Bersama Puslitkoka, Petrokimia Gresik Siap Kembalikan Kejayaan Kakao di Padang

sahabatpetani.com, Padang – Indonesia merupakan negara penghasil kakao terbesar ke-3 dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Tidak dapat pungkiri jika kakao sendiri merupakan komoditas unggul  dan menjadi salah satu komoditas andalan ekspor nasional, disamping kelapa sawit dan karet. Sumatera Barat khususnya Padang Pariaman, menjadi salah satu daerah penghasil Kakao terbesar nomor dua setelah sulawesi dengan luas tanam kurang lebih 30 ribu hektare dan dapat menghasilkan produksi lebih dari 12 ribu ton per tahun.

“Namun seiring berjalannya waktu, produktivitas kakao di Padang justru semakin menurun dari tahun ke tahun. Banyak faktor yang mempengaruhi penurunan produktivitas kakao disini, salah satunya adalah harga kakao yang rendah. Belum lagi pengendalian hama yang sulit untuk diatasi,” ujar Elias Piau, salah satu petani kakao di daerah Padang Pariaman. Pias sapaan akrabnya mengatakan jatuhnya harga membuat dirinya kesusahan untuk mengembangkan kakao, belum lagi serangan hama yang membuat produktivitas kakao miliknya tidak bisa maksimal

Setelah mensurvei beberapa lokasi, Adi Pranoto peneliti dari Puslitkoka (Pusat Peneliti Kakao dan Kopi Indonesia) Jember, yang di dampingi oleh tim dari Petrokimia Gresik mengungkapkan, “Padang pariaman ini sangat berpotensi untuk dijadikan pusat kakao. Tanaman kakao disini tumbuh dengan baik dan produktifvitasnya juga lumayan, hanya saja petani disini perlu diberi sedikit sentuhan untuk menangani hama penyakit dan memberi anjuran pemupukan berimbang agar tanaman kakao disini lebih kuat terhadap hama penyakit dan produktivitasnya bisa bertambah”

Adi sendiri menyadari, hama penyakit pada kakao adalah musuh terbesar bagi petani kakao, ia juga tidak heran jika banyak petani yang beralih ke komoditas lain yang lebih muda perawatannya. Elfida adalah salah satunya. Wanita 56 tahun ini lebih memilih menanam padi dan jagung untuk dijadikan prioritasnya dan kakao hanya dijadikan sambilannya. “banyak hama yang bikin kakao saya kurang maksimal, kalau berbuah ya alhamdulillah, kalo tidak ya sudah” ujarnya.

Bersama dengan Puslitkoka, Petrokimia Gresik siap membantu petani kakao untuk kembali menjadi salah satu daerah potensial untuk menanam kakao di Indonesia. Dengan mengadakan penyuluhan dan pelatihan budidaya tanaman kakao, Petrokimia Gresik siap memberikan pengawalan dan materi terkait budidaya tanaman yang baik atau Good Agriculture Practice (GAP) pada tanaman kakao.

Bujang Datok Tunaro, mantan Pegawai Negeri Sipil yang juga menjadi petani kakao mengatakan, penyuluhan dan pelatihan budidaya kakao ini sangat bermanfaat bagi dia dan juga teman – teman petani kakao lainnya. Bujang mengatakan penyuluhan dan pelatihan kali ini sangat baik, tidak hanya teori namun juga para petani kakao di beri bekal praktik langsung dilapangan. Kedapan ia berharap petani kakao di Padang ini bisa bersemangat untuk bersama – sama mengembalikan kejayaan kakao seperti sedia kala.(Tim SP: Rachmat Junianto dan Patria Pikukuh)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *