Loader
 

Keharmonisan Siklus Air

sahabatpetani.com – Tuhan menciptakan negeri ini bagaikan meletakkan ‘sepotong’ surga di bagian tengah bola dunia. Ribuan pulau dibariskan rapi di sepanjang katulistiwa, lengakap dengan gunung, hutan, dan tanah subur. Tuhan juga meletakkan rangakaian pulauitu tepat di garis edar matahari, sehingga sepanjang tahun sinar matahari tidak pernah berhenti menebar kehangatan da sinar terang. Itu belum cukup, Tuhan juga menata musim dalam dua warna yang seimbang, musim hujan dan kemarau. Pergantian keduanyamembuat negeri ini selalu berlimpah air hujan sekaligus kehangatan sepanjang tahun.

Namun harmoni dan tatanan kedua musim itu dalam beberapa dekade ini sering terusik dan dan berubah wujud menjadi bencana. Ketika musim hujan datang, keberkahan air hujan justru sering berubah wujud menjadi banjir. Ribuan hektar sawah dan ladang terendam air. Perkampungan dan perumahan terendam tenggelam diterjang banjir bandang. Sementara, ketika musim kemarau tiba, bukan kehangatan yang diberikan tetapi justru kekeringan dan kekurangan air. Keberkahan musim kemarau berbah bentuk menjadi panas terik menyengat, yang mematikan sumber air dan mengeringkan sungai serta daun.

Sangat naif  bila kita menyalahkan musim hujan dan kemarau. Beribu tahun keduanya hadir selalu menggandeng keberkahan. Artinya, ada yang salah dalam mengelola negeri ini sehingga keduanya berubah wujud dan karakter. Berbagai faktor yang mendukung harmoni siklus kedua musim itu telah berubah sehingga keduanya kehilangan roh keberkahannya. Lihat saja, ribuan hektar hutan dan tanaman hijau telah dibabat hingga menjadi lahan gundul tanpa tressapan air sama sekali. Lereng-lereng gunng yang semua rapat dipenuhi hutan alami telah berubah wujud menjadi vila, hotel atau tanaman sayur dan buah. Bagaimana mungkin mengharapkan siklus hidrologi air bisa berjalan sempurna bila salah satu tahapan terpentin berupa resapan air diputus dengan paksa?

Sesungguhnya perjalanan air di bumi telah ‘disetting’ sempurna dalam siklus yang tertata rapi. Air yang berasal dari sumber-sumber air yang ada di permukaan bumi akan mengalir kembali ke sumber-sumber air tersebut. Proses pengaliran, pemasukan dan pengeluaran air yang selalu berputtar itu tertata dalam daur air yang jga disebut daur hidrologi. Air di bumi pada dasarnya, jumlahnya tetap, yang berbeda adalah bentuknya. Ada yang tersimpan rapat menjadi gletser di kutub, berkumpul di lautan luas, mengalir di sungai-sungai, berhenti di danau, atau bersembunyi di bawah permukaan tanah. Namun diamana pun air berada akan tetap berputar sesuai dengan siklusnya.

Oleh karena  itu, ketika karakter musim hujan berubah menjadi garang karena membawa banjir, dan kemarau berubah menjadi ganas karena membawa kekrinagn dan panas terik, sesunggguhnya hal itu terjadi karena ada yang mengganggu tatanan siklus air. Mereka berubah wujud karena kita dengan sengaja telah mengusik harmoni siklus air yang menjadi roh sejati mereka.(SP/sumber foto:koran-jakarta.com )

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment