Loader
 

Kematangan Buah Tepat Terukur

sahabatpetani.com – Hampir setiap hari Sitti Yani mampir ke toko buah di dekat kantor. Ia mengamati warna dan memijit buah untuk mengetahui kematangannya. “Kadang warna luar tidak sesuai dengan daging buah di dalamnya. Saya pernah menemukan pisang seperti dipaksakan masak. Tampilan luar kuning dan daging buah terlihat sudah matang tapi ketika digigit rasanya masih mentah,” kata dosen di Kota Bogor, Jawa Barat, itu.

Distributor juga masih menerapkan metode konvensional untuk mengecek kematangan buah. “Kami mengetahui tingkat kematangan buah dengan pengamatan fisik dan menghitung umur panen. Sejauh ini lumayan akurat tapi ada beberapa kasus yang meleset sekitar 10—20%,” kata Vendi Tri Suseno dari PT Laris Manis Utama, distributor buah di Jakarta Timur.

Sekunci mobil

Tingkat kemelesetan hingga 20% itu cukup signifikan bagi distributor yang telah mengekspor mangga arumanis ke Malaysia dan Singapura itu. Peneliti Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Y. Aris Purwanto, M.Sc., menuturkan “Kita cenderung hanya melihat warna padahal tingkat kematangan ditandai beberapa faktor seperti kandungan senyawa tertentu.”

Salah satu kandungan senyawa itu kadar pati yang tidak terdeteksi jika hanya dilihat kasat mata. Lazimnya periset menggunakan bahan kimia tertentu untuk mendeteksi kadar zat dalam buah sehingga dapat menentukan tingkat kematangannya. Cara itu perlu waktu dan tidak praktis. Aris menggunakan metode deteksi nondestruktif dengan teknologi near infrared (NIR) spectroscopy.

Anggota staf pengajar Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB itu memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk mendeteksi senyawa dalam buah secara akurat. Prinsipnya, sensor memancarkan gelombang elektromagnetik. Ikatan molekul tertentu akan menyerap gelombang itu sedangkan sisanya akan dipantulkan kembali.

Sensor menerima gelombang pantulan dan mendeteksi ikatan molekul dalam buah. Riset yang dimulai pada 2010 itu semula menggunakan spektroskopi dengan panjang gelombang 1.000—2.500 nm. Alat itu mirip printer sehingga hanya bisa digunakan di laboratorium. Seiring perkembangan teknologi, Aris dan tim mengembangkan alat deteksi portabel seukuran kunci mobil yang terhubung dengan telepon pintar melalui bluetooth.

Doktor Teknik Biologi dan Lingkungan alumnus University of Tokyo itu mengatakan, model pengukurannya tersimpan dalam cloud storage yang bisa diakses kapan pun asal terhubung internet. Alat deteksi portabel itu dilengkapi sensor dengan panjang gelombang 760—1.050 nm. Aplikasi pada gawai menerjemahkannya sebagai kadar gula dalam satuan ºbrix hanya dalam hitungan detik.

Akurasi 90%

Detektor model portabel praktis dipakai konsumen atau penjual retail dengan jumlah buah yang tidak terlalu banyak. Namun, model itu masih perlu pengembangan agar dapat digunakan skala besar oleh distributor. “Distributor dapat menggolongkan buah secara akurat berdasarkan kadar gula yang terdeteksi. Alat itu mampu mendeteksi kemanisan dengan akurasi hingga 90%,” kata Aris.

Akurasi detektor bergantung pada ketebalan kulit buah dan kuantitas zat yang terdeteksi. Sensor dapat mendeteksi tingkat kematangan buah dengan ketebalan kulit kurang dari 5 mm seperti mangga, apel, dan pepaya. Guru besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB itu mengatakan, makin banyak kuantitas senyawa yang terkandung, akurasinya makin tinggi.

Itu terbukti pada riset Noneng Fahri dari Program Studi Teknik Mesin Pertanian dan Pangan, Sekolah Pascasarjana, IPB. Ia menganalisis kandungan asam dan gula pada mangga gedong gincu dengan spektroskopi NIR. Akurasinya 77%. Fahri menggolongkan mangga ke dalam 3 kategori, yakni 19 sampel masam, 26 sampel masam manis, dan 1 sampel manis.

Dari 60 sampel, 46 buah di antaranya terdeteksi dengan tepat. Kandungan senyawa masam pada mangga yang terdeteksi adalah asam sitrat, asam malat, dan asam askorbat. Sementara itu, rasa manis lantaran ada kandungan selulosa. Fahri mengamati, rasio gula-asam gedong gincu meningkat selama penyimpanan. Kadar gula naik sedangkan masam turun. Rasa masam menjadi daya tarik utama mangga gedong gincu.

Rendahnya akurasi itu juga lantaran pengelompokan umur petik oleh petani kurang tepat. Sampel yang harusnya tergolong masam-manis terdeteksi masam dan sebaliknya. Aris mengatakan deteksi kematangan buah yang akurat justru dilakukan saat budidaya (preharvest) untuk mengetahui indeks panen. Setelah itu barulah ditentukan penanganan pascapanen yang tepat.

Selain buah, spektroskopi NIR juga mampu mendeteksi kadar bahan aktif minyak asiri, kemurnian susu, kualitas telur ayam, kualitas minyak goreng, bahkan kemurnian madu. Industri bahan pangan sudah menerapkannya untuk mengukur kandungan zat tertentu seperti protein pada terigu. Menurut Aris teknologi itu memiliki rentang kegunaan luas, tinggal pengembangan model pengukuran disesuaikan dengan kebutuhan. (SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment