya. Langkah berikutnya, mereka  membuat sekat kanal agar kedalaman air dapat di kontrol 70 sentimeter. Selain itu Agra dan bapaknya mengaplikasikan kapur pertanian dengan dosis 3 kilogram per batang.

“Sebelum pemerintah mencanangkan restorasi gambut,  saya bersama ayah telah melakukannya terlebih dahulu,” akunya

Dua bulan kemudian, mereka  kembali mengaplikasikan kapur pertanian dengan dosis yang sama. Pemupukan dengan NPK sebanyak 0,5 kilogram per batang dilakukan 3 bulan kemudian. “Langkah yang kami lakukan membuahkan hasil, dalam tempo 2 tahun hasil panen meningkat menjadi 1,6 ton setiap panen, atau 3,2 ton per bulan,” ungkap lelaki yang lahir pada 30 Mei 1986 itu.

Agra mengungkapkan, sejak tahun 2017 mereka mengaplikasikan  PHONSKA Plus, pupuk NPK dengan tambahan 2.000 ppm zink, produksi PT Petrokimia Gresik (PG). Selain itu,  lahan mereka juga diberi Petro-Cas, kalsium sulfat yang juga diproduksi PG.

“Dalam tempo 3 bulan terjadi perubahan signifikan.  Perto-Cas menjadikan akar sawit menjadi kuat, besar, dan tumbuh memanjang. PHONSKA Plus dengan dosis 0,5 kilogram per batang, saya aplikasikan 3 bulan kemudian. Pada pemupukan berikutnya, dosis PHONSKA Plus saya tambah menjadi 1 kilogram per batang,” paparnya.

Dengan perlakuan tersebut, tahun 2018 ini  sawit di lahan mereka telah berproduksi sebanyak 3,2 ton – 3,6ton setiap panen,  atau 6,2 ton – 7,2 ton per bulan. Menurut suami dari Retro Susilo itu, pada saat harga sawit mencapai Rp. 1. 600 per kilogram, dalam 1 bulan mereka mendapat penghasilan lebih kurang Rp 7.740.000 perbulan.

“Namun tentu saja pendapatan kami juga  tergantung dengan harga TBS (tandan buah segar) saat penjualan. Tapi yang mau saya sampaikan adalah peran Petro-Cas dan PHONSKA  Plus dalam budidaya sawit di lahan gambut . Dua produk tersebut terbukti dapat meningkatkan hasil panen dengan signfikan,” jelas bapak satu anak ini.

Selain membudidayakan sawit, Agra juga menjadi guru di madrasah tsnawiyah di dekat tempat tinggalnya, Kuala Gasib, Kecamatan Koto Gasib, Siak. Keberhasilan mengelola lahan gambut kurang subur menjadi lahan sawit yang produktif, mendorongnya untuk membeli lahan serupa.

“Harga lahan gambut yang kurang subur, tidak begitu mahal. Kedepannya apabila ada rejeki sepertinya lumayan  juga membeli sawit di lahan gambut,” pungkasnya. (Made Wirya / Gigih Sumardiyono)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *