Pertanian, Salah Satu Anasir yang Membangun Peradaban Mesopotamia Kuno

sahabatpetani.com – Mesopotamia adalah daerah kuno di Timur Tengah, yang saat ini, sebagian besar terletak di negara Irak. Kata Mesopotamia berasal dari bahasa Yunani yang berarti “antara dua sungai”. Karena weilayah ini terletak di antara sungai Tigris dan Eufrat. Oleh sejarawan, wilayah tersebut kemudian dikenal sebagai Bulan Sabit Subur, karena tanahnya baik untuk pertanian

Mesopotamia memiliki banyak budaya dan masyarakat yang berbeda, dan  dikenal sebagai “tempat lahirnya peradaban”. Sebutan tersebut diberikan karena  penemuan tulisan, roda, peternakan hewan, pertanian, peralatan, senjata, kereta, anggur, bir dan perahu layar.

Para arkeolog telah menemukan permukiman di Mesopotamia yang diperkirakan dibangun pada  10.000 SM. Hal ini menunjukkan bahawa di wilayah yang dekat dengan sungau Tigris dan Eufrat,  merupakan daerah subur, yang  memungkinkan orang untuk menetap dan mulai bertani. Kemudian diikuti oleh perdagangan,  tumbuhnya permukiman, hingga  menjadi kota pertama.

Tapi kesuburan tanah di Mesopotamia terganggu banjir  ketika curah hujan tinggi. Banjir tersebut karena adanya air  bah yang meluap dari sungai Tigris dan Eufrat. Banjir membuat tanah pertanian di wilayah itu menjadi rusak.

Petani harus menemukan cara untuk mendapatkan pasokan air yang konsisten untuk tanaman mereka. Sebab banjir terkadang menyebabkan sungai mengubah arah. Banyak masalah terjadi pada lahan pertanian, ketika sungai berubah arah. Salah satu cara mereka untuk mengatasi hal tersebut adalah melalui pengembangan sistem pengendalian aliran sungai.

Para penguasa saat itu akhirnya membangun kanal dan saluran irigasi, agar air bisa dialirkan ke ladang. Untuk menaikkan dan menurunkan level air di kanal dan parit sehingga air dapat digunakan oleh petani, dibuatlah regulator. Selama musim tanam, setiap petani hanya diberi air dalam jumlah tertentu.

Irigasi Mesopotamia

Ketika tiba giliran petani untuk mengairi ladangnya, regulator disesuaikan sehingga air mengalir dari kanal ke saluran irigasi yang mengalir di sepanjang ladang petani. Sehingga petani  bisa menyirami ladangnya.  Lumpur yang tersisa dari banjir sungai-sungai tersebut, membuat tanah menjadi subur.

Dengan adanya pertanian, persediaan gandum, buah, sayuran, dan hewan pekarangan untuk penduduk Mesopotamia tercukupi. Kesejahteraan petani semakin meningkat, ditandai dengan banyaknya pembangunan rumah bata.

Tanaman Mesopotamia Kuno

Bangsa Sumeria, salah satu bangsa yang hidup di Mesopotamia selain Babilonia,  memiliki buku pegangan yang memberi tahu banyak cara menanam tanaman. Di Mesopotamia kuno, gandum dan jelai adalah tanaman yang paling penting ditanam oleh bangsa Sumeria.

Pohon rindang melindungi pohon dari angin kencang dan dari sinar matahari. Beberapa buah yang mereka tanam adalah kurma, anggur, ara, melon, dan apel. Sayuran favorit yang mereka tanam adalah terong.

Mereka menanam sayuran seperti bawang, lobak, kacang, dan selada. Petani mengairi lahan dan mulai menanam gandum, barley, millet, kacang, dan biji wijen. Mereka menggunakan tombak untuk berburu, menangkap ikan dengan jaring, dan berburu burung dengan tembakan sling dan panah. Orang Sumeria mendapat makanan dari rawa dan sungai terdekat. Wilayah Mesopotamia lambat-laun menjadi menjadi lahan pertanian yang sangat kaya.

Para petani Mesopotamia kuno bahkan menggunakan hasil panen mereka sebagai media perdagangan. Mereka juga berdagang dupa dan kayu. Bisa dikatakan, pertanian di Mesopotamia kuno adalah kontributor besar terhadap perkembangan Mesopotamia sebagai sebuah peradaban. (Sumber artikel dan foto:  http://ancientmesopotamians.com  dan www.dvusd.org )

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *