Menikmati Menjadi Petani, Arwen Tak Lagi Ingin Merantau ke Kota Besar

Dijumpai di lahan yang dikelolanya, Arwen (39) terlihat sibuk memangkas rerumputan yang tumbuh di pematang sawah. Keringat meleleh di kening dan tengkuknya, baju sisi belakangnya basah. Sementara itu Nita, istrinya yang sudah memberikan satu anak, terlihat membuka bekal makan siang di dangau yang terletak tidak jauh dari tempatnya beraktivitas.

“Untuk persiapan panen bersama besok tanggal 10 Januari, berbarengan dengan ulang tahun saya. Saya dengar ada beberapa pejabat dari kabupaten yang hadir,” katanya sambil mengusap keringat di pipinya dengan punggung tangan. Sebentar kemudian  rumput yang menggunung itu itu dibawanya naik ke hamparan tanah di atas lahannya.

Hamparan sawah yang terletak di Nagari Parambahan, Kecamatan Limo Kaum, Tanah Datar itu terlihat menguning siap untuk dipanen. Bulir padinya terlihat bernas dengan daun bendera masih terlihat hijau dan berdiri tegak. Pertanda pertumbuhan padinya nyaris ideal. Arwen dan istrinya patut gembira melihat pertumbuhan padinya yang demikian bagus. Dia membayangkan akan memperoleh keuntungan yang lumayan banyak saat dijual nanti.

Lahan seluas lebih kurang satu hektar yang dikelolanya itu sebagian besar ditanami padi, selebihnya digunakan untuk membudidayakan cabai merah dan tomat. “Saya amati sejak pemupukan ke dua, pertumbuhan padi menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan musim tanam sebelumnya,” ujar Arwen.

Lelaki yang pernah merantau ke Jakarta dan Lampung untuk berdagang selama 6 tahun itu menyampaikan keyakinannya bahwa hasil panen kali ini akan lebih tinggi dari sebelumnya. Jika sebelumnya dia mengaku hanya mendapatkan 4,5 ton hingga 5 ton per hektar, kali ini diperkirakan akan panen sekitar 7 atau bisa 7,5 ton per hektar.

Hal ini tak lepas dari pengawalan yang dilakukan oleh Yulianti, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Nagari Parambahan. Pengawalan dimulai dari olah lahan, pemupukan, pengendalian hama, hingga menjelang panen. “Lahan milik Pak Arwen ini merupakan program demplot, hasil kerjasama  PT Petrokimia Gresik dan CV Bungo Padi,” terang Yulianti.

Yulianti mengungkapkan, untuk pemupukan mengaplikasikan 500 kg Petroganik, 300 kilogram PHONSKA Plus, dan 200 kilogram Urea. Dengan pemupukan berimbang, terangnya, tentu saja ada peningkatan panen di lahan tersebut, lebih-lebih dengan adanya PHONSKA Plus yang mengandung zink.

“Memang ada serangan hama blast pada saat padi menjelang bunting, tapi segera kami atasi dengan menyemprotkan pestisida, sehingga tidak meluas. Dengan cara tanam jajar legowo, selain pertumbuhan padi menjadi lebih bagus, blast juga tidak mudah menyebar,” paparnya.

Melihat usaha pertaniannya semakin tahun semakin bagus, Arwen tak hendak pergi merantau keluar tanah kelahirannya. Menurutnya hasil dari bertani meskipun didapatnya setiap 3 bulan sekali, hasilnya relatif lebih besar dibanding ketika dia merantau.

“Hidup di rantau utamanya di kota besar seperti Jakarta memang keras, biaya hidup juga mahal. Belum lagi memikirkan biaya mudik jika lebaran atau ada hajatan di kampung halaman. Jika hidup di kampung, biayanya lebih irit, sayur dan beras kami tanam sendiri, tidak harus beli. Hidup juga lebih tenang karena dekat dengan orang tua, sanak-saudara, dan kerabat,” terangnya.

Yang diharapkan Arwen dan istrinya adalah stabilnya harga komoditas pertanian. Dengan demikian ketika panen harganya bagus dan mereka mendapatkan untung untuk membiayai hidup keluarga mereka. “Jika uang sudah terkumpul saya juga ingin membeli tanah. Tidak lagi mengerjakan lahan milik orang lain,” ujarnya sambil menyantap makanan yang dibawa istrinya. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *