Loader
 

cara Panen Air Hujan

sahabatpetani.com – Ir. Kamir Raizudin Brata, M.Sc. selalu menantikan musim hujan. Warga Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu tak menyiakan-nyiakan air hujan. Alumnus magister Fisika Tanah The University of Western Australia, Perth, Australia Barat, itu memanen hujan melalui puluhan lubang resapan biopori yang tersebar berbagai sudut pekarangan depan rumah seluas 300 m2.

Di pekarangan itu terdapat total sekitar 70 lubang biopori. Lokasi lubang ada yang di tepi rumah tepat di bawah jatuhnya air hujan dari atap, di tepi pagar rumah, dan di sekeliling pohon. Biopori merupakan lubang alami berupa terowongan kecil yang terbentuk akibat aktivitas fauna dalam tanah dan akar tanaman. Kamir membuat lubang resapan biopori berdiameter 10 cm dan kedalaman hingga 100 cm.

Empat lubang

 Menurut Kamir lubang itu mampu menampung hampir 8 liter sampah organik seperti sisa makanan, daun kering, dan ranting pohon yang akan terurai selama 4—6 bulan. Ia mengambil kompos itu dan memasukkan kembali sampah organik ke lubang yang sama. Lubang biopori memang berpenutup yang dapat dibuka. “Fungsi utama lubang biopori sejatinya untuk menghidupi fauna dalam tanah yang berperan mengurai sampah organik.”

Oleh karena itu, pengisian sampah organik secara rutin ke dalam lubang dapat membantu fauna pengurai memperoleh makanannya tanpa harus berkeliaran di permukaan tanah. Fungsi lain, biopori meresapkan air hujan ke dalam tanah lebih baik melalui terowongan-terowongan kecil. Kamir mengatakan, setiap rumah bertanggung jawab atas air hujan yang menetes di kavelingnya.

Setidaknya kita bertanggung jawab mengembalikan air tanah yang terpakai untuk keperluan rumah tangga termasuk untuk menyiram tanaman. Laki-laki berusia 72 itu menegaskan, ”Oleh karena itu, air yang datang hanya pada musim hujan, jangan dibuang semua. Masing-masing kita bertanggung jawab atas air hujan yang turun di kavling rumah sendiri. Manfaatkan sebaik-baiknya dengan meresapkan ke dalam tanah.”

Kamir mengamati sampah organik di hutan, tidak tercium bau busuk lantaran sampah terproses dengan baik. Fungsi lain biopori mengurangi emisi karbon dari sampah organik sehingga tidak mengeluarkan bau busuk. “Tanah sangat membantu menyerap bau dalam proses pengomposan. Sampah organik yang membusuk mengeluarkan gas karbon dan metan sehingga menimbulkan bau tidak sedap.

Biopori bukan semata untuk menyerap air, melainkan sebenarnya untuk mengurangi emisi karbon yang umumnya berasal dari sampah organik. Rumah sempit di perkotaan justru wajib memiliki lubang resapan biopori. Menurut hitungan penemu lubang resapan biopori itu, setiap kepala perlu 4 lubang. Jika satu keluarga terdiri atas 4 orang, setidaknya mereka perlu 16 lubang biopori untuk menampung sampah organik.

Ia menegaskan, sebenarnya tidak perlu membuat lubang terlalu banyak sebab yang terpenting adalah lubang harus selalu terisi. Tak perlu modifikasi lubang dengan pipa polivinil klorida atau lainnya. Justru itu akan mengganggu aktivitas hewan pengurai. Ukurannya juga tidak perlu diperbesar sebab ukuran itu pas untuk pengomposan secara alami.

Air juga banyak terserap. Menurut Penerima penghargaan Satyalancana Karya Satya tahun 2009 itu dengan biopori tak ada sampah dan air yang terbuang. Semua termanfaatkan dengan baik dan kembali pada lingkungan. Sebuah harmoni yang menjaga kelestarian alam.

Rumah panggung

Menurut arsitek di Bandung, Jawa Barat, Yu Sing Lim, kebanyakan kota di Indonesia dibangun tidak ramah air. “Kota makin padat sehingga daerah resapan berkurang. Kondisi itu memicu air tanah kering dan muka tanah turun sehingga menyebabkan banjir,” kata arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung itu.

Yu Sing menuturkan, bangunan yang dapat mengonservasi air harus mempertimbangkan kemampuan menyimpan air sebanyak mungkin dan atau meresapkan kembali air ke dalam tanah. Yu Sing pernah merancang beberapa model rumah yang dapat mengonservasi air. Salah satunya rumah panggung. Bagian bawah rumah bisa menyimpan atau meresapkan air secara optimal lantaran tanahnya terbuka.

Rumah panggung setidaknya memiliki tinggi 60 cm dari permukaan tanah. Jarak itu agar memudahkan pemeliharaan sehingga orang bisa masuk ke kolong. Bambang Sulistiyo di Lentengagung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, memilih desain rumah panggung agar lahan bisa “bernapas” ternasuk memberi ruang lebih  luas untuk resapan air. Selain itu, infrastruktur rumah panggung menyediakan sirkulasi udara alami.

 Bambang yang berprofesi sebagai wartawan membangun rumah panggung pada 2015 dengan luas bangunan 12 m2. Pembangunannya memerlukan waktu sekitar 6―8 bulan. Lokasinya memang aman dari banjir. Namun, Bambang khawatir bila musim hujan. Sekitar 100 m di sebelah utara rumahnya ada Sungai CIliwung. Oleh karena itu, pemilihan rumah panggung ini sebagai salah satu langkah antisipasi.

Menurut Bambang menempati rumah panggung,  “Sirkulasi udara lebih baik dan cahaya alami di dalam rumah dapat menghemat biaya listrik. Pengalaman ruangnya bikin kerasan,” kata laki-laki berusia 45 tahun itu. Selain itu, ia tidak pernah kesulitan memperoleh air bersih. Sayangnya Bambang belum menghitung secara detail ketersediaan air untuk membandingkan kondisi sebelum dan setelah memiliki rumah panggung.  (SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment