Biwa, Si Kecil Eksotik Tapi Kurang Di Lirik

Sahabatpetani.com, Tanah Karo – Ada yang sudah pernah mendengar atau tahu tentang Biwa? Mungkin Kebanyakan akan bertanya – tanya apakah biwa itu? Biwa atau anggur karo yang nama latinnya Eriobotrya Japonica adalah tanaman buah dari keluarga Rosaceae yang berasal dari dataran tinggi China. Biwa sendiri merupakan salah satu buah yang langka yang berada di Indonesia. Tanaman ini sangat cocok tumbuh di dataran tinggi salah satunya Tanah Karo. Dan saat ini Sumatera Utara memiliki kebun Biwa yang terluas di Indonesia sekitar 5 Hektare yang berada di kawasan agrowisata di Taman Simalam Resort.

Biwa adalah satu varietas unggulan dari tanah Karo yang menjadi salah satu ciri khas atau oleh – oleh dari Tanah Karo. Buah ini memiliki rasa masam kalau masih muda dan jika sudah masak rasanya akan asam-asam manis. Biwa hanya tumbuh di sekitar bulan Juli, Agustus dan September, karena populasi yang tergolong langkah dan hanya berbuah pada bulan tertentu, harga biwa bisa mencapai 100 ribu hingga 180 ribu per kg. Bahkan Jon salah satu pedagang biwa di Pasar Berastagi, mengatakan jika sudah sangat langkah maka per kg-nya bisa mencapai 400 ribu rupiah.

“Buah ini berbentuk seperti anggur namun agak lonjong dan warnanya kuning. Selain mengandung vitamin C yang tinggi, biwa juga bermanfaat sebagai pencegah arteriosklerosis (radang pada pembuluh darah manusia), stroke, anti-penuaan,pilek dan masuk angin. Selain itu biwa juga bisa dijadikan teh untuk mengobati diare dan meredakan batuk. Buah ini tidak hanya diminati oleh wisatawan lokal, bahkan ada wisatawan mancanegara yang mampir ke Tanah Karo hanya untuk mencari buah ini,” tambah Jon.

Sayangnya, meski banyak peminat dan kaya akan manfaat, buah ini termasuk buah yang sulit dibudidayakan seperti buah pada umumnya. Biwa baru bisa berbuah ketika umur 4 – 5 tahun, wajar jika banyak petani yang memilih menanam komoditas lain ketimbang biwa. “Perawatan yang intensif membuat kita kadang takut untuk menanam biwa ini dalam skala besar, ya mungkin 5 sampai 10 pohon saja petani yang menanam biwa ini di lahannya, malah kadang ada yang ditanam di sekitar pekarangan rumah,” ungkap Jon. “Semoga kedepan Biwa lebih mendapat perhatian dari pemerintah, agar bisa menjadi oleh – oleh yang khas di Sumatra Utara, khususnya Tanah Karo,” pungkasnya. (Tim SP: Rachmat Junianto)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *