Loader
 

Budidaya Stroberi Tanpa Tanah

sahabatpetani.com – Stroberi merah siap petik bergelantungan dari pipa polivinil klorida (PVC) berdiameter 4 inci. Buah cinta itu tidak tumbuh di tanah atau polibag sebagaimana dilakukan kebanyakan orang. Pehobi hidroponik di Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Sunani, menanam stroberi di perangkat hidroponik miliknya. Setiap 3—5 hari, ia memanen 200—250 buah, setara 4—5 kg dari perangkat itu. Selain untuk dinikmati bersama keluarga, ia juga menerima wisata petik stroberi.

Dahulu jika tidak ada kunjungan, buahnya ia bagikan kepada tetangga, dan kerabat, atau relasi sekaligus berpromosi. Yang membedakan dengan pehidroponik lain adalah Sunani menggunakan sistem film tipis (nutirent film technique, NFT). Lazimnya pehidroponik membudidayakan stroberi dengan sistem dutch bucket (ember), wick (sumbu), atau deep flow technique (DFT). Pehidroponik sayuran daun lebih banyak mengadopsi sistem NFT.

Kelebihannya antara lain instalasi simpel dan perawatan mudah. Aliran air NFT yang tipis membuat akar tanaman lebih leluasa “bernapas” sehingga pertumbuhan optimal. Kelebihan lain, susunan netpot dalam instalasi itu ringkas sehingga menampung banyak tanaman ketimbang sistem ember. Setiap lubang tanam Fragaria ananassa itu menghasilkan 3—4 buah setiap 15 hari. Tanaman mulai berbuah sebulan pascasemai dan berproduksi selama hampir 2 tahun.

Sunani mengganti dengan tanaman baru dari stolon. Istri Dji Fung itu menyemai stolon dari tanaman lain menggunakan media hidroton. Setelah menumbuhkan akar lalu ia memotong dari tanaman induknya. Tanaman baru itu lantas Sunani pindahkan ke meja tanam. Tanaman tumbuh di media hidroton dalam netpot berdiameter 7 cm. Netpot “duduk” dalam lubang berukuran 8 cm di pipa. Jarak antarlubang pipa 20 cm sehingga pipa sepanjang 8 m itu berisi 40 tanaman.

Rangka baja ringan menyangga 12 pipa dalam susunan sebanyak 6 tingkat menyerupai huruf A berisi total 480 tanaman. Plastik ultraviolet 40% menaungi rangkaian setinggi 3 m itu. Pompa listrik berkekuatan 60 W menaikkan air dari tandon berupa kotak stirofoam berukuran 75 cm x 43 cm x 40 cm. Pipa PVC berdiameter 1 inci membawa air dari tandon ke guli—meja tanam—teratas. Melalui rangkaian pipa dengan panjang total 49 m—termasuk 5 pipa 2 inci sepanjang 20 cm penghubung antarguli—air kembali ke tandon.

Air itu mengandung 1.000 ppm nutrisi untuk sayuran buah. Jika ketinggian air kurang dari separuh tandon, Sunani menambahkan larutan nutrisi sampai ketinggian airnya tiga per empat tinggi tandon. Jika hujan, pasokan dari tandon ia matikan dan air dari guli langsung dibuang ke tanah sehingga tidak mengubah konsentrasi larutan.  Sunani mulai berhidroponik sejak 2015 dengan menanam sayuran daun tipe oriental seperti pakcoy, kangkung, bayam, atau selada keriting.

Sayuran tipe western dengan daun nonhijau seperti lollorossa, monday, atau batavia tidak ia tanam karena kurang disukai konsumen lokal. Selain di toko sekaligus rumah tanam Central Hidroponik miliknya, sayuran hidroponik itu juga tersedia di beberapa gerai toko modern Kota Pontianak. Meski kecil—ukuran buah rata-rata hanya sebesar koin Rp500—stroberi itu manis. Keruan saja orang yang pernah mencicipi tertarik memesan.

Hasil panennya selalu laku tidak pernah tersisa. Maklum, bagi warga Pontianak, stroberi adalah hal baru. Selama ini mereka hanya bisa membeli di kios buah atau pasar modern, itu pun tidak selalu ada. Ketika melihat stroberi tumbuh di depan toko Central Hidroponik milik Sunani, banyak yang langsung terpincut.

Menurut praktikus hidroponik di Pondokcabe, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Ir. Kunto Herwibowo, hidroponik stroberi bisa dilakukan tanpa sistem ember. “Karakter stroberi tumbuh menyamping, bukan ke atas seperti cabai atau tomat,” kata produsen sayuran hidroponik itu. Pertumbuhan menyamping itu menjadikan stroberi tidak memerlukan penyangga kuat seperti pada sistem ember. Itu terbukti di Central Hidroponik milik Sunani.

Namun, perangkat sepanjang 2 pipa itu akan menyulitkan perawatan atau pembersihan. Apalagi Pontianak mempunyai intensitas sinar matahari tinggi sehingga lumut tumbuh lebih cepat. “Sebaiknya ditambahkan pembangkit ozon untuk menghambat pertumbuhan lumut,” ujar Kunto. Bentuk perangkat yang rata membuat aliran air lambat, semata mengandalkan kekuatan pompa. Lebih baik kalau satu sisi dibuat lebih rendah untuk mempercepat aliran air.

Makin cepat mengalir, semakin cepat air kembali ke tandon sehingga menurunkan suhu sekaligus meningkatkan oksigen terlarut. Untuk meningkatkan produksi, Kunto juga menyarankan penambahan spaghetti tube atau selang pembagi. Di perangkat hidroponik stroberi yang Sunani gunakan saat ini, air dari tandon masuk ke guli teratas baru mengalir ke guli di bawahnya. “Sampai guli ketiga atau keempat bisa jadi nutrisinya terserap habis, air menjadi hangat dan oksigen rendah,” katanya.

Dengan selang pembagi, air mengalir langsung ke setiap tingkat lalu langsung kembali ke tandon. Pembagian nutrisi lebih merata, pertumbuhan bisa lebih seragam dan produksi meningkat. Meski tumbuh di bumi katulistiwa, stroberi yang lazim di dataran tinggi itu tetap produktif. (SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment