Loader
 
foto dari duriandelivery.com

Durian Unggul Introduksi Berbuah

sahabatpetani.com – Josia Lazuardi benar-benar mendapat durian runtuh. Tiga buah durian, yakni ochee, musang king, dan chumasi alias namlung petaling jatuh di kebunnya pada Sabtu pagi, 27 Januari 2018. Ketiga durian itu jenis unggul. Ochee durian asal Penang, Malaysia. Leow Cheok Kiang asal Penang mendaftarkan durian berjuluk duri hitam itu kepada Departemen Pertanian Malaysia pada 15 Agustus 2012 dengan nama D200. Durian berdaging buah jingga itu populer sejak menjadi juara kontes durian di Penang pada 2012.

Musang king juga durian asal Malaysia. Durio zibethinus itu menjadi andalan negeri jiran sebagai komoditas ekspor dengan target pasar Tiongkok. Adapun chumasi durian unggul lokal asal Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Di sana chumasi begitu sohor lantaran harga jualnya fantastis. Pekebun di Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Nurhulis, mengisahkan bahwa pengusaha di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Babel, membeli Rp500.000 per buah.

Pemerintah Provinsi Bangka Belitung merilis chumasi sebagai varietas unggul nasional pada 2001. Nama varietas baru itu namlung petaling. Itu untuk menghormati pemilik pohon induk bernama Namlung. Adapun petaling dari nama lokasi kantor Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Babel di Petaling, Pangkalpinang. Harpa mafhum, rilis itu hasil kerja sama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian dan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu) di Solok, Sumatera Barat.

Kabar dari Josia itu tentu saja menarik. Pasalnya, ketiga jenis durian unggul itu tumbuh di kebun milik Josia di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasi kebun itu berjarak ribuan kilometer dari daerah asal ketiga jenis durian itu.

 Ciri khas namlung terlihat dari ukuran pongge yang besar-besar. Dalam satu juring maksimal terdiri atas dua pongge. Sayangnya warna daging buahnya kuning pucat, lebih pucat bila dibandingkan dengan namlung petaling dari pohon induk. Begitu menggigit daging buah namlung, gigi seperti tenggelam dalam daging buah. Salah satu keunggulan namlung petaling adalah daging buah yang tebal. Cita rasa dominan manis. Rasa pahit yang menjadi ciri khas namlung belum begitu kental terasa.

Bisa jadi rasa pahit belum muncul lantaran buah baru saja jatuh. Tekstur daging buah juga belum sekental dan creamy seperti di daerah asalnya. “Namun, untuk durian lokal ini sudah enak,” ujar Tatang Halim, pemasok buah-buahan asal Muarakarang, Jakarta Utara, yang turut mencicip namlung petaling dari kebun Josia. Menurut Josia karakter rasa dan warna daging buah namlung dari kebunnya memang belum seragam.

Namun, sebagian besar namlung dari kebun Josia berkarakter daging buah yang sesuai dengan namlung asal pohon induk. Kualitas beberapa buah bahkan lebih baik daripada namlung dari daerah asalnya. “Kematangan buahnya sudah merata, pahitnya sudah baik, daging buahnya creamy, lebih enak daripada namlung yang di Bangka,” ujar Adi Gunadi. Gunadi pehobi durian di Jakarta Selatan yang kerap mencicip durian unggul dari berbagai daerah di Indonesia dan Malaysia.

Josia mengebunkan namlung petaling pada 2010. Hingga kini ada 10 pohon namlung petaling di kebun pria yang juga pengusaha sarang walet itu. Lima pohon di antaranya berbuah. Menurut pekebun itu namlung di kebunnya tergolong produktif. “Jumlah buah bisa mencapai 200 buah per pohon jika tidak dilakukan penjarangan,” ujarnya. Untuk memperoleh buah berkualitas prima, ia menyeleksi buah dan hanya mempertahankan 40—70 buah per pohon.

Namlung petaling di kebun Josia boleh jadi yang pertama berbuah di Pulau Jawa. Itu menjadi contoh bahwa varietas durian itu mampu beradaptasi di luar daerah asalnya. Karakter buahnya tidak menyimpang jauh dari buah asal pohon induk. “Kualitas buah dapat ditingkatkan dengan memperbaiki ramuan nutrisi dan perawatan,” ujar Josia.

Setelah melahap namlung, Josia lalu membuka durian musang king. Begitu terbuka ciri khas mao san wang—nama lain musang king—langsung terlihat dari daging buah yang tampak seperti berkerut. Warna daging buah belum sepekat musang king asal Malaysia. Meski begitu tekstur daging buah selembut dan selengket di negara asalnya. Rasanya dominan manis dengan sedikit pahit di bagian ujung. Rasa itu memang ciri khas musang king sehingga semua kalangan konsumen durian menerimanya. Populasi musang king di kebun Josia paling dominan, yakni mencapai 150 pohon.  Dari jumlah itu 30 pohon yang sudah berbuah. Beberapa di antaranya bahkan sudah 2—3 kali berbuah. Di kebun itu musang king juga tergolong produktif. “Jumlah buah bisa lebih dari 100 buah per pohon, tapi saya seleksi dan hanya disisakan 40—50 buah per pohon,” ujar pria yang gemar bertopi itu. Hal itu memperkuat bukti bila musang king adaptif di tanah air dengan kualitas mendekati di daerah asalnya. (SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment