Loader
 

Cara baru keringkan benih padi

Terpal berwarna-warni menutupi bentangan batang bambu sepanjang 8 m yang ditopang 10 tiang berbahan pipa besi. Kerangka itu membentuk bangunan seperti tenda yang memanjang. Di bagian dalam tenda menghampar benih padi di permukaan lantai semen. Itulah cara Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Benih Pertanian Barongan di Kecamatan Jatis, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Budi Santoso, S.TP., M.M.A., mengeringkan benih padi. Menurut Budi teknik pengeringan menggunakan tenda itu mampu meningkatkan kualitas benih padi. Berdasarkan hasil uji laboratorium Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Pertanian (BPSBP) Yogyakarta, sebanyak 98% benih padi yang dikeringkan menggunakan tenda berdaya tumbuh lebih dari 80%. Tingkat daya tumbuh itu jauh lebih baik dibandingkan dengan teknik pengeringan sebelumnya.

Sebelum menggunakan tenda, Budi biasanya menjemur padi di permukaan terpal yang dihamparkan di lantai jemur dengan permukaan berkontur melengkung. Ketika hujan, ia menutup hamparan benih itu dengan terpal lagi. Dengan teknik lawas itu, jumlah benih padi yang berdaya tumbuh lebih 80% hanya 64%. Menurut Budi daya tumbuh benih akan baik bila kadar air benih maksimal 11—12%. Selain itu benih juga menjadi tahan simpan. Hasil penelitian menunjukkan, jumlah benih padi hasil pengeringan menggunakan tenda yang berkadar air kurang dari 11% mencapai 50%. Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan teknik pengeringan sebelumnya yang hanya 32%. Yang istimewa, lama penjemuran untuk mencapai kadar air ideal itu lebih singkat.

Menurut Budi untuk mengeringkan 10 ton benih padi menggunakan tenda memerlukan 6 tenaga kerja selama 5 hari. Dengan pengeringan selama itu, total biaya tenaga kerja mencapai Rp1.050.000. Jika menggunakan teknik pengeringan sebelumnya dengan jumlah tenaga kerja sama, perlu waktu hingga 10 hari. Akibatnya Budi mesti mengeluarkan biaya tenaga kerja lebih banyak, yakni mencapai Rp2.100.000. Budi menuturkan pengeringan di dalam tenda lebih cepat karena suhu udara di dalam tenda tetap hangat saat malam hari atau ketika hujan. “Suhu udara di dalam tenda saat malam hari atau saat hujan mencapai 60°C,” kata Budi. Itu karena pada siang hari udara panas saat terpapar sinar matahari, kemudian terperangkap di dalam ruangan tenda. Jadi, meski suhu udara turun saat malam hari atau ketika hujan, ruang tenda masih menyimpan udara panas untuk mengeringkan gabah.

Pada teknik sebelumnya, suhu gabah berubah mengikuti perubahan suhu lingkungan. Budi menuturkan bahwa pengeringan menggunakan tenda juga melindungi benih lebih baik dari guyuran air hujan. Permukaan atap tenda yang berbentuk prisma segitiga yang curam membuat air hujan lebih cepat turun dari permukaan terpal, lalu mengalir ke cekungan pembuangan air di lantai jemur. Pada teknik sebelumnya, air hujan berisiko menggenangi gabah karena kontur permukaan terpal mengikuti lengkungan lantai jemur yang tidak terlalu curam. Akibatnya, air hujan di permukaan terpal mengalir lebih lambat ke cekungan pembuangan.

Menurut Budi untuk membuat pengering dengan metode tenda sangat mudah dan praktis. Petani tidak perlu merombak lantai jemur yang sudah ada. Yang penting, pastikan desain lantai jemur dibuat seperti “guludan” dengan kontur permukaan lantai melengkung. Tujuannya untuk mencegah air hujan menggenang. Cekungan di antara guludan menjadi saluran drainase air hujan. Petani cukup menambahkan tiang besi untuk menopang bambu dan patok besi untuk menambatkan terpal agar tidak tersingkap saat ada angin kencang. Tinggi tiang besi penopang bambu cukup 60—80 cm. Karena tergolong sederhana, hasil inovasi Budi bernama Karya Santosa itu juga murah. Untuk luas lantai jemur 720 m², Budi hanya mengeluarkan biaya Rp1.530.000.

Biaya itu untuk membeli 10 batang bambu panjang 8 m, 30 pipa besi penopang bambu, 180 rol tali plastik untuk mengikat terpal, dan 120 patok besi. Lantai jemur seluas itu dapat digunakan untuk menjemur 10 ton gabah. Biaya itu memang lebih mahal bila dibandingkan dengan penjemuran di atas terpal seperti kelaziman petani padi. “Namun, sebetulnya tetap murah karena tenda itu dapat digunakan untuk jangka waktu lama,” kata Budi.

Untuk terpal, misalnya, bisa tahan hingga 5 tahun dan bambu 3 tahun. Biaya tenda juga jauh lebih murah bila dibandingkan dengan membuat bangunan seperti greenhouse untuk mengeringkan padi. Jumlah biaya untuk membuat bangunan pengering berkerangka bambu dan penutup plastik ultraviolet (UV) bisa mencapai Rp100.000—Rp300.000 per m². Artinya, untuk lantai jemur seluas 720 m² perlu biaya minimal Rp72-juta. Metode tenda juga dapat membantu meringankan pekerjaan petani. Mereka tak perlu repot-repot mengangkut gabah ke tempat teduh saat hujan turun. “Saat hujan gabah tetap terlindungi. Jadi biarkan saja,” ujar Budi. Petani cukup membolak-balikkan gabah setiap hari agar gabah kering merata. (SP/foto : monitor.co.id)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment