Loader
 

Mengolah Bawang Dalam Minyak

                        sahabatpetani.com– Mudatsir memanen 1.350 kg bawang merah kering (askip) di lahan 1.750 m2 pada Januari 2018. Namun, pekebun di Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, itu gagal memetik laba, bahkan rugi. Musababnya, harga jual bawang merah kering pada pertengahan Januari 2018 anjlok pada kisaran Rp11.000—Rp12.000 per kg. Omzet Mudatsir hanya Rp14,85 juta—Rp16,2 juta. Itu lebih rendah daripada biaya produksi yang mencapai Rp20,5 juta.

            “Dengan biaya produksi itu, harga pokok produksi (HPP) mencapai Rp15.185 per kg. Jika ingin untung harga jual harus lebih tinggi dari itu,” ujar Mudatsir. Bagi pekebun bawang merah, harga anjlok itu menjadi petaka. Salah  satu solusinya mengolah bawang merah. Contohnya seperti Devi Maharani di Bogor, Jawa Barat. Ia menikmati laba tinggi setelah mengolah bawang merah menjadi produk baru berupa minyak.

            Konsumen tertarik membeli minyak bawang merah karena membuat cita rasa masakan lebih nikmat.             Minyak bawang merah itu sejatinya bukan hasil sulingan dari umbi bawang merah. Menurut peneliti muda dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen (BB Pascapanen) di Cimanggu, Kota Bogor, Jawa Barat, Ira Mulyawati, S.T.P., M.Si., minyak bawang merah terbuat dari irisan bawang merah yang direndam dalam minyak kelapa sawit panas.

            “Selain minyak sawit bisa juga menggunakan minyak wijen, kelapa, maupun zaitun,” kata Ira. Cara membuatnya mudah. Iris 1 kg bawang merah dan panaskan 3 kg minyak kelapa sawit hingga bersuhu 70oC. Setelah itu matikan api, lalu masukkan irisan bawang merah ke dalam minyak kelapa sawit panas. Rendam hingga 3 jam. Setelah tiga jam, angkat irisan bawang merah, lalu tiriskan. Minyak bawang merah pun siap digunakan.

            Menurut Ira minyak bawang merah memiliki aroma dan rasa khas. “Usahakan tidak ada tetesan air yang masuk selama proses pembuatan minyak sebab bisa menyebabkan tengik,” kata Ira. Devi mengemas minyak bawang merah dalam botol 10 ml. Ia menjual rata-rata 300 botol minyak bawang merah per bulan. Harganya Rp15.000 per botol. Devi menuturkan harga jual itu menguntungkan.

            Setelah dikurangi biaya produksi Rp10.000 per botol, ia meraup laba Rp5.000 per botol atau total Rp1,5 juta per bulan. “Produk itu merupakan solusi bagi para ibu yang memiliki buah hati yang enggan menyantap bawang merah,” kata pemilik restoran Dapur Cihuuy itu. Selain memproduksi minyak bawang merah, Devi juga memproduksi bawang merah mentah kering. Caranya dengan merendam irisan bawang merah ke dalam larutan asam sitrat.

            Larutan itu terbuat dari 5—15 gram asam sitrat yang dilarutkan dalam 1 liter air. Rendam irisan bawang merah selama 30 menit, lalu tiriskan. Selanjutnya, keringkan irisan bawang merah menggunakan alat peniup udara panas atau blower pada suhu maksimal 50oC. Hindari suhu tinggi sebab bisa menimbulkan gosong. Devi lalu mengemas irisan bawang merah kering itu berkapasitas 20 g.

            Ia menjual produk itu Rp20.000 per kemasan. Perempuan itu menjual rata-rata 20—40 kemasan atau 400—800 gram bawang merah mentah kering sehingga beromzet Rp400.000—Rp800.000 per bulan. Menurut Devi konsumen dapat menggunakan irisan bawang merah kering layaknya bawang merah segar sebagai bumbu beragam jenis makanan. “Dengan menggunakan irisan bawang merah kering konsumen tidak perlu repot mengupas dan mengiris umbi bawang merah yang sering kali membuat mata pedih,” tutur Devi.

            Daya simpan bawang merah juga menjadi lebih lama, yakni hingga 6 bulan. Waktu memasak pun menjadi lebih singkat. Bila ingin membuat bawang goreng, cukup goreng selama 7 detik. Selain itu, irisan bawang kering mentah juga bisa digunakan sebagai bumbu sambal. Caranya dengan merendam dalam air selama 5 menit sebelum penggunaan. “Mudah dan praktis,” kata Devi.

            Oleh karena itu, bawang merah kering itu cocok bagi masyarakat perkotaan yang tidak memiliki waktu banyak untuk memasak.         Selain kedua olahan itu, umbi lapis bawang merah juga dapat diolah menjadi pasta. Menurut peneliti madya BB Pascapanen, Ermi Sukasih, S.T.P., M.Si., cara membuatnya cukup gampang. Kupas umbi bawang merah, lalu kukus selama 3 menit. Setelah itu giling umbi hingga menjadi pasta.

            Tambahkan garam sebagai pengawet alami dan asam sitrat untuk mempertahankan warna. Berikutnya, lakukan pasteurisasi atau panaskan bawang pada suhu 70—800C selama 10 menit. Setelah dingin kemas pasta dalam kemasan aluminum foil. Ermi menuturkan, pengolahan bawang merah menjadi produk baru yang tahan lama merupakan terobosan untuk mengatasi kelangkaan, sekaligus meningkatkan nilai jual.

             “Pengolahan sebaiknya dilakukan saat panen melimpah yang menyebabkan harga anjlok,” kata Ermi. Selama ini bawang merah dikenal sebagai salah satu komoditas yang harganya kerap bergejolak. Ketika terjadi kelebihan produksi harga terjun bebas. Sebaliknya saat pasokan kurang harga menjadi naik. Menurut Ermi bahan baku olahan bawang merah tak harus berasal dari bawang merah berkualitas premium. “Umbi bawang yang kecil juga bisa dimanfaatkan,” kata Ermi.  (SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment