Menanam Si Lentik Yang Pedas

sahabatpetani.com – Sumber genetik atau plasma nutfah tanaman cabai berasal dari Amerika, dan pertama kali dibawa ke Indonesia oleh pelaut Portugis bernama Ferdinand Magellan, yang kemudian berkembang hingga saat ini.

Salah satu jenis cabai yaitu cabai besar. Cabai besar ada 3 macam, yaitu: Cabai merah, cabai keriting, dan cabai paprika.  Cabai merah dapat tumbuh optimal pada dataran rendah dan di daerah tropis,sedangkan jika ditanam pada dataran tinggi hasilnya tidak dapat optimal. Dan cabai dapat tumbuh optimal pada suhu 24-28 derajat celcius.

Budidaya cabai di Indonesia cukup mudah karena didukung oleh Indonesia yang beriklim tropis, namun meskipun didukung oleh kondisi iklim tropis budidaya cabai harus dilakukan dengan benar agar menghasilkan hasil secara optimal. Berikut langkah-langkah budidaya cabai besar:

Pengolahan Lahan

Pengolahan lahan dilakukan 2 kali, yaitu pada pengolahan lahan I dilakukan pada 15 hari sebelum tanam dengan cara dicangkul atau dibajak sedalam20-25 cm. Sedangkan pengolahan lahan II dilakukan pada 5 hari sebelum tanam dengan cara mencangkul untuk menghancurkan bongkahan tanah. selanjutnya, buatlah bedengan dengan lebar 1,2 m, tinggi 20 cm, jarak antar bedengan 30 cm panjang sesuai petakan.

Pembibitan

Pembibitan dilakukan 25 hari sebelum tanam. Untuk media pembibitan terdiri dari tanah dan pupuk kandang 3:1, tiap 1 m³ media ditambahkan 1 kg Phonska dan 0,5 kg Petrofur 3G. Selanjutnya media dimasukkan dalam pottray (tempat pembibitan semacam pot kecil) atau kantong plastik kecil. Selanjutnya benih cabai yang telah diperam selama 24 jam ditanam di media dan ditempatkan dibawah naungan. Naungan dibuka secara bertahap agar bibit beradaptasi terhadap suh diluar.

Penanaman dan Pemupukan

Cara pemupukan ada 2 cara yaitu:

  • Cara I – Dengan cara dilarutkan

Pemupukan dasar dilakukan pada 1 hari sebelum tanam dengan dosis: Petroganik=2.000 kg, Phonska=200 kg, ZA=200 kg. Sedangkan pemupukan susulan dilakukan 1-9 MST(Minggu Setelah tanam) dengan dosis: 1-3 MST(Minggu Setelah Tanam)=2,5-3 gram/250 ml air/tanaman dan 4-9 MST(Minggu Setelah Tanam)=3,5-5 gram/250 ml air/tanaman.

  • Cara II – Dengan cara ditugal

Pemupukan dilakukan 3 kali, pada pemupukan I dilakukan pada 0 HST(Hari Setelah
Tanam) dengan dosis: Petroganik=2.000 kg dan Phonska=400 kg. Pemupukan susulan I dilakukan pada 20 HST(Hari Setelah Tanam) dengan dosis: Phonska=400 kg, Selanjutnya pemupukan susulan II dilakukan pada 40 HST(Hari Setelah Tanam) dengan dosis: ZA=200 kg.

Bedengan  diberi pupuk dasar dicampur dengan 17 kg Petrofur 3G per ha disebar atau ditugal sekitar lubang tanam, selanjutnya ditutupp dengan MPHP (Mulsa Plastik Hitam Perak). Mulsa dilubangi dengan jarak tanam 40 cm x 80 cm, diameter lubang 10 cm. Pada saat penanaman, bibit dilepas dari kantong plastik. Pemasangan ajir pada sisi lubang tanam.

Pemeliharaan

Penyiraman dilakukan 2 hari sekali. Untuk menjaga agar tanaman tidak roboh dilakukan pengikatan batang lombok pada ajir. Untuk penyiangan dilakukan 4 kali, yaitu sebelum pemupukan susulan dan usahakan bedengan selalu bersih dari gulma.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Beberapa hama penting yang seri ng menyerang tanaman lombok besar, antara lain: Trips, Ulat tanah, Ulat Grayak, Ulat Buah, Tungau/Mite, serta penyakit layu bakteri, layu fusarium, patek, bercak daun dan busuk buah..

Panen dan Pasca Panen

Panen dilaukukan pada buah yang sudah mulai kemerah-merahan, selanjutnya dibawa ke tempat teduh, kering dan berventilasi baik. Untuk sortasi dilakukan pada mutu buah. Panen dapat dilakukan 5-7 hari sekali.(SP/Sumber foto: Dadang Subianto)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *