Loader
 

Beroleh Berkah Berkat Ikan Nila Merah

sahabatpetani.com – Semula, Pandu Sujatmiko S.E. hanya beroleh pendapatan Rp1 juta per bulan dari beternak nila. Namun, berkat Oreochromis niloticus,  kini Pandu sukses mengantongi omzet Rp70 juta dari hasil penjualan 2,5 ton nila merah. Dengan biaya produksi Rp48,5 juta, peternak asal Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, itu menuai laba Rp21,5 juta per 2 pekan. Dari biaya yang dikeluarkan, sekitar 60-65% dikhususkan untuk pakan. Rasio konversi pakan nila mencapai 1,4—1,5. Artinya untuk menghasilkan 1 kg daging nila, peternak membutuhkan 1,4—1,5 kg pakan.

Harga jual ikan nila merah cenderung melonjak menjelang Idul Fitri lantaran permintaan relatif banyak, tapi pasokan sedikit. Meski begitu saat harga nila normal pun pendapatan Pandu menggiurkan, yakni Rp20 juta—Rp30 juta sebulan. Itu diperoleh dari dua kali panen hasil dari 12 kolam pembesaran masing-masing berukuran 100 m2. Agar rutin panen, Pandu menebar 3—4 kuintal benih per kolam setiap sebulan sekali. Sekitar empat bulan kemudian, ia memanen 2—3 ton nila dari satu kolam. “Saat ini saya menjual sendiri nila yang berisi 6—7 ekor per kilogram ke sebuah yayasan,” kata pria berumur 47 tahun itu. Kapasitas produksi Pandu 3—4 ton per bulan. Padahal permintaan mencapai 8 ton per bulan. Artinya ceruk pasar tersedia sekitar 4 ton per bulan. Permintaan tinggi itulah yang mendorong Pandu membudidayakan ikan introduksi dari Afrika itu.

Masa depan bisnis nila cerah, itulah keyakinan Pandu. Permintaan nila yang tinggi, membuat bisnis Pandu berkembang. Jika 2005 ia hanya memiliki 2 kolam pembesaran berkapasitas 1,5 ton per 3 bulan ini Pandu mempunyai 12 kolam pembesaran berkapasitas 3—4 ton per bulan. Indikator bagusnya bisnis nila juga tercermin dari permintaan benih ikan itu.

Contohnya, yang dialami Wahyu Setiawan dari Desa Ciawang, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia kelimpungan memenuhi permintaan benih nila. Pembenih nila sejak 2014 itu mengatakan permintaan yang datang mencapai 3 juta benih setiap bulan. Padahal, Wahyu hanya memproduksi 1 juta benih setiap bulan. Jumlah permintaan itu hanya untuk melayani peternak di Tasikmalaya.

Di luar Jawa, permintaan benih juga datang dari Jambi, Pekanbaru (Riau), dan Papua yang mencapai sekitar 2—3 juta per bulan. “Permintaan itu belum terlayani,” kata peternak nila sejak 2014 itu. Wahyu memasarkan bibit aneka ukuran yaitu sejempol, satu jari, dua jari, dan tiga jari. Ia menjual bibit berumur minimal 50 hari itu Rp25.000—Rp30.000 per kilogram. Kini ia memiliki lebih dari 900 indukan terdiri atas 400 jantan dan 500 betina. Induk nila siap berpijah pada umur 6 bulan.

Menurut Wahyu prospek bisnis nila di Indonesia sangat bagus. Apalagi kini muncul teknologi baru, yakni budidaya nila berteknologi bioflok. Peternak dapat meningkatkan padat tebar hingga minimal 1.000%. Jika semula peternak hanya menebar 10 ekor benih per mᶟ, kini dengan bioflok padat tebar mencapai 100—150 ekor per m³. Keunggulan nila antara lain mudah dibudidayakan, mengandung omega 3 dan 6, serta bercita rasa lezat. Lebih lanjut ia mengatakan nila berbobot 300—400 gram dan berumur 5 bulan ideal untuk dikonsumsi. Nila ukuran konsumsi menjadi rebutan di Tasikmalaya. Wahyu tidak mengetahui pasti kebutuhan nila di Tasikmalaya. Ia menduga jika ada panen 6—10 ton pun sehari pun pasti ludes.

Peneliti di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP), Bogor, Jawa Barat, Otong Zaenal Arifin, S.Pi., M.Si., pun menuturkan prospek pasar nila memang bagus. Kebutuhan dalam negeri sebagai ikan konsumsi dan ekspor tergolong tinggi. Data dari Laporan Kinerja Kementerian Keluatan dan Perikanan 2015 menunjukkan Indonesia mengekspor 14.735 ton nila senilai US$89.817. Jumlah itu meningkat dibandingkan dengan ekspor pada 2012 yang termaktub dalam Statistik Ekspor Hasil Perikanan Menurut Komoditi, Provinsi dan Pelabuhan Asal Ekspor yakni 13.239 ton yang bernilai US$77.272. Salah satu produk nila yang diminati pasar mancanegara yakni filet.

Yang dikehendaki produsen yaitu ikan berbobot lebih dari 5 ons untuk pembuatan filet nila. Otong juga mengatakan keunggulan nila dibandingkan dengan ikan konsumsi lain yakni bertekstur daging lebih kompak seperti gurami dan mudah dibudidayakan. Meski begitu menurunnya kualitas air dan meningkatnya pakan menjadi aral. Jika bisa mengatasinya, maka peternak meraih keuntungan.(SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment