Loader
 

Kiat Tembus Pasar Buah

sahabatpetani.com – Semula Ketua Kelompok Tani Makmur Jaya I, Novem Sujariyanto, dan Ketua Kelompok Tani Makmur Jaya II, Bunawi, kesulitan memasarkan mangga garifta milik anggota. Pada 2017 kedua kelompok tani itu memproduksi sekitar 2 ton garifta dari sekitar 200 pohon. Sebanyak 1 ton mangga diberikan kepada tetangga dan kerabat karena masak lebih dahulu, sedangkan sisanya terjual. Bagaimana cara Novem dan Bunawi menjual buah tanaman kerabat bacang Mangifera foetida itu? Pada November 2017 kedua kelompok tani itu mengikuti pameran di Malang, Jawa Timur, dan di alun-alun Situbondo. Dari kedua acara itulah masyarakat mengenal garifta produksi kelompok tani Novem dan Bunawi.

Selesai pameran pun permintaan garifta tinggi. Pembeli tidak hanya dari Malang dan Situbondo, tapi juga daerah lain seperti, Jakarta, Lampung, dan Kendal (Jawa Tengah). Pameran menjadi ajang sosialisasi dan pemasaran garifta yang semula hanya dikonsumsi petani. Nun di Indramayu, Jawa Barat, H. Urip, mengandalkan pemasaran melalui media sosial untuk penjualan mangga agrimania nunuk. Juara Lomba Buah Unggul Nasional (LBUN) 2014 itu. Peningkatan penjualan melalui media sosial sesuai riset Heru Nugroho dan Kastaman dari Fakultas Ilmu Terapan, Universitas Telkom, Bandung, Jawa Barat.

Dalam Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi (SNAST) 2014 Heru dan Kastaman menyatakan ada 5 kunci agar sukses menggunakan media sosial sebagai penunjang bisnis. Pertama buatlah fanpage untuk membangun merek produk (brand), menarik lebih banyak anggota fanpage, menunjukkan profesonalitas berbisnis, memudahkan promosi, dan terindeks pada mesin pencari (search engine). Kedua bergabunglah dengan grup media sosial lain yang memungkinkan produk bisnis dikenalkan.

Ketiga lakukan pembaharuan pada fanpage atau grup tertentu berkaitan dengan produk baru atau produk yang mendapatkan respons positif konsumen. Keempat tampilkan testimoni kepuasan pelanggan pada fanpage. Harapannya untuk meningkatkan kepercayaan konsumen atau calon pembeli. Kelima berikan informasi jelas tentang produk, cara pemesanan, dan sediakan ruang untuk konsumen agar bisa berkomunikasi secara personal. 

Ya, diakui salah satu kekhawatiran utama para pebisnis pertanian adalah masalah pasar. Proses budidaya relatif mudah lantaran banyaknya panduan dan sumber informasi penunjang keberhasilan. Namun, setelah berproduksi, ke mana menjual hasil pertanian itu dengan harga yang pantas sesuai dengan perjuangan yang telah dilakukan. Dilepas ke tengkulak, bisa berarti kemerdekaan produsen untuk menentukan harga produknya menjadi hilang.

Solusinya hanya satu, yaitu menciptakan pasar sendiri. Mudah dalam ucapan tetapi sulit mewujudkan. Itu yang biasa terlontar secara spontan saat solusi itu dilontarkan di hadapan para pengusaha agribisnis. Bisa jadi, pelaku usaha yang berpendapat demikian karena belum mengetahui cara-caranya. Kreativitas kuncinya. Semuanya memang memerlukan proses dan waktu, tidak dapat terlaksana dengan instan. Sabila Farm di Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, mendobrak kebuntuan pasar. Ia merancang pasar untuk produk pertaniannya seiring dengan perkembangan proses produksi. Contoh menarik pada kasus pasar buah lemon. Sabila Farm tertarik membudidayakan lemon karena sejak awal menitikberatkan komuditas berbasis kesehatan. Perusahaan itu juga mengebunkan beragam jenis buah naga, srikaya jumbo, sirsak madu, dan avokad.

Pada Februari 2016 manajemen Sabila Farm mengunjungi pameran buah “Fruit Logistica” di Messe, Berlin, Jerman. Di sana ia melihat, pemasaraan lemon sangat luar biasa. Pameran yang menempati luas 5 kali lapangan sepkbola itu didominasi oleh lemon. Waktu itu jeruk nipis kurang dihargai. Namun, kemudian, dari modia sosial muncul info bahwa manfaat lemon itu sangat besar bagi kesehatan.

Ia kemudian mencari bibit lemon dan mendapatkannya dari Amerika Serikat. Citarasa buah lemon asal Abang Sam kombinasi antara keprok dengan nipis dan aromanya dari nipis dan kesegaran dan rasa dari keprok. Buah nirbiji. Kembali ke tanah air, ia segera mengebunkan lemon karena menganggap bahwa bisnis itu tidak sulit dan berprospek cerah. Saat itulah Sabila Farm mulai merintis jalan membuka pasar untuk produk pertanian anyarnya. Penyebaran informasi ke calon konsumen melalui berbagai cara dan media. Keberadaan media sosial dan perangkat informasi selular sangat membantu penetrasi pesan ke khalayak. Isi pesan berupa pemberitahuan bahwa kini ada kebun lemon di Yogyakarta siap memenuhi kebutuhan buah di masyarakat. Promosi itu 2 bulan menjelang panen. Sejatinya, saat awal sebelum tanam pun ia memberitahu akan menanam lemon.

Setelah itu, produk harus dipromosikan secara berkala. Dengan demikian pasar akan terjaga dan terawat. Jangan takut menampilkan keunggulan produk pertanian kepada konsumen. Pada kasus Sabila Farm, mempunyai ciri khas dan dikembangkan di lahan marginal. Kemas sebuah “pencitraan” yang baik, tetapi tidak boleh membohongi dengan menambahkan hal yang tidak sesuai fakta. Permasalahan di Indonesia kebanyakan petani hortikulutra tidak bisa membuat pasar sendiri. Padahal, itu hal yang vital. Pasar harus dibuat menarik. Sabila Farm itu sebagai tempat penghasil buah-buah berkualitas. Citra itu harus melekat di pikiran calon konsumen. Beruntungnya, ia bertani di lereng Gunung Merapi yang kaya sulfur dan magnesium sebagai nutrisi tanaman buah. Itu tidak bisa dikuti oleh pekebun di daerah lain.

Petani juga mesti bisa mengatur dan mengelola harga produk pertanian sesuai dengan kualitas yang ditawarkan. Di pasaran harga lemon Rp65.000—Rp80.000 per kg dengan kualitas tidak terjamin akan memuaskan penikmatnya. Sabila Farm berusaha menghasilkan lemon lebih baik, dalam hal aroma dan citarasa. Dengan demikian, produk buah yang sudah terjamin kualitasnya layak dilepas dengan harga lebih.

Respon pasar juga tetap baik. Ada hukum tidak tertulis yang menyebutkan ada harga ada rupa, untuk menggambarkan kesesuaian kualitas barang dengan pengorbanan yang harus dilakukan. Namun, yang harus selalu diingat, semua itu tidak bisa terjadi secara tiba-tiba alias memerlukan waktu dan kerja cerdas. Selalu lipatgandakan kemungkinan memperoleh keuntungan dengan cara diversifikasi produk.

Jangan lupa untuk selalu membuat produk yang dihasilkan lebih unggul daripada produk serupa di pasaran. Hasilnya permintaan buah pepaya Sabila Farm dapat menembus pasar Singapura dan mereka selalu meminta pasokan pepaya dari kebun, tidak mau dari tempat lain. Permintaan lokal pun juga masih belum bisa terpenuhi. Apa yang dilakukan Sabila Farm adalah salah satu solusi memecahkan permasalahan pasar produk pertanian. Hasil pada setiap orang dapat berlainan tergantung perjuangan yang dilakukan. Namun, faktanya kini dalam setahun sekitar 6.000 orang datang dan belajar budidaya dan pemasaran di Sabila Farm. Semuanya dirintis dan memerlukan waktu dalam prosesnya. Mari kita mulai bertindak demi kemajuan industri pertanian Indonesia.(SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment