Loader
 

Marketplace Solusi di Tengah Wabah Corona

sahabatpetani.com – Tahun 2020 mungkin menjadi salah satu masa sulit di seluruh dunia. Bagaimana tidak, kehadiran Virus Covid-19 atau Corona merubah hampir seluruh kegiatan di bumi ini, tak terkecuali di Indonesia. Berbagai cara telah dilakukan oleh pemerintah termasuk dukungan oleh berbagai pihak di masyarakat, menyusul semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang terpapar virus tersebut.

Pemerintah secara resmi telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Kebijakan tersebut meliputi beberapa poin, diantaranya yaitu diliburkannya sekolah dan tempat kerja serta pembatasan aktivitas di tempat-tempat umum. Tentu saja dampak wabah Corona berimbas pada ekonomi secara keseluruhan, khususnya permintaan masyarakat akan kebutuhan pokok yaitu pangan. Saat ini, potensi sektor pertanian dan peternakan sangat potensial menjaga stabilitas ekonomi.

Pandemi virus corona atau COVID-19 melemahkan hampir semua sektor usaha. Namun tidak dengan sektor pertanian, justru produk-produk pertanian menjadi semakin laku keras, karena masyarakat terus membeli produk kebutuhan pangan. Tidak hanya pembelian secara langsung, pembelian produk pertanian melalui marketplace juga menunjukkan peningkatan.

Adanya pemberlakukan Work From Home (WFH) dan aktivitas di tempat-tempat umum diharapkan dapat memutus rantai penyebaran Covid 19 karena masyarakat dianjurkan untuk membatasi aktivitas sosial. Hal tersebut berdampak pada peningkatan pembelian produk-produk pertanian di marketplace. Pembelian produk pertanian di marketplace bisa dilakukan masyarakat tanpa harus keluar rumah.

Cukup dengan memesan melalui website atau aplikasi WhatsApp, barang akan dikirimkan ke tempat tujuan. Dikatakan dari beberapa sumber, produk pertanian yang sering dipesan masyarakat, meliputi buah-buahan lokal, ikan, daging ayam, dan bahan pokok.

Marketplace berlomba menyusun strategi dalam menggaet konsumen, contohnya saja memberikan pembebasan biaya ongkir agar mendorong masyarakat disiplin tidak keluar rumah dalam memenuhi kebutuhan harian, selain itu marketplace memberikan jasa dengan memotong biaya layanan untuk penjual di kategori produk kesehatan dan kebutuhan pangan. Hal itu tentunya mendorong penjual untuk menjaga ketersediaan produk, juga menjaga agar harga tetap stabil. Mengingat belanja online dapat menjadi alternatif mengurangi risiko penyebaran virus di tempat ramai, sekaligus mendorong bisnis lokal terus beroperasi secara online.

Namun untuk mencegah adanya panic buying, Bareskrim Polri mengeluarkan surat imbauan kepada pengusaha tentang pembatasan penjualan barang yang difokuskan pada bahan pangan. Karena bahan pokok tersebut menjadi target dalam panic buying di tengah situasi seperti ini.

Masyarakat seharusnya bisa mengambil pelajaran dari wabah Covid 19 yang sedang menyebar di seluruh dunia. Dalam kondisi seperti ini, semua orang dituntut untuk saling menyadarkan bahwa tolong menolong kepada orang terdekatlah yang dapat membantu.  Terbukti saat ini yang menjadi tumpuan adalah petani lokal dan para pengirim (logistik) produk.

Momentum ini  dapat dimanfaatkan oleh petani di Indonesia untuk memaksimalkan produksi dalam negeri. Produksi dalam negeri harus didorong untuk memenuhi konsumsi masyarakat Indonesia, tidak hanya tergantung pada produk-produk impor. Sehingga kita harus mendukung peningkatan kualitas serta jumlah produk yang diproduksi. Peningkatan kualitas produk pertanian juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani, selain itu negara dapat mengerem biaya untuk impor.

Keamanan stok pangan merupakan bukti ketangguhan para petani dalam menghadapi bencana non alam yang tidak bisa diperkirakan. Pertanian berkontribusi untuk menghasilkan devisa negara dan wujud dari ketahanan serta kedaulatan pangan.(Sulis/SP)

Editor : Adhit/Fathkur

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment