Loader
 

Luar Biasa! Tanam 1.300 Mangga/Ha

sahabatpetani.com – Kebun mangga di Desa Jatisura, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, itu spektakuler. Di lahan seluas sekitar 1 hektare berisi 1.333 pohon mangga. Lazimnya populasi di lahan hanya 100—156 tanaman. Populasi lebih tinggi karena jarak tanam yang digunakan 2,5 m x 3 m, sedangkan kebun lainnya 8 m x 8 m atau 10 m x 10 m. Sistem budidaya mangga itu disebut ultra high density planting (UHDP).

Haji Urip,pemlik kebun mengetahui teknik budidaya UHDP sejak 2014. Saat itu ia tidak sengaja membaca informasi itu di dunia maya. Terbersitlah keinginan menerapkan pola itu di kebun sendiri. Semula Urip berencana mempraktikkan teknik itu pada 2016. Namun, persiapan belum lengkap sehingga hasrat berkebun mangga sistem UHDP baru terwujud pada Oktober 2017. Pemilik nurseri Agrimania Flora Indramayu itu menanam manguier—sebutan mangga di Perancis—beragam jenis dan ukuran. Ada kiojay yang berumur sekitar 3 tahun dan chokanan berumur sebulan.

Nun di Batang, Jawa Tengah, Yusron Hadi Nugroho, mengelola kebun berisi 200 kiojay dan 50 garifta merah berjarak tanam 4 m x 2 m. Rencananya ia akan menempelkan entres mangga varietas lain seperti red ivory ke kiojay. Nantinya kebun yang dibangun pada Desember 2017 itu akan memproduksi aneka jenis mangga. Menurut Shyam Prakash Singh dari Faculty of AgricultureBidhan Chandra Krishi Viswavidyalaya, Bengal Barat, India, UHDP teknologi teranyar bertanam mangga berjarak tanam 2,5 m x 2,5 m. Lebih lanjut dalam jurnal Indian Farmer edisi Mei 2017, Shyam menyatakan, teknik UHDP berasal dari Afrika Selatan. Beberapa tahun lalu para peneliti terkejut menyaksikan sekitar 2.250 amb (sebutan mangga dalam masyarakat Kashmir) memadati lahan 1 hektare, sedangkan di India hanya 100—175 mangga di lahan sama.

Menurut Shyam UHDP meningkatkan produktivitas panen, kualitas buah, dan membuat ukuran buah seragam sehingga para peneliti mengadopsi teknik itu sesuai iklim di India. Melalui National Horticultural Mission Scheme, pemerintah India memberikan subsidi bagi pekebun yang ingin menerapkan UHDP. Peneliti mangga di Kebun Percobaan Cukurgondang, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Ir. Karsinah, M.Si., mengatakan baru mengetahui tentang high density planting (HDP). Di India teknik HDP berjarak tanam 2,5 m x 3 m dan 3 m x 3 m. Artinya terdapat sekitar 1.111—1.333 tanaman kerabat kedondong Spondias dulcis itu di lahan 1 hektare. Itu lebih longgar ketimbang UHDP, yang populasinya mencapai 1.333 tanaman per ha. “Yang bisa menerapkan HDP pekebun besar, bukan petani mangga,” kata Karsinah. Mangga berbuah 3 tahun setelah tanam sehingga standar operasional prosedur (SOP) jarak tanam membudidayakan mangga 8 m x 8 m atau 10 m x 10 m.

Tujuannya agar petani dapat berladang tanaman semusim seperti padi sebelum mangga berbuah. Menurut Karsinah teknik HDP meningkatkan produktivitas panen, tapi perawatan tanaman mesti lebih intensif lantaran populasi meroket. Pekebun mesti kerap memangkas tajuk, memupuk, dan memperhatikan sanitasi kebun. Penanaman HDP pun mesti mempertimbangkan varietas tanaman yang dibudidayakan sejak zaman India kuno itu. Agri gardina 45 salah satu jenis yang cocok untuk HDP karena bersosok pendek dan berbuah perdana 2 tahun setelah tanam.

Tentu saja pekebun pun mesti merogoh kocek lebih dalam. Namun demikian, jika pekebun bisa mengatasi kendala UHDP berpotensi meningkatkan pendapatan. Berdasarkan pengalaman Shyam volume panen naik 200% dengan pemupukan intensif dan peningkatan populasi. Keuntungan lain UHDP yakni bentuk, warna, cita rasa, dan kesegaran buah seragam. Karakter buah yang seperti itu sesuai persyaratan ekspor. Selain itu perawatan dan pemanenan buah lebih mudah karena sosok tanaman relatif pendek. Urip berharap jika teknik itu berhasil bisa menjadi contoh untuk pekebun lain sekaligus pembuktian penanaman mangga secara superintensif.(SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment