Sekilas tentang Permakultur

Bisa jadi tidak banyak orang Indonesia yang mengetahui apa itu permakultur (permaculture). Sebuah metode pertanian yang dirancang untuk meniru pola dan hubungan-hubungan yang ada di alam. Dari hubungan-hibungan tersebut akan menghasilkan makanan, serat dan energi yang banyak untuk masyarakat yang ada disekitarnya.

Hal tersebut diungkapkan oleh David Holmgren, yang bersama-sama dengan Bill Mollison mengenalkan permakultur kepada masyarakat Tazmania, Australia. Metode permakultur pertama kali mereka sampaikan melalui artikel yang mereka tulis tahun 1976, pada sebuah media yang diterbitkan oleh masyarakat pertanian dan perkebunan organik Tasmania.

Metode permakultur menggabungkan beberapa  disiplin ilmu, seperti pertanian, arsitektur, dan ilmu sosial, sehingga menjadi satu sistem terpadu. Banyak gagasan awal dalam permakultur yang sekarang banyak dipraktekkan, seperti proses pembuatan kompos, taman vertikal, penggunaan mulsa, penampungan air hujan dengan tanah lembab, dan aquaponic. Metode tersebut kemudian menyebar ke berbagai negara, seperti Kanada, Portugal, Turki,  Amerika Serikat, dan Indonesia.

Di dalam permakultur aspek etika budidaya pertanian menjadi suatu hal yang fundamental. Etika budidaya diterapkan sebagai pedoman di dalam setiap kegiatan budidaya yang dilakukan. Etika yang diterapkan pada permakultur didasarkan pada tiga hal: peduli pada bumu, peduli pada manusia, dan semangat berbagi dengan adil.

Menurut R. J. Bambrey dalam artikelnya yang berjudul  “Permaculture. What’s That?”  (Country Smallholding Magazine, April 2006), dengan mengadopsi etika dan menerapkan prinsip-prinsip permakultur dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melakukan transisi. Dari manusia yang menjadi konsumen  menjadi produsen yang bertanggung jawab. Perjalanan ini membangun keterampilan dan ketahanan di rumah dan di komunitas lokal yang akan membantu mempersiapkan masa depan yang tidak pasti dengan energi yang lebih sedikit.

Teknik dan strategi yang digunakan untuk menerapkan prinsip-prinsip ini, ungkap Bambrey, sangat bervariasi tergantung pada lokasi, kondisi iklim, dan sumber daya yang tersedia. Metodenya mungkin berbeda, tetapi dasar dari pendekatan menyeluruh ini tetap konstan. Dengan mempelajari prinsip-prinsip ini, Anda dapat memperoleh alat berpikir berharga yang membantu Anda menjadi lebih tangguh dalam era perubahan.

“Etika perawatan bumi, kepedulian masyarakat, dan pembagian yang adil membentuk dasar bagi desain permakultur dan juga ditemukan di sebagian besar masyarakat tradisional. Etika adalah mekanisme yang dikembangkan secara budaya yang mengatur kepentingan diri sendiri, memberi kita pemahaman yang lebih baik tentang hasil yang baik dan buruk,” katanya.

Lebih lanjut Bambrey menyampaikan, semakin besar kekuatan manusia, semakin penting etika untuk kelangsungan hidup budaya dan biologis jangka panjang. Etika permakultur disaring dari penelitian ke dalam etika komunitas, belajar dari budaya yang telah ada dalam keseimbangan relatif dengan lingkungan mereka selama lebih lama daripada peradaban yang lebih baru.

“Ini tidak berarti bahwa kita harus mengabaikan ajaran agung zaman modern, tetapi dalam transisi ke masa depan yang berkelanjutan, kita perlu mempertimbangkan nilai dan konsep di luar norma sosial saat ini. Klik pada masing-masing ikon di atas untuk mempelajari lebih lanjut tentang masing-masing etika,” pungkasnya. (SP)

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *