Menjadi Petani Milenial yang Mampu Menambah Nilai Jual Produk yang Dihasilkan

sahabatpetani.com – Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki potensi pertanian yang luar biasa. Negeri jamrud khatulistiwa ini memiliki hamparan lahan yang subur, dan berbagai komoditas pertanian yang bisa dibudidayakan dengan baik. Lihat saja hasil bumi dari Aceh hingga Papua, tidak sedikit di antaranya yang sudah diekspor ke berbagai negara. Melihat potensi pertanian tersebut,  kenapa jumlah keluarga petani usia muda masih relatif sedikit, dibandingkan dengan keluarga petani usia tua?

Dari hasil Survey Pertanian antar Sensus (SUTAS) 2018 dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah rumah tangga usaha pertanian (RTUP) tahun 2018 dengan usia di bawah 25 tahun hanya sebesar  191 ribu. Sedangkan RTUP dengan usia 45 – 54 tahun, sebanyak 7 841,  355. Disusul kemudian oleh RTUP usia 35 – 44 sebanyak 6.548.105, dan RTUP usia 55 – 67 sebanyak 6.256.083.

Yang mengejutkan adalah jumlah RTUP dengan umur di atas 65 tahun, jumlahnya masih relatif banyak,  4.123. 128. Sampai berapa lamakah RTUP usia lanjut bisa bertahan, sedangkan jumlah RTUP usia muda di negeri ini masih sedikit? Akan kah jumlah RTUP usia muda akan terus bertambah pada masa yang akan datang? Masih menarik kah usaha pertanian bagi generasi milenial? Apa yang harus dilaukan agar usaha pertanian menarik bagi generasi muda?

Apa yang disampaikan praktisi pertanian Indonesia pada acara “Spirit Of Millennials: Green Festival 2019” di JCC, Jakarta, pada Kamis (31/1), bisa jadi menjawab pertanyaan-pertanyaan cerewet tersebut. Dalam sesi talk show, Helianti Hilman, pemilik Javara Indonesia, bercerita tentang bagaimana upayanya dalam meningkatkan nilai jual produk-produk pertanian.  Strateginya untuk meningkatkan nilai jual tersebut, dengan memberikan cerita di setiap produk dan menjual petani sebagai seorang seniman pangan.

“Javara Indonesia mendirikan Sekolah Seniman Pangan. Kenapa dinamakan Sekolah Seniman Pangan, karena orang menanam harus pakai hati, sehingga bisa menghasilkan produk terbaik. Kenapa harus jadi seniman pangan? Agar usaha pertanian yang dilakukan tidak harus dalam skala besar, tapi bagaimana menambahkan nilai terhadap produk pangan sehingga harganya naik,” ujarnya.

Sebagai contoh, lanjut Helianti, kopi Robusta Flores, dari harga Rp. 25.000 per kg, dengan pengolahan yang benar dan ditambah dengan cerita tentang proses, keunikan, dan asal daerah, sekarang bisa dijual sampai Rp. 300.000 per kg.

“Indonesia itu cantik, jadi produk-produk pangan Indonesia harus dikemas dengan cantik pula. Sekolah Seniman Pangan mengajarkan bagaimana menciptakan  produk yang diminati oleh pasar, utamanya pasar menengah-atas dan pasar dunia. “Create product is something, create winning product is another thing,” tegasnya.

Lebih lanjut Helianti menyampaikan bahwa petani hendaknya menciptakan produk yang berorientasi pasar, mengolahan produk lokal yang menyesuaikan selera pasar. Di Sekolah Seniman Pangan juga ada pendidikan untuk pariwisata, karena pertanian juga bisa dijual dari sisi pariwisatanya.

Hal senada didampaikan Ferinandus, pemuda dari Desa Detosuko, Ende, NTT. Setelah menyelesaikan S2 Jurusan Eco Tourism, di Universitas Miami, Florida, USA, dia memilih untuk kembali ke kampung halamannya. Keputusan ini diambil karena dia melihat saat ini di kampungnya banyak kehilangan budaya, salah satunya dikarenakan mulai hilangnya pangan-pangan lokal.

“Di daerah kami 90 persen ritual budaya lokal  menggunakan pangan, jadi pangan adalah identitas budaya, sehingga kalau pangan hilang, maka budaya akan hilang. Saat ini saya fokus untuk mengembangkan pangan-pangan lokal, seperti jewawut, sorgum, dan sambal khas Ende,” ungkapnya.

Setelah bertemu dgn Helianti Hilman, Ferinandus mengaku produk-produk yg dihasilkan semakin berkembang, khususnya dalam hal nilai produk. Dia menyarankan kepada generasi milenial, agar pulang  ke desa, untuk mengidentifikasi potensi pangan lokal, mengembangkan produknya, kemudian mengembangkan pasarnya.

“Selain itu saya juga menjual budaya petani melalui Detusoko Eco Tourism, paket wisata yang menawarkan bagaimana jadi petani Ende. Para wisatawan akan merasakan bagaimana tinggal di rumah petani lokal, melakukan aktivitas budidaya, dan mengolah hasil panen,” paparnya.

Pembicara lainnya, Abyatar, pendiri Adena Coffe Indonesia, alumni Sosiologi UGM dan S2 Pariwisata dari Universitas Frisian di Belanda. Dia bercerita, ketika berkunjung ke Kampung Kenawat, Gayo, Aceh, merasakan ada yang terputus dalam rantai tataniaga pertanian, dimana petani tidak bisa menjual produk kopinya secara layak karena akses pasar yg terbatas.

“Melihat masalah itu, saya berpikir untuk menciptakan jembatan antara petani dan pelaku usaha cafe kopi, dengan menampung kopi dari petani kemudian menjadi pemasok cafe kopi. Saat ini Adena Coffe Indonesia sudah bekerja sama dengan 2.000 orang petani dari seluruh Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Andro Tunggul Namureta, salah satu praktisi budidaya hidroponik sukses di Indonesia, melihat pertanian sebagai peluang usaha yang potensial. Dia mengemukakan alasan kenapa memulai dengan usaha budidaya hidroponik, karena keluarganya berumah di  perkotaan dengan lahan pertanian terbatas.

“Produktivitas per luas areal untuk hidroponik lebih tinggi dibandingkan budidaya konvensional. Saat ini saya juga sudah mulai mengembangkan pariwisata di lahan hidroponik, dan mulai mengembangkan komunitas petani sekitar melalui pelatihan hidroponik,” ungkapnya. (Bayu Kristianto / Editor Made Wirya)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *