Seperti Manusia,Tanaman Juga Punya Perasaan

sahabatpetani.com – Manusia memiliki lima indera; indra perasa, peraba, penglihatan, pendengaran dan indra penciuman. Indra perasa membantu manusia menavigasi dunia dan bertindak sebagai tanda peringatan bahaya. Manusia menggunakan indra tersebut untuk membuat keputusan sehari-hari; misalnya, ketika hujan mulai turun, mereka membuka payung, dan ketika panas melepas jaket.

Seperti halnya manusia, tanaman juga memiliki indra yang menjadi sistem sensorik, meskipun tampak pasif. Indra tersebut dirancang untuk menanggapi bahaya atau perubahan lain di lingkungan tempat tanaman tersebut hidup.

Tanaman mungkin tidak memiliki mata, telinga atau lidah, tetapi kulit mereka dapat melakukan berbagai fungsi yang sama dengan indra yang dimiliki manusia. Tanaman tidak hanya sadar ketika hujan atau berangin, tetapi mereka juga bisa merespons kondisi tersebut.

Salah satu ilmuwan yang mempelajari tentang dunia indra tanaman adalah Dr. Kim Johnson. Dia adalah  seorang peneliti dari  School of BioSciences, University of Melbourne. Menurut Dr. Johnson, tanaman terus-menerus berada dalam kondisi di bawah tekanan lingkungan. Manusia dapat melihat bagaimana tanaman merespons tekanan fisik tersebut dengan cara mengubah bentuknya.

“Jadi jika tanaman terus-menerus dihantam angin kencang,  akan berubah bentuk untuk menahan angin itu dengan lebih baik. Jika akar menabrak batu, mereka akan tumbuh di sekitarnya, jadi mereka merasakan hal-hal di sekitar mereka,”katanya.

Menurut Dr. Johnson, tanaman memiliki struktur yang jauh lebih sederhana untuk memulai, dan hampir semua organ mereka, baik daun, akar, maupun bunga, datang setelah mereka lahir. Jadi yang ingin dia ketahui adalah, bagaimana hal itu diatur dalam menanggapi stres mekanik atau fisik.

Lebih lanjut Dr. Johnson menyampaikan, kunci respons tanaman terhadap faktor-faktor eksternal terletak pada kulitnya. Sama seperti manusia, tanaman membutuhkan lapisan pelindung diri untuk hidup lingkungan yang keras.

“Epidermis tanaman bekerja dengan cara yang sama seperti epidermis kita, karena melindungi struktur internal dan membantu mencegah kehilangan air. Tetapi itu juga merupakan tempat yang ideal untuk memiliki indera yang dapat mengatasi tekanan lingkungan,” terangnya.

Dr. Johnson mengungkapkan, kulit tumbuhan mengandung jaringan sel yang padat, yang sering kali ditutupi lapisan lilin yang memberikan perlindungan ekstra terhadap kerusakan,  khususnya kehilangan air. Dan perubahan pada ketegangan ini memengaruhi bagaimana tanaman itu tumbuh.

“Sekelompok ilmuwan pada tahun 1800’an pertama kali menggambarkan fenomena ‘ketegangan jaringan’. Hal ini didasarkan pada percobaan yang menunjukkan bahwa ketika Anda memotong batang bunga matahari, lapisan epidermis luar menarik dan jaringan bagian dalam terus tumbuh,” ujar Dr Johnson.

Dalam percobaan tersebut, paparnya, para ilmuwan mengambil batang bunga matahari dan memotongnya dengan ringan di satu sisi. Hal ini mengungkapkan bahwa lapisan dalam ditekan ke epidermis, yang pada gilirannya membatasi tekanan ini. Para ilmuwan itu, terang Dr. Johnson, menyimpulkan bahwa lapisan dalam berada di bawah gaya tekan, sementara lapisan luar berada di bawah tekanan.

“Epidermis tanaman adalah satu lapisan sel yang harus cukup tipis, untuk membiarkan sinar matahari masuk ke lapisan dalam sel yang bertanggung jawab pada proses fotosintesis. Tapi itu juga harus cukup kuat sehingga bisa menahan kerusakan dan tekanan dari ketegangan yang sedang berlangsung,” kata Dr Johnson.

Menurut Dr. Johnson, ketika epidermis terasa terlalu tegang, maka akan merespons dengan memperkuat dirinya sendiri untuk melawan stres atau rileks untuk melepaskan tekanan. Penting untuk memahami bagaimana epidermis melakukan semua peran penting ini. (Diadaptasi dari artikel dengan judul “Plants Have Feelings Too” karya Alana Schetzer, pernah dimuat di jurnal ilmiah Universitas Melbourne / Foto: Dadang Subiyantoro)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *