Loader
 

Bit dan Kembang Kol Dataran Rendah

sahabatpetani.com – Siang itu Bojonegoro begitu terik. Harap mafhum kemarau masih melanda kabupaten yang terletak di bagian utara Jawa Timur itu. Segelas minuman berwarna merah menyala demikian menggoda. Cecapan pertama meninggalkan rasa getir di lidah. Namun saat minuman meluncur di tenggorakan, rasa segar datang. Sensasi segarnya seakan menghalau teriknya matahari kemarau.

Nanang Wahyudi, salah satu karyawan sebuah restoran menyatakan minuman itu berbahan bit merah. Nanang memanfaatkan bit dari hasil penanaman sendiri di kebun di samping restoran. Tanaman asal Mediterania itu lazimnya di tanah air dikembangkan di dataran tinggi. Kebun Agroguna terletak di Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas, berketinggian kurang dari 100 m di atas permukaan laut. Bit merah dataran rendah?

Bit berasal dari negara 4 musim. Lazimnya saat diadaptasikan ke daerah tropis, penanamannya di dataran tinggi. Di tanah air bit misalnya banyak ditanam di daerah berelevasi lebih dari 500 m dpl seperti Kota Batu, Jawa Timur atau Lembang, Jawa Barat. Menurut guru besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Anas Dinurrohman Susila, M.Si., tanaman yang lazim tumbuh di dataran tinggi tidak akan berproduksi ketika ditanam di dataran rendah. “Kembang kol tidak akan terbentuk, sedangkan bit merah tidak membentuk umbi,” kata Anas. Musababnya, suhu malam hari yang tinggi di dataran rendah membuat respirasi tanaman lebih tinggi. Respirasi tinggi menghabiskan energi hasil fotosintesis siang harinya.

Akibatnya tanaman tidak memiliki cadangan energi. Di dataran tinggi, malam hari lebih dingin sehingga cadangan energi hasil fotosintesis digunakan untuk membentuk kepala kembang kol atau umbi bit merah. Anas menduga Agroguna menanam varietas bit merah yang adaptif di dataran rendah. Namun, Biasanya penanaman di dataran rendah menurunkan produktivitas. Meski masa tanam di dataran rendah biasanya lebih singkat karena periode penyinaran sinar matahari lebih lama, tapi hasilnya tidak sebanyak di dataran tinggi.

Di kebun Agroguna, bit merah tumbuh baik. Nanang dan pekerja menanam Beta vulgaris itu dalam bedengan sepanjang 4,5 dan lebar 1,2 m. Bedengan itu dibuat dengan memasang papan kayu setinggi 25 cm membentuk kotak yang mengelilingi plot penanaman berisi tanah. Plot itu sekaligus mencegah air penyiraman terbuang ke luar bedengan. Cara penanaman dalam plot karena tanah di Bojonegoro berjenis aluvial yang mengeras saat kemarau dan sulit menyerap air ketika hujan. Pada kondisi tanah seperti itu pertumbuhan tanaman tidak optimal.

Mereka kemudian mengisi plot tanam dengan pupuk organik petroganik dan mencampurnya dengan tanah. Setiap plot mendapatkan 10 kg pupuk organik Petroganik. Dengan campuran pupuk organik, tanah menjadi remah. Harap mafhum, semula lahan itu ditanami padi bergantian dengan tembakau. Residu pupuk dan pestisida kimia membuat tanah keras dan sulit diolah. Usai meratakan pupuk, pekerja menanam langsung benih sayuran. Jarak tanam bit 30 cm. Setiap plot ditanami 45 butir benih. Selain bit, Agroguna juga menanam tanaman dataran tinggi lain yakni kembang kol. Pekerja menanam kembang kol dalam pola zigzag dengan jarak antartitik 60 cm sementara jarak titik tanam ke dinding plot 30 cm. Setiap plot ditanami 15 benih karena kembang kol tumbuh melebar.

Pekerja tetap menyiram meski musim hujan karena plot tanaman dinaungi atap plastik dan jaring peneduh berkerapatan 50%. Menurut Nanang, plastik berfungsi menahan air hujan agar tidak merusak daun, terutama jenis sayuran daun tipis. Saat pergantian musim kerap muncul hama perusak daun seperti belalang atau kutu. Pada musim hujan, kendalanya cendawan. Rofi’an mencegahnya dengan menyemprotkan ramuan pestisida nabati.

Pestisida itu berupa asap cair sebanyak 250 ml yang dicampur dengan air dalam tangki semprot 14 l. Ia menyemprotkan asap cair bergantian dengan rendaman 500 g tembakau dalam 30 liter air. Penyemprotan setiap 2—3 hari atau setelah hujan pada siang hari. Bit merah dan kembang kol siap panen pada umur 9—10 minggu. Produksi kembang kol dari plot seluas 5,4 m² sebanyak 5—7 kg, sedangkan bit merah 4—6 kg.

Selain bit merah dan kembang kol, Agroguna juga menanam tanaman sayuran lain. Manajer operasional Agroguna, Gede Irawan, memilih 14 jenis sayuran di antaranya pakcoy, bayam, bayam merah, dan kale. Semua produk itu diminati konsumen. Kebun terletak di tepi jalan penghubung Bojonegoro—Surabaya, itu menjalin kerjasama dengan restoran besar di Bojonegoro. Mereka mengirim sayuran 2 kali seminggu, yaitu pada Senin dan Kamis.

Kepala Bagian Perekonomian Kabupaten Bojonegoro, Rahmat Junaidi, M.P.H., mengapresiasi keberhasilan Agroguna mengembangkan berbagai jenis sayuran. Selama ini Bojonegoro hanya menjadi pasar bagi produk sayuran dari daerah lain, namun tidak sekarang ini. Ketika tiba di sana, kondisi sayuran itu sudah kurang segar karena dipanen paling cepat malam hari sebelumnya. Jika memproduksi sendiri, masyarakat Bojonegoro bisa menikmati sayuran yang baru panen sehingga lebih segar. Salah satu unggulannya bit merah yang turun gunung. (SP/foto: hellosehat.com)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment