Loader
 

Buncis Tegak : Tingkatkan Produksi 200%

sahabatpetani.com – Panen kali ini sangat berbeda. Itulah yang dialami Ulus Pirmawan, pekebun buncis di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Umumnya Ulus hanya memperoleh  5—7 ton saat panen di lahan miliknya seluas 1 hektare. Namun sekarang, ia   memanen 7—10 ton buncis dari lahannya. Volume panen itu jauh lebih tinggi daripada hasil panen buncis biasanya. Ulus pun berhasil menjual hasil panen dengan harga Rp15.000 per kg. Artinya, Ulus meraup omzet hingga Rp105 juta—Rp150 juta per musim tanam. Harga jual itu 2—3 kali lipat lebih tinggi ketimbang harga jual lazim, Rp5.000—Rp7.000 per kg.

Pengalaman baru Ulus terjadi saat ia memutuskan menanam buncis Kenya. Keuntungannya jelas, panen lebih banyak dan harga jual berkali lipat. Menurut Ulus, sebutan Kenya mengacu dari asal buncis tersebut, yakni Kenya-negara di bagian timur Benua Afrika. Selain dua kelebihan yang diperoleh, masa panen buncis kenya lebih cepat, yakni pada umur 45—60 hari setelah tanam, sedangkan buncis biasa, lebih dari 60 hari. Penyebabnya, dengan ukuran baby, panen pun dilakukan lebih dini, 7 hari pascaberbunga. Buncis lokal biasanya dipanen pada umur 14 hari setelah berbunga.

Saat panen muda, panjang buncis itu 13—15 cm. Selain genjah, citarasanya lebih manis, bertekstur renyah, dan gurih, sehingga ideal mendampingi steak atau sebagai lalapan. Ukuran buncis lokal bisa mencapai 15—20 cm. Harga jual buncis kenya lebih mahal karena diminati pasar ekspor, sedangkan harga di pasar lokal berkisar Rp11.000—Rp12.000 per kg. Berbeda dengan sosok tanaman biasanya, buncis kenya tumbuh tegak, tak merambat seperti buncis lokal. Dengan begitu pekebun tak perlu memasang ajir sehingga menghemat biaya investasi. Pekebun buncis rambat di dataran tinggi biasanya memerlukan hingga 30.000 ajir bambu setinggi 2,5—3 m per hektare untuk rambatan. Seandainya harga sebatang ajir bambu Rp250, berarti petani bisa menghemat biaya investasi hingga Rp7,5 juta.

Budidayanya pun relatif mudah. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Lembang Agri yang juga pekebun buncis kenya, Dodih, menanam buncis kenya pada guludan dengan lebar 1 m, panjang 7 m, dan tinggi 35—40 cm. Beberapa pekebun ada yang menambahkan mulsa. Ia menanam Phaseolus vulgaris dengan jarak tanam 45 cm x 50 cm. Ia membenamkan 2 butir benih setiap lubang tanam. Dengan jarak tanam itu Dodih memerlukan 20 kg benih untuk sehektar lahan. Menurut Peneliti Pemuliaan dan Plasma Nutfah Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang, Nurmalita Waluyo, jarak tanam saat kemarau sejatinya bisa lebih rapat, yakni 30 cm x 40 cm. Jika musim hujan jarak tanam lebih longgar, yaitu 40 cm x 50 cm, agar tidak terlalu lembap. Kondisi terlalu lembap rentan mengundang penyakit.

Sebagai sumber nutrisi, Dodih memberikan 400—600 kg pupuk NPK per ha. Pupuk pertama jumlahnya 0,5 bagian, 0,25 bagian saat tanaman berumur 1 bulan, dan sisanya setelah 40 hari. Buncis siap panen pada umur 45—60 hari. Nurmalita menuturkan, keunggulan lain buncis kenya lebih tahan penyakit rebah, tapi rentan penyakit karat daun dan antraknos. Sebagian hasil panen,  sebanyak 300—400 kg di antaranya untuk memenuhi pasar ekspor ke Singapura setiap pekan. Sisanya untuk memasok pasar lokal, yaitu Jakarta, Bogor, dan Bandung yang permintaanya terus meningkat sejak lima bulan terakhir.(SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment