Tongkang, Alat Perontok Padi dari Tanah Datar

Dua belas buruh tani terlihat beraktivitas di lahan seluas hampir satu hektar yang terletak di nagari Parambahan, Kecamatan Lima Kaum, Tanah Datar. Mereka melakukan pemanenan padi di sawah yang sudah 3 musim tanam ini dikelola Arwen (49).

Tidak seperti panen sebelumnya, kali ini alam bermurah hati pada bapak satu anak itu. Melihat pertumbuhan padi dari mulai ‘bunting’ hingga menjelang panen, Arwen sudah bisa menduga akan terjadi peningkatan panen yang cukup signifikan. “Untuk musim tanam kali ini saya mengalikasikan PHONSKA Plus dan Petroganik,” akunya.

Sementara Arwen sibuk mempersiapkan seremonial panen  yang akan dihadiri Wakil Bupati Tanah Datar Zuldafri Darma, belasan buruh tani itu cekatan melakukan tugas mereka masing-masing. Beberapa orang menyabit batang padi, dukumpulkan di satu tempat, kemudian buruh lainnya mengambil seikat besar batang padi itu, kemudian di bawa ke tongkang.

Jangan membayangkan mereka memasukkan ke kapal terbuat dari besi dengan lambung datar yang digunakan untuk mengangkut barang dan ditarik dengan kapal tunda. Tongkang yang ini terbuat dari kayu, ukurannya juga kecil. Agar rontokan padi tidak banyak yang terbuang, alat ini dilengkapi dengan pelindung berbentuk mirip layar.

Menurut Ujang (45) salah satu buruh tani yang juga piawai membuat tongkang, alat perontok ini banyak digunakan oleh petani di Tanah Datar. Sekilas memang bentuknya mirip perahu layar, berbentuk cembung, dengan dimensi sisi bawa lebih sempit dibanding  atas.

“Semua tongkang di daerah sini ukurannya hampir sama. Sisi atas 120 x 50 sentimeter, pada bagian yang cembung lebarnya 60 sentimeter. Untuk  sisi bawah 100 x 40 sentimeter, bagian cembungnya selebar 50 sentimeter. Total tinggi tongkang rata-rata 50 sentimeter,” jelas Ujang.

Dibagian bawah ada dua balok kayu membujur dengan dimensi 5 x 10 sentimeter, bentuknya mirip kaki-kaki kereta salju. Ujang menjelaskan balok kayu melintang tersebut gunanya untuk memudahkan pemindahan tongkang, mendekati lokasi padi yang belum dipanen di area yang sama.

Untuk ‘layar’, kata Ujang, dibuat dari bahan terplas, lembaran anyaman plastik yang biasanya digunakan untuk melindungi pupuk atau semen di gudang terbuka. Pelindung bulir padi agar tidak banyak yang keluar dari tongkang tersebut, berukuran 3 x 3 meter.

Lembaran terplas ini diletakkan mengelilingi  tiga sisi pinggiran tongkang. Bulir padi yang akan dirontokkan dipukulkan ke anak tongkang, berbentuk mirip tangga dengan sirip-sirip yang cukup rapat. Jumlah siripnya antara 9 hingga 10 lembar.

“Tongkang dibuat dari kayu surian, tanaman keras yang kemungkinan hanya tumbuh di Tanah Datar. Tapi mungkin  pohon ini ada juga di kabupaten lain di Sumatera Barat. Saya tidak tahu. Kayu surian lumayan kuat, dan ada motifnya, ya seperti kayu jati lah jika di Jawa,” paparnya.

Ujang menyampaikan, batang kayu surian yang layak digunakan sebagai bahan tongkang, yang sudah berdiameter minimal 30 sentimeter. “Diameter lebih besar lebih bagus lagi, karena akan lebih keras dan lebih awet. Dulu ketika awal-awal membuat tongkang, masih banyak pohon surian yang berdiameter hingga 1 meter. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Paling besar yang pernah saya dapat hanya 40 sentimeter,” terang Ujang.

Terhitung sudah puluhan tahun Ujang membuat tongkang. Lalaki yang hampir seluruh rambutnya beruban itu tidak ingat lagi berapa tongkang yang telah dibuatnya. Butuh empat hari untuk membuat satu tongkang. Bahannya didapat dari tukang tebang atau toko bangunan. Setelah jadi, tongkang tersebut dijualnya dengan harga sekitar Rp 1 juta.  Satu tongkang bisa memuat lebih dari dua kwintal gabah. “Dengan bahan kayu surian yang bagus, umur tongkang bisa mencapai 7 tahun, bahkan lebih,” terangnya.

Asnibar (48), salah satu buruh tani yang ikut memanen di lahan tersebut menyampaikan, untuk luas lahan satu hektar biasanya disiapkan 3 tongkang. Masing-masing tongkang dioperasikan oleh 4 orang, dengan tugas masing-masing. Ada buruh yang memanen, mengangkut, dan merontokkan. “Untuk luas 1 hektar, jika cuaca bagus, tidak hujan, sehari bisa selesai. Kami dapat upah Rp. 100 ribu tiap orangnya,” katanya.

Tidak semua petani memiliki tongkang sendiri, biasanya mereka menyewa dari petani lain. Sewanya tidak mahal hanya Rp. 20 ribu per hari. “Kadang jika yang punya teman akrab, paling diberi sebungkus rokok. Atau bahkan digratiskan,” kata Asnibar. (Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *