Loader
 

kiat Agar Mangga Kiojay Tampil Prima

sahabatpetani.com – Foto mangga golden queen di situs dunia maya membuat Ahut F Hendarul sangat penasaran. Sosok buahnya besar dengan warna kuning menarik. Sepertinya saya mengenali sosok fisik buahnya. Arul—sapaan akrabnya, menduga itu mangga kiojay. Kiojay mangga bersosok besar, tapi lazimnya berwarna hijau dengan semburat kemerahan ketika matang.

Arul pun menelusuri mangga cantik itu di berbagai situs dunia maya hingga menemukan situs produsen golden queen di Filipina pada 2013. Filipina lebih dulu mendatangkan kiojay daripada Thailand. Kiojay hasil tangkaran Jin Huang dari Taiwan. Hasil pengecekan Arul ke berbagai sumber, golden queen merupakan nama dagang mangga kiojay. Nama golden queen disematkan merujuk pada kulitnya yang kuning seperti emas.

Bagaimana duduk perkara kiojay berubah warna? “Perubahan itu karena perlakuan pembungkusan saat kiojay masih di pohon dan pascapanen berupa pemeraman,” kata Arul. Lebih lanjut ia menjelaskan, pekebun di Thailand dan Taiwan kerap menggunakan pembungkus buah untuk menghasilkan warna mangga yang seronok. Dengan penampilan yang cantik, mangga-mangga itu memiliki nilai plus harga tinggi. Itu yang dilakukan pekebun mangga mahachanok di Chiangmai, Thailand. Mahachanok mangga unggulan Thailand dengan warna seronok: kuning kombinasi merah saat matang, hijau kombinasi merah saat muda—seperti pelangi. Untuk mendapatkan warna bak bianglala itu pekebun membungkus mahachanok menggunakan kantong kertas berjendela plastik. Bagian plastik yang transparan menghadap luar, kertas di dalam.

Pembungkusan sejak buah berumur 15 hari hingga umur 70 hari. Ada juga yang baru melakukan pembungkusan pada umur 75 hari. Perlakuan itu menghasilkan warna kulit mahachanok seragam: kuning kemerahan saat matang. Dengan penampilan seperti itu mangga yang namanya berarti ayah yang agung itu menembus pasar ekspor ke Jepang. Pada kiojay pembungkusan menggunakan kertas semen berlapis kertas karbon. Selanjutnya saat buah mencapai kematangan 70—80%, pekebun memanen dan memeram buah. Pemeraman beralas tanah dilapisi jerami. Lalu pekebun memberi karbit dan menambahkan para-para dari bambu di lapisan teratas. Mangga disusun sejajar dan ditutup dengan selimut tebal bekas. “Kondisinya hangat dan gas karbit tidak kemana-mana. Maka jadilah golden queen,” ujar Arul yang melihat proses pascapanen mangga golden queen di situs dunia maya.

Pada 2014 Arul mencoba mempraktikan teknik pembungkusan itu di pohon kiojay miliknya. Pohon itu hasil sambung sisip kiojay pada pohon mangga chokanan. Kali itu tanaman baru berbuah perdana. Alumnus Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya, Malang, itu menggunakan kertas semen berlapis kertas karbon seperti yang digunakan pekebun di Thailand. Pria asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, itu membungkus mangga saat seukuran telur atau umur 20 hari pascabunga. Ketika tingkat kematangan 70—80% atau 90—100 hari pascabunga, ia memetik buah. Arul kemudian membungkus dengan dua lembar kertas koran dan menyimpan di suhu ruang selama sepekan.

Selang 7 hari, Arul membuka kertas koran pembungkus dan hasilnya luar biasa. Kiojay yang lazimnya hijau semburat merah berganti kuning keemasan yang menggoda mata. Prof. Dr. Ir. Sobir, M.Si., pakar buah dari Institut Pertanian Bogor menuturkan pembungkusan pada buah mangga membuat pembentukan klorofil terhambat. Akibatnya buah yang seharusnya hijau kekuningan warna hijaunya menjadi hilang. “Karena klorofil terhambat, warna hijaunya jadi pucat. Jadi manfaat pembungkusan buah lebih ke arah memperbaiki penampilan buah,” ujar alumnus Okayama University, Jepang, itu.

Tak hanya penampilannya yang elok, cita rasa kiojay yang sudah matang sempurna itu manis legit. Teksturnya pun padat. Lazimnya buah kiojay matang pohon dagingnya lembek dan kenyal seperti jeli terutama di sekitar biji. Istilahnya jelly seed. Akibatnya, banyak daging buah yang terbuang. Dengan perlakuan pembungkusan dan pemeraman buah dengan kematangan 70% tidak ada lagi daging buah terbuang karena tekstur seragam.Menurut praktikus buah di Yogyakarta, Wiwik Wijayahadi pada dasarnya nyaris semua mangga memiliki karakter seperti kiojay ketika buah terlalu matang di pohon. Apalagi jika buah jatuh, maka rasanya tidak nikmat lagi.

Ketika mangga telah matang sejatinya sudah tidak ada lagi asupan fotosintat atau hasil fotosintesis ke buah. Maka yang terjadi proses fermentasi di dalam buah. Kasusnya sama seperti durian yang memiliki rasa pahit. Itu karena durian sudah matang dan mengalami proses fermentasi di dalam buahnya. Akhirnya rasa buah yang mulanya manis berubah sedikit pahit Oleh karena itu, Wiwik menyarankan untuk mengonsumsi kiojay dengan memetiknya saat tingkat kematangan 70—80% lalu menyimpan di suhu ruang selama 3—4 hari. Rasanya pun  sempurna

Wiwik berpendapat penggunaan kertas pembungkus tergantung segmen pasar mangga. Teknik itu baru lebih cocok diterapkan oleh kebun mangga skala industri seperti kebun-kebun mangga di Thailand dan Taiwan.(SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment