Loader
 

Kale Crispy dan Smoothies, Olahan Sayuran Kekinian

www.sahabatpetani.com – Mirip di mancanegara, sayuran kale bisa diproduksi menjadi aneka olahan. Fahmia Maratus Tsanie, salah satu pengolah yang memiliki ide berkreasi dengan kale.  Produsen kale Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kotamadya Batu, Jawa Timur, itu memproduksi keripik, smoothies, kue stik, dan bubuk kale. Agar aman, Fahmia sengaja memilih kale organik sebagai bahan baku. Bahan lainnya, juga diambil dari bahan-bahan organik bergizi seperti minyak zaitun, madu, pisang dan lemon.

Bisnis itu ia lakukan sejak 2016 bersama Imam Ghazali dan Rakhmad Hardiyanto.  Tujuannya, untuk meningkatkan nilai tambah dan daya tahan produk sayuran. Sebagai perbandingan, jika harga jual kale segar mencapai Rp80.000—Rp100.000 per kg, harga smoothies kale mencapai Rp25.000 per botol berisi 350 ml. Padahal untuk meracik satu botol smoothies hanya diperlukan 25—30 gram daun kale segar. Sisanya, diberikan tambahan bahan lain seperti madu, pisang, dan minyak zaitun untuk meningkatkan cita rasa.

Mengolah kale juga menjadi solusi ketika produk segar tidak habis terjual. Namun dibutuhkan penanganan pasca panen yang tepat. Smoothies contohnya, karena tak ada campuran bahan pengawet, olahan kale itu hanya mampu bertahan selama 4 jam.  Dengan kondisi itu, Fahmia memasarkan smoothies di Kota Malang dan sekitarnya. Wajar bila cara pembeliannya butuh waktu pemesanan sebelumnya. Biasanya Fahmia melayani pesanan dari tempat wisata, komunitas yoga, dan kegiatan untuk para pencinta hidup sehat. Perempuan kelahiran 4 September 1990 itu berkeyakinan khasiat smoothies berbahan kale terasa dari stamina tubuh yang selalu segar dan penambahan gizi.

Satu gelas sayuran keluarga sawi itu mengandung protein hingga 3 g, serat 2,5 g, dan 1,35 mg kalsium per gram kale mentah. Karena merasakan manfaatnya, banyak pelanggan yang memesan ulang minuman sehat itu. Untuk membuat smoothies kale sejatinya mudah. Mula-mula Fahmia menyiapkan tiga lembar daun kale segar yang sudah dicuci bersih lalu menambahkan 350 ml air matang, separuh buah pisang ambon, 100 ml air kelapa, satu sendok makan madu, dan cairan lemon 1/8 bagian. Bahan-bahan tersebut cukup untuk menghasilkan 500-an ml smoothies.

Alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, itu menjaga kebersihan selama memproduksi minuman kesehatan kale. Semua bahan lantas diblender hingga larut, bercampur merata, dan lembut.  Warna smoothies kale yang hijau muda lantas dituang ke dalam botol bersih. Smoothies kale siap dinikmati. Untuk olahan crispy atau keripik, bahan diambil dari daun kale. Fahmia memproduksi 3 kg keripik per hari. Menurut Rakhmad satu kg keripik kale berasal dari 10 kg daun segar. Untuk membuat keripik kale, Fahmia memanfaatkan bahan baku berupa sayur kale segar, minyak zaitun, garam laut, dan bubuk bawang. Permintaan pasar masih tinggi dan belum terpenuhi. Mereka hanya memenuhi sebagian kecil dari kebutuhan pasar. Fahmia menjual keripik itu ke Jakarta, Malang, Surabaya, dan Bali.

Olahan lain yang juga potensial dikembangkan adalah kue stik. Sekitar 5—10 kg kue stik per bulan berhasil diproduksi. Ia mengemas kue itu hingga 100 dan 150 gram. Saat ini pemasaran kue stik berjalan ke berbagai kota seperti Malang, Surabaya, dan Denpasar. Produksi kue stik mencapai 2 kg per pekan. Kebutuhan bahan baku untuk membuat kue stik, smoothies, dan keripik mencapai 80-an kg daun kale per pekan. Fahmia memanfaatkan kale dari lahannya untuk menjaga mutu. (SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment