Loader
 

Berbuah Perdana Musang King Lokal

sahabatpetani.com – Manis legit, creamy, dan harum, citarasa khas musang king. Itu lah yang dirasakan Ahut F Hendarul saat mengunyah sepongge durian musangking  di rongga mulutnya.  Ia mengulumnya hingga habis dan hanya menyisakan biji yang kempis. Rasa itu mengingatkan Ahut ketika berkunjung ke Penang, Malaysia,  dua tahun silam. Di sana, Arul—sapaan akrabnya mencicip si raja musang langsung dari sentranya. Namun kali ini, anggota Komunitas Maniak Durian itu mencicipi introduksi musang king, di Pakisaji, Malang, Jawa Timur. Pohon musang king itu berbuah perdana pada umur 3,5 tahun.Menurut Arul, citarasa musang king lokal asal Malang itu masih kalah pahit dan kedalaman rasa dibanding musang king di Penang. Kemungkinan karena umur tanaman masih muda. Namun, teksturnya lebih lengket dan legit.

Priyanto, pekebun di Pakisaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur membudidayakan 50 pohon musang king di lahan 7.500 m2.  Umur tanaman berkisar 2—3,5 tahun. Pada Januari 2018, Priyanto memanen 20 buah durian musang king, rata-rata berbobot 2—2,5 kg per buah. Satu buah terdiri dari 5—6 juring. Ketika ia mengabarkan kepada rekan-rekannya sesama pencinta durian, musang king Priyanto langsung ludes terjual.

Menurut Priyanto, banyak konsumen tidak kebagian duriannya karena kehabisan stok, tapi mereka rela menunggu buah lain yang sedang proses pematangan. Ketua Yayasan Durian Indonesia, Adi Gunadi, juga sempat mencicip tiga buah musang king dari kebun Yanto—sapaan Priyanto. Pendapat Adi, durian milik Yanto adalah salah satu musang king terenak di Indonesia. Padahal, Priyanto panen durian ketika musim hujan. Hujan kerap mempengaruhi rasa durian. Biasanya membuat pulur buah bagian tengah agak basah dan itu mempengaruhi kepekatan atau kedalaman rasa durian.

Pulur tengah yang basah juga ada pada musang king dari kebun Priyanto. Namun menurut Gunadi, hal itu tidak mempengaruhi rasa durian musang king alias rasanya tetap kuat. Jika dibandingkan dengan musang king di Malaysia, musang king di kebun Priyanto memang tidak seimbang. Umur musang king di sentra-sentra durian Malaysia rata-rata sudah di atas 15 tahun. Agroklimatnya sangat cocok, plus perawatan yang superintensif dan mahal. Jadi wajar kualitas dan harganya istimewa.

Selain nikmat, musang king di kebun Priyanto juga unggul dari penampilan luar maupun dalam. Penampilan luar buah berbentuk lonjong sempurna, tidak bengkok-bengkok. Setiap juring juga penuh terisi pongge plus warna daging buah yang kuning pekat. Jadi penampilannya sempurna. Hanya tinggal menunggu pohon lebih tua lagi plus tetap dirawat intensif, musang king itu akan makin berkualitas.

Priyanto memang membudidayakan musang king secara intensif. Ia mendatangkan bibit dari rekan sesama pencinta buah di Jawa Tengah pada 2014. Saat itu bibit setinggi 1—1,2 meter hasil grafting. Mula-mula ia membuat lubang tanam berbentuk persegi dengan panjang sisi-sisinya 70 cm sedalam 70 cm. Ketika menanam bibit itu, Priyanto memasukkan pula media tanam campuran tanah dan pupuk kandang kambing perbandingan 1 : 1 sedalam 35 cm. Kemudian ia menambahkan tanah hingga lubang tanam penuh media.

Sebulan kemudian, lelaki kelahiran Malang itu memberikan pupuk NPK berimbang 16-16-16 sebanyak 2 sendok makan per tanaman. Pemberian pupuk selanjutnya tiga bulan sekali dosisnya 2 sendok makan per tanaman. Setelah umur satu tahun, ia meningkatkan dosis pupuk menjadi segenggam NPK berimbang. Umur 2 tahun dan seterusnya, dosis pupuk menjadi 3 genggam.

Saat mulai muncul bunga, ia menghentikan pemberian pupuk NPK berimbang dan mengganti dengan pupuk NPK berkalium tinggi, yaitu 13-10-30. Dosis per tanaman 75 g per 10 hari sekali. Untuk pupuk kandang kambing, ia memberikan setahun sekali saat musim kemarau. Per tanaman mendapat 2 sak pupuk kandang dengan bobot per saknya sekitar 30 kg. Ketika tanaman berumur 3 tahun, dosis pupuk kandang menjadi 3 sak.

Untuk pengendalian hama dan penyakit, Priyanto menyemprotkan beragam pestisida di antaranya berbahan aktif profenofos, difenokonazol, dan deltametrin secara bergiliran 2 pekan sekali. Konsentrasinya 1 ml pestisida dicampur seliter air. Ia juga menyemprotkan zat pengatur tumbuh dua pekan sekali. Konsentrasinya sama dengan pestisida. Menjelang kemarau, tanaman stres dengan ciri merontokkan daun.

Priyanto membiarkannya tanpa penyiraman air selama sebulan. Selang sebulan, bunga mulai muncul dan ia segera menyiraminya plus memupuk. Saat seukuran bola tenis, ia menyeleksi buah terbaik dan menyisakan maksimal dua buah per tangkai. Dipilih buah yang penampilannya sempurna dan tidak terserang hama. Pada Agustus 2017, sekitar 8 tanaman mulai berbunga dan pada Januari 2018, Priyanto memanen 20-an buah dari enam pohon. Guru besar Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Sumeru Ashari, menuturkan, salah satu ciri durian introduksi sudah adaptif di daerah baru adalah proses pembungaan dan pembuahan yang sempurna. Pohon durian musang king di kebun Priyanto salah satu bukti sudah adaptif.(SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment