Loader
 

Metode Tanam Pengurang Emisi

Beras menjadi makanan pokok bagi sebagian besar populasi manusia di dunia, khususnya diwilayah asia. Saat ini produkisi padi masih tersentral di Asia, hampir 90% produksi padi dunia ada di kawasan Asia. Produksi padi di Asia menggunakan metode Puddled Transplanted Rice (PTR) di mana beras pertama kali ditabur di pembibitan sebelum bibit dipindahkan secara manual ke dalam genangan (persiapan lahan basah) dan lahan banjir. Tetapi metode ini membutuhkan sumber daya intensif dan banyak tenaga kerja serta air  dan energi yang semakin mahal. Selain itu, hal itu juga merupakan kontributor emisi metana dan efek rumah kaca.

Dalam beberapa tahun belakang ini DSR (Direct Seeded Rice) hadir untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dengan menggunakan metode DSR ini didapuk dapat menghemat tenaga kerja, air, dan sumber energi yang langkah. Tak hanya itu, dengan menggunakan metode ini dapat mengurangi emisi metana, efek rumah kaca, dan meningkatkan panen padi non-rotasi.

Ada tiga jenis DSR: kering-DSR, basah-DSR, dan penyemaian air. Pada DSR kering, benih kering ditaburkan di tanah non-genangan, sedangkan pada DSR basah, benih kecambah pra-kecambah ditabur di tanah berlumpur. Dalam penyemaian air, benih pra-kecambah disiarkan di air genangan atau non-genangan air.

Banyak negara-negara di asia yang sudah menerapkan metode ini, namun setelah metode ini diadopsi secara luas, banyak praktik pertanian DSR saat ini yang kurang efesien. Sebagian besar petani di Asia Tenggara, misalnya, membangun DSR mereka menggunakan metode penyiaran dengan tingkat benih yang tinggi (100 hingga 350 kg/ha) dari benih yang disimpan sendiri. Biaya tingkat benih yang tinggi adalah salah satu hambatan untuk mengadopsi benih padi varietas inbrida atau hibrida yang berkualitas baik dalam sistem DSR.

Selain banyak manfaatnya, metode DSR mempunyai beberapa resiko dan kendala jika diterapkan dalam skala luas, yaitu: Ini termasuk: pembentukan tanaman yang buruk dan tidak merata karena genangan atau kekeringan selama penanaman tanaman dan kerusakan dari burung, tikus, dan serangga; peningkatan infestasi gulma dan resistensi herbisida yang mengarah pada risiko kehilangan hasil yang lebih tinggi; pengetahuan yang terbatas tentang penjadwalan irigasi presisi dan manajemen nutrisi; dan kurangnya kultivar yang dikembangkan untuk kondisi DSR.

Namun untuk menanggulangi resiko dan kenala tersebut, International Rice Research Institute(IRRI) dengan IFA sebagai anggota telah melakukan penelitian, yaitu Direct Seeded Rice Consortium (DSRC) untuk DSR yang lebih baik di Asia.

Tujuan khusus meliputi: mengembangkan sistem DSR mekanis yang kuat dengan tingkat penyemaian rendah untuk memungkinkan petani menggunakan inbrida atau hibrida berkualitas tinggi; mengembangkan praktik pengelolaan gulma, air dan nutrisi yang tepat termasuk alat pengambilan keputusan berbasis TIK; mengurangi risiko dengan solusi agronomis dan pemuliaan, dan dengan penargetan yang tepat menggunakan pendekatan GIS; mengidentifikasi varietas yang cocok untuk DSR; dan mengkatalisasi adopsi berskala luas dari DSR mekanis dan presisi dengan akses hemat biaya ke mesin dan teknologi yang sesuai skala seperti drone dan alat pengambilan keputusan berbasis TIK.(Sumber: fertilizer.org/sumber foto: agritech.tnau.ac.in)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment