Loader
 

Bisnis Tanaman Berdaun Elok

sahabatpetani.com – Kuping gajah jenis sweet love koleksi Aripin Saputra itu unik. Bercak kuning terdapat pada beberapa daun. Salah satu di antaranya bahkan warna kuningnya tampak dominan. Menurut pekebun tanaman hias di Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu sweet love mengalami mutasi berupa variegata. Ia tidak sengaja memperoleh tanaman abnormal itu saat menyemai biji kuping gajah sweet love pada akhir 2017.

Dari ratusan biji yang berkecambah, salah satunya berkembang menjadi anakan berdaun belang. Munculnya anakan variegata itu ibarat mendapat durian runtuh. Harap mafhum, berkat kelainan genetik itu harga kuping gajah sweet love koleksi Aripin meroket. Harga se pot sweet love variegata berukuran besar dan terdiri atas 4 helai daun mencapai Rp30 juta. “Anakan sweet love berdaun dua lembar saja harganya bisa mencapai Rp5 juta,” tutur Aripin.

Jenis lawas

Menurut pekebun tanaman hias di Ciapus, Kabupaten Bogor, Uja, sweet love sejatinya adalah kuping gajah jenis lawas. Ia pernah menjual tanaman kerabat aglaonema itu pada 1990-an. Uja menuturkan, di antara aneka jenis kuping gajah lawas, hanya jenis sweet love yang bertahan hingga sekarang. Beberapa jenis kuping gajah era 1990-an bahkan ada yang punah dan jarang ditemukan lagi. “Contohnya kuping gajah yang berdaun besar-besar. Sekarang sulit menemukan jenis itu,” kata Uja.

Di nurseri milik Aripin kuping gajah jenis sweet love tak hanya bermutasi variegata. Ada juga sweet love yang mengalami mutasi bentuk daun. Bentuk daun sweet love normal biasanya berbentuk hati dengan ujung daun lancip dan lekukan bentuk hati yang dalam. Permukaan daun juga mulus dan datar. Sweet love mutasi koleksi Aripin sama sekali berbeda dengan tanaman normal.

Bentuk daunnya cenderung berbentuk segitiga terbalik. Keunikan lain tepi daun seperti menggulung ke bawah.  Semula Aripin menduga anakan sweet love dari biji terkena penyakit sehingga menyebabkan bentuk daun abnormal. Namun, begitu jumlah daun bertambah, ternyata bentuknya sama-sama mengalami kelainan. Rupanya mutasi yang terjadi terlihat stabil. Sweet love berdaun 7 lembar itu seluruhnya berdaun abnormal.

Aripin juga mengoleksi kuping gajah jenis lobster yang mutasi. Daun kuping gajah itu berkerut dan keriting sehingga tampak berbentuk menyerupai lobster. Menurut Aripin kuping gajah itu mutasi dari kuping gajah jenis tarantula. Daun tarantula normal sebetulnya berbentuk hati yang cenderung lonjong sehingga lebih memanjang. Permukaan daunnya juga mulus dan rata. Akibat mutasi tulang daun lebih rapat sehingga daun di bagian pangkal menjadi keriput.

Adapun bagian ujung dan tepi daun menjadi keriting. Akibatnya tekstur daun yang semula rata menjadi tampak mengerut. Saat ini kuping gajah lobster miliknya berdaun 5 lembar. Berkat mutasi itu harga kuping gajah tarantula turut terdongkrak. Aripin membanderol lobster koleksinya Rp5 juta per tanaman. Padahal, harga tarantula normal berukuran sama hanya seperlimanya.

Investasi

Kegemaran Aripin mengawinsilangkan antarjenis kuping gajah juga memicu munculnya tanaman-tanaman mutasi baru. Salah satunya hasil perkawinan silang yang menghasilkan mutasi bentuk daun yang tak kalah unik. Daun tanaman hibrida itu berbentuk hati dengan cekungan ke pangkal daun yang sangat dalam. Akibatnya kedua bagian daun yang cekung itu tampak seperti terkulai lantaran kekurangan air. Lazimnya daun kuping gajah normal permukaannya datar.

Sayangnya, jenis induk kuping gajah untuk penyilangan tidak tercatat. Arifin juga kesulitan mengidentifikasi induk karena karakter kuping gajah mutasi tidak menyerupai jenis tertentu dari sekian banyak kuping gajah koleksinya. Oleh karena itu, untuk sementara ia hanya menyebut tanaman koleksinya itu hibrida mutasi. Menurut kolektor tanaman hias mutasi di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Handry Chuhairy, bagi para pekebun tanaman hias, munculnya mutasi memang selalu dinanti.

Pasalnya, tanaman abnormal itu tak memiliki patokan harga. “Selama para kolektor menyukainya dan mengetahui jika mutasinya langka, maka mereka berani membayar dengan harga tinggi,” ujar Handry. Itulah sebabnya mengoleksi tanaman mutasi bagi Aripin ibarat investasi. “Kalau sudah rezeki bisa laku dengan harga tinggi,” tutur pria 21 tahun itu. (SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment