Budidaya Kedelai di Lahan Sawah

sahabatpetani.com – Budidaya kedelai memiliki prospek yang bagus. Karena kebutuhan akan tanaman legum itu secara nasional masih cukup besar, tapi produksi dalam negeri masih belum mencukupi. Produksi kedelai nasional pada tahun 2018 masih sekitar 980 ribu ton, sedangkan kebutuhan nasional rata-rata sebesar 2,3 juta ton per tahun. Dengan demikian produksi kedelai secara nasional baru memasok sekitar 43 % dari total kebutuhan.

Kedelai adalah legum tahunan yang rimbun dan tidak bercabang, dengan tinggi antara 30 hingga 90 sentimeter. Batang dan daunnya berbulu, dengan bunga berwarna putih. Panjang polong tumbuh 2,5  hingga 10 sentimeter, yang tumbuh dalam kelompok tiga hingga lima polong. Setiap polong biasanya mengandung 2 hingga 4 biji kedelai.

Sesuai dikutip dari laman Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, pembudidaya kedelai hendaknya memperhatikan agroekologi. Terdapat empat agroekologi utama pada budidaya kedelai, salah satunya adalah agroekologi lahan sawah.

Pada lahan sawah, kedelai biasanya ditanam pada musim kemarau pertama (MK I) yang ditanam setelah panen padi pertama. Kedelai juga bisa ditanam pada musim kemarau kedua (MK II) yang ditanam setelah panen padi kedua. Jika Anda ingin menanam padi pada saat awal musim hujan, penanaman idealnya dilakukan pada saat sebelum tanam padi.

Kedelai MK I masa tanamnya antara Februari – Juni, kedelai MK II antara Juni – September. Jika penanaman dilakukan pada awal musim hujan, idelanya dilakukan pada Oktober – Januari.

Tanam Kedelai MK I (Februari – Juni) dan MK II (Juni  Agustus)

Setelah panen padi, jerami padi dipotong hingga pangkalnya. Jika tidak digunakan untuk pakan ternak, sebaiknya jerami dimanfaatkan sebagai salah satu sumber hara kalium (K).

Buat saluran drainase dengan jarak antar saluran 1,5 – 5 meter, bervariasi tergantung pada kemiringan lereng lahan dan tekstur tanah. Semakin datar dan lembut tekstur tanah, semakin sempit jarak antar saluran drainase. Saluran drainase dibuat dengan lebar sekitar 30 sentimeter, dan kedalaman sekitar 25 sentimeter.

Untuk kedelai yang ditanam pada awal musim hujan, sebaiknya penanaman dilakukan setelah hujan membasahi tanah. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung perkecambahan benih kedelai.

Kedelai yang ditanam setelah panen padi (MK I dan MK II), sebaiknya ditanam pada 2 – 4 hari setelah panen padi. Tujuannnya adalah agar bisa memanfaatkan air/lengas tanah, dan mengurangi gangguan gulma, hama, dan penyakit.

Varetas yang dianjurkan;

  1. Kedelai awal musim hujan (Oktober – Januari), sebaiknya varietas yang berumur genjah (80 hari atau kurang). Varietas tersebut ada dua macam, yang berbiji besar (Argomulyo, Baluran, dan Grobogan), dan berbiji sedang (Malabar, Gepak Ijo, dan Gepak Kuning).
  2. Untuk penanaman kedelai pada MK I, biasanya ketersediaan air (air hujan) lebih terjamin dibandingkan MK II. Varietas kedelai yang ditanam ada dua macam; berbiji besar (Anjasmoro, Argopuro, Gumitir, Detam 1, Detam 2, Detam 3, dan Detam 4) dan berbiji sedang (Wilis, Kaba, Ijen, Sinabung, Arjasari, dan Malika).
  3. Kedelai MK II, biasanya ketersediaan air (air hujan) terbatas. Varietas kedelai yang ditanam ada dua macam; berbiji besar (Argomulyo, Burangrang, Baluran) dan berbiji sedang (Malabar, Ijen, Arjasari, Malika, Gema, dan Dering).

Benih berkualitas dengan daya tumbuh di atas 85 persen, murni, sehat, dan bersih. Total kebutuhan benih berkisar antara 40 – 60 kilogram per hektar, tergantung pada ukuran biji. Semakin besar biji, makin banyak benih yang ditanam.

Untuk mengendalikan lalat bibit dan hama lainnya, sebaiknya mengaplikasikan carbosulfan (10 g Marshal 25 ST/kg benih), atau fipronil (10 ml Regent/kg benih).

Untuk lahan yang belum pernah ditanami kedelai, perlakuan benih dengan mengaplikasikan pupuk hayati sebagai sumber rhizobium, sebanyak 20 g sumber rhizobium/kg benih.

Idealnya populasi tanaman antara 350 ribu – 500 ribu per hektar, dengan pengaturan jarak tanam berturut-turut 40 x 15 cm dan 40 x 10 cm, per lubang untuk dua tanaman.

Jenis dan takaran pupuk dapat berbeda tergantung pada kondisi atau tingkat kesuburan tanah, berdasarkan hasil analisis tanah. Jika tersedia pupuk organik, dianjurkan pemberian sebanyak 2 ton per hektar.

Pemberian air diperlukan jika kelembaban tanah tidak mencukupi. Terutama pada stadium awal pertumbuhan, saat berbunga, dan saat pengisian polong.

Pengendalian gulma bisa dilakukan baik secara manual (menggunakan cangkul atau dicabut), maupun dengan herbisida, pada saat pra tumbuh atau paska tumbuh. Penyemprotan herbisida pra tumbuh sebaiknya dilakukan satu minggu sebelum tanam. Sedangkan penyemprotan paska tumbuh, dilakukan dengan  hati-hati agar tidak mengenai daun kedelai.

Tanaman siap dipanen apabila daun sudah luruh dan 95 % polong berubah warna. Ada yang berubah menjadi kuning kecoklatan atau coklat kehitaman, tergantung varietas. (SP / Sumber artikel: Balitkabi / Foto: Dadang Subianto)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *