Bagaimana Tiongkok Menyediakan Makanan Berkualitas untuk Penduduknya

Menyediakan makanan berkualitas dengan biaya terjangkau, menjadi salah satu masalah paling menantang di Tiongkok. Kontrol kualitas yang longgar, jalan pintas produksi, urbanisasi, dan meningkatnya pengeluaran konsumen semuanya bergabung untuk menyoroti rantai pasokan makanan Tiongkok. Hal tersebut menciptakan masalah – tetapi juga peluang – bagi perusahaan internasional yang melakukan bisnis di negara tersebut.

Mari kita mulai dengan banyaknya makanan yang dibutuhkan negara untuk memberi makan penduduknya. Pada tahun 1978, Tiongkok memulai kebijakan untuk mencapai swasembada pangan. Ketika program reformasi ekonomi negara mulai memegang kendali dan produktivitas di sektor pertanian meningkat, Tiongkok berhasil mencapai tujuan ini pada akhir abad 20. Faktanya, Tiongkok mengejutkan banyak pengamat ketika negara itu menjadi pengekspor produk pertanian pada tahun 2002, tahun pertama sebagai anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Namun, banyak hal telah berubah sejak saat itu. Pada 2012, WTO mengatakan bahwa Tiongkok telah melampaui Amerika Serikat untuk menjadi importir produk pertanian terbesar di dunia. Bahkan dengan 500 juta petani, Tiongkok tidak mampu memenuhi permintaan negara akan biji-bijian, kacang kedelai dan komoditas lainnya. Dan itu akan menjadi lebih buruk.

Pada bulan Januari, Chen Xiwen, Direktur Badan Pembuat Kebijakan Utama Partai Komunis Tiongkok untuk urusan pedesaan, mengatakan bahwa Tiongkok telah memutuskan untuk berhenti mengejar  swasembada pangan. Chen mengatakan bahwa pasokan makanan menurun ketika pendapatan meningkat. Dia mengakui bahwa Tiongkok tidak dapat “membalikkan waktu” ketika harus  impor bahan makanan. Presiden Xi Jinping pernah mengatakan kepada sekelompok pemimpin asing dan pengusaha bahwa impor komoditas, barang, dan jasa negaranya akan mencapai nilai $ 10 triliun per tahun dalam lima tahun ke depan, naik dari $ 1,8 triliun pada 2012.

Meningkatnya pendapatan dan konsumsi adalah bagian dari alasan mengapa Tiongkok sekarang menjadi importir produk pertanian. Lainnya adalah urbanisasi. Dalam gerakan urbanisasi terbesar yang pernah ada di dunia, sekitar 260 juta petani telah pindah ke kota-kota sejak 1978, dan 260 juta lainnya diperkirakan akan pindah dari pertanian di tahun-tahun mendatang.

Minggu ini, Yum Brand, Inc. (operator rantai makanan cepat saji KFC dan Pizza Hut yang berbasis di Kentucky) melaporkan penurunan 26 persen dalam pendapatan kuartal pertama, karena kekhawatiran keamanan pangan terus melukai bisnis Tiongkok. Tuduhan Yum telah menyuntikkan ayam dengan obat antivirus dan hormon pertumbuhan di luar batas keamanan makanan, pada bulan Desember 2012, menyebabkan beberapa pelanggan menyerukan untuk memboikot restoran perusahaan tersebut. Menurut Yum. wabah flu burung  kemungkinan menyebabkan penurunan 30 persen dalam penjualan toko yang sama di bulan April 2013. Hingga Selasa, sudah ada 108 kasus dan 22 kematian akibat flu baru, yang kini telah menyebar ke Taiwan.

Pada awal April 2013, dilaporkan bahwa 292 anak-anak di kota Ziyang, di Provinsi Sichuan, Cina Barat Daya, dikirim ke rumah sakit setelah makan makanan yang terkontaminasi di kantin sekolah mereka dan menunjukkan gejala diare, termasuk demam dan muntah. Dalam beberapa pekan terakhir, ikan mati dan babi mati yang ditemukan di sungai dekat Shanghai telah memicu kekhawatiran akan keselamatan.

Kekhawatiran tentang keamanan makanan telah menyebabkan konsumen di Tiongkok menjadi lebih berhati-hati tentang apa yang mereka makan dan dari mana asalnya. Pada bulan Januari 2013, “Prinsip Label Nutrisi Pengemasan” pertama di Cina didirikan, memberikan informasi nutrisi makanan standar bagi konsumen. Carrefour, raksasa ritel Perancis yang sekarang memiliki 200 toko di 60 kota di seluruh Tiongkok, meluncurkan apa yang disebutnya “Kegiatan Promosi Pengetahuan Nutrisi” di Beijing pada awal Maret 2013 untuk memberikan transparansi makanan kepada pelanggan Tiongkok.

Kekawatiran terhadap buruknya kualitas susu formula bayi, menyebabkan penduduk Tiongkok telah beralih ke impor. Faktanya, permintaan susu formula impor di Tiongkok sangat besar. Sehingga Hong Kong mengesahkan amandemen peraturan ekspor untuk mencegah masuknya pedagang yang membeli susu bubuk di Hong Kong dan menjualnya kembali ke wilayah lain di Tiongkok untuk mendapat untung.  Di bawah amandemen tersebut, seseorang hanya dapat membawa dua kaleng, atau 1,8 kilogram, susu formula keluar dari Hong Kong, dan orang tersebut harus berusia setidaknya 16 tahun. Pelanggar menghadapi denda hingga HK $ 500.000 ($ 64.500) dan dua tahun penjara.

Kelas menengah Tiongkok semakin beralih ke produk impor di semua kategori makanan, bukan hanya susu. Di situs e-commerce Wal-Mart China, penjualan produk impor meningkat lima kali lipat pada 2012. Sementara makanan impor dulunya langka dan mahal, lonjakan harga komoditas domestik baru-baru ini, didorong oleh inflasi dan biaya yang lebih tinggi, telah membuat produk makanan asing lebih terjangkau. Selain itu, upaya pemerintah untuk menurunkan tarif makanan impor juga membuat barang-barang seperti itu lebih mudah diakses oleh konsumen Tiongkok. Hal tersebut disampaikan oleh Zhao Ping, Wakil Direktur Departemen Ekonomi Konsumen di Akademi Perdagangan Internasional Tiongkok dan Kerjasama Ekonomi Kementerian Perdagangan.

Dalam konteks ini, investor tidak akan mengalami kesulitan mengidentifikasi penerima manfaat dari tantangan pangan yang dihadapi di Tiongkok saat itu. Sebagai contoh, pengecer internasional seperti Carrefour dan Wal-Mart harus mendapat manfaat karena konsumen memberikan harga yang lebih tinggi pada keandalan makanan yang mereka beli.

Demikian juga, perusahaan makanan internasional akan menemukan permintaan yang meningkat di Tiongkok untuk produk mereka, pada saat yang sama tarif impor dan hambatan sedang mereda. Petani Amerika akan mendapat manfaat dari peningkatan impor makanan Tiongkok, seperti halnya perusahaan dengan produk, layanan, dan sistem manajemen yang dapat meningkatkan produktivitas sektor pertanian Tiongkok. Pasar yang besar dan terus berkembang untuk produk-produk makanan yang aman dan andal di Tiongkok,  menjadi peluang emas bagi perusahaan internasional. (Artikel ditulis oleh Jack Perkowski dan pernah dimuat di  www.forbes.com tanggal 25 April 2013 / foto: S. Lula)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *