Loader
 

Kuliner “Istimewa” Ala Gunung Tilu

sahabatpetani.com – Sebatang pohon besar tumbang melintang menghalangi perjalanan. Di batangnya yang telah lapuk tumbuh jamur kuping Auricularia polytricha yang cukup banyak dan masih segar. Pemilik kebun kopi di Pangalengan, Kabupaten Bandung Barat, Iwan Sumpena, dengan sigap memanjat lalu duduk menunggangi batang. Berbekal kantung plastik, ia memanen sebagian besar jamur itu dan memperoleh sekitar 1/2 kg jamur kuping segar. Jamur kayu berwarna cokelat itu lazim dibudidayakan petani jamur di lahan berketinggian lebih dari 500 m di atas permukaan laut (dpl).

Kampung Batas, Desa Pulosari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, demikian wilayah ini disebut. Sesuai namanya, kampung itu berbatasan langsung dengan Cagar Alam Gunung Tilu yang dikelola Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat. Kebun Iwan Sumpena terletak di ketinggian 1.400 m dpl. Lokasi itu dipilih sebagai tempat berkemah karena suasana sangat alami. Pemandangan indah, jauh dari pemukiman warga, plus dekat dengan cagar alam dan kawasan hutan milik PT Perhutani. Di sana terdapat hutan pinus, rasamala, dan puspa milik Perhutani serta kebun kopi yang dikelola masyarakat.

Kebun yang Iwan tanami kopi, cabai gendot, dan sawi itu pun ia sewa dari PT Perhutani. Saat itu tanamannya baru memasuki fase pembibitan. Ia membangun dangau untuk beristirahat setelah penat berkebun. Setelah beristirahat dan minum kopi, Iwan mengajak sejumlah pecinta alam mencari bahan makanan ke dalam hutan Gunung Tilu. Rombongan itu sengaja tidak membawa bahan makanan selain beras dan berbagai bumbu. Sayur dan lauknya akan mencari di hutan untuk diolah sesuai kebiasaan masyarakat di kaki Gunung Tilu, Pangalengan, Kabupaten Bandung Barat itu.

Selepas melewati kebun Iwan, tanaman sintrong Erechtites hieraciifolia tumbuh liar di sekitar pohon kopi milik tetangga kebun Iwan. Tespong—nama lain sintrong—biasa dikonsumsi masyarakat Sunda Maklum, tespong hampir setiap hari dijual di Pasar Kemang—pasar induk di Kota Bogor. Menurut Iwan, sintrong dapat dikonsumsi setelah dimasak atau sebagai lalapan. Dengan tekstur lembut, tespong dapat menggantikan bayam atau kangkong. Selain tespong, di lokasi sama juga tumbuh saudara sejenisnya yaitu Erechtites valerianum. Bedanya tulang daun E. valerianum duduk saling berhadapan. Sepintas penampilannya mirip daun seledri. Masyarakat setempat menyebut tanaman itu juga dengan nama sintrong. Di tempat sama juga tumbuh mentimun liar bernaman bobontengan Cucumis sp.

Layaknya mentimun, bobontengan tumbuh merambat ke tumpukan kayu pagar dan pohon di dekatnya. Buah tanaman gulma itu unik, berbentuk bulat melengkung diselimuti duri lembut. Panjangnya hanya 3—4 cm dengan diameter 2 cm. Sebagai anggota famili Cucurbitaceae, ia pun dapat dikonsumsi dengan rasa sama seperti mentimun. Menurut Iwan, selain buah, pucuk daun muda bobontengan pun edible. Masih di kebun itu, ditemukan juga  jalantir Galinsoga sp. Sosoknya pendek dengan daun lebar.

Menurut Iwan, daun muda rumput liar itu juga dapat dimakan. Hanya jangan salah petik, sebab sosoknya sangat mirip babadotan Ageratum conyzoides, gulma umum di lahan perkebunan. Meski sama-sama anggota famili Compositae, daun babadotan kasar, berserat, dan berbulu sehingga tidak dapat dikonsumsi. Perbedaan keduanya tampak dari warna bunga. Bunga jalantir kecil putih, sedangkan bunga babadotan ungu. Selepas kebun kopi itu, rombongan memasuki hutan cagar alam. Jenis tumbuhan yang ditemui makin beragam. Rasamala dan puspa mendominasi tajuk, sedangkan lantai hutan ditumbuhi aneka palem-paleman. Menurut periset di Pusat Penelitian Botani LIPI Cibinong, Bogor, Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo, ada 2 jenis palem yang pucuknya edible. Keduanya adalah Pinanga coronata dan palem ekor ikan Caryota mitis. Rasa kedua palem hutan itu manis dan renyah. Menurut Iwan, pucuk palem itu dapat dimakan segar atau diolah.

Warga Desa Pulosari lazim menumis atau membuatnya menjadi sayur kuning. Teksturnya renyah mirip rebung bambu. Iwan menyebut Pinanga coronata dengan sebutan binbin. Pohonnya ramping dengan tinggi 2—8 m dan diameter batang 2—7 cm. Palem ekor ikan mempunyai nama lokal swangkung. Tingginya mencapai 15—20 m dengan diameter batang 30 cm. Untuk menemukan palem ekor ikan besar itu, kami harus melalui medan yang sulit. Pasalnya, swangkung tumbuh di kemiringan 45—70°.

Karena tujuan pendakian untuk mencari bahan makanan, maka rute perjalanan tidak mendaki terus, tetapi naik turun. Iwan seolah hafal letak semua tumbuhan di Gunung Leutik—salah satu dari tiga bukit yang lazim disebut Gunung Tilu—sehingga Trubus tidak perlu berputar-putar atau tersesat. Hanya medannya sulit dilalui karena rombongan harus membuka rute baru dan melewati tumbuhan liar yang berduri. Di pertengahan pendakian, aneka pakis berbagai ukuran banyak tumbuh. Iwan dengan mudah mengenali pakis yang dapat dikonsumsi.

Menurutnya, pakis yang dapat dimakan memiliki tangkai daun kasar. Sedangkan pakis yang tidak dimakan bertangkai daun halus. Contoh yang dapat dikonsumsi ialah pakis sayur Pterys edulis dan paku tiang Cyatea sp. Iwan kemudian menunjukkan satu jenis paku unik sejenis pteris yang memiliki calon anakan pada tiap ruas anak daun. Menurut Titin Praptosuwiryo, peneliti di Kebun Raya Bogor, pakis itu disebut Diplazium accendens. Anakan di ketiak daun itu dapat dikonsumsi. Menurut Iwan, “anakan” itu dapat dimakan setelah diolah.

Karena itulah kami memetik calon anakan pakis sebesar jempol tangan. Menurut Iwan, sebatang pohon pakis menghasilkan 10—20 tangkai calon anakan. Dengan memetik seperlunya, pohon itu tidak akan punah. Trubus pun memetik 2 genggam pucuk paku itu untuk dibawa pulang. Rombongan lalu melanjutkan pendakian menuju puncak. Semakin tinggi, pohon besar semakin dominan sedangkan tanaman edibel semakin langka. Dua jam berselang, rombongan tiba di puncak berketinggian 1.600 m dpl itu.

Selagi beristirahat, kabut semakin pekat sehingga rombongan memutuskan turun. Di tengah perjalanan turun itulah Trubus menjumpai jamur kuping segar yang tumbuh alami. Di tengah perjalanan, Iwan kembali menunjukkan bahan makanan, yaitu jantung pisang batu yang tumbuh liar di lereng terjal. Iwan kemudian menebang pohon pisang setinggi 7 m itu untuk mengambil jantungnya. Sosok buahnya lebih kecil daripada pisang budidaya. Buah pisang batu yang matang kurang enak dimakan segar karena penuh biji.

Rombongan juga memungut kayu lapuk sebagai kayu bakar untuk pemanas air dan memasak. Sayang, malam itu semua kelelahan sehingga bahan makanan yang terkumpul digeletakkan begitu saja. Keesokan paginya, Iwan telah bersiap-siap memasak dan mengolah sayur. Trubus dan Prabu memetik sintrong dan bobontengan yang kemarin belum dipetik. Pengolahan sintrong sederhana. Daun diiris tipis, dicuci, lalu ditumis dalam tungku tanah. Pagi itu, Trubus sarapan dengan tumis sintrong dan pakis, serta sambal tomat terasi ala Iwan Sumpena.

Siangnya, setelah pulang dari eksplorasi hutan, Iwan kembali memasak dari bahan yang telah dipetik sebelumnya. Bahannya adalah jantung pisang batu, cabai gendot muda hasil kebun, dan jamur kuping. Tidak lupa ia menyiapkan kudapan berupa pakis goreng. Cacahan jantung pisang dicampur dengan telur kemudian digoreng menjadi bakwan, tanpa tepung. Jamur kuping diolah menjadi oseng-oseng. Teksturnya mirip kikil diolah tetapi kenyal seperti krecek. Rasanya lebih enak dan gurih seperti daging. Sedangkan cabai gendot digoreng hingga empuk. Rasanya enak dan tidak terlalu pedas. Saat paprika mahal, cabai ini bisa menjadi pengganti. (SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment