Loader
 

MORINGA SI POHON AJAIB

sahabatpetani.com – Julukan untuk pohon moringa di mancanegara adalah miracle tree atau pohon ajaib. Harap mafhum, kandungan nutrisi daun moringa memang kaya. Namun, bagi pegiat pertanian di Techiman, Ghana, Paul Yeboah, moringa nyata mendatangkan keajaiban. Semula lahan seluas 35 acre—setara 14,2 ha—di tepi Distrik Techiman, Ghana, itu tandus dan gersang. Lapisan teratasnya (top soil) habis terkelupas menjadi debu. Ketika hendak membeli lahan itu, petani lokal bertanya apakah Paul menemukan emas di sana.

Jika tidak, jangan membeli karena tanah itu tidak akan menghasilkan apa pun. Paul bergeming. Yang pertama ia lakukan setelah membeli lahan itu pada 2010 adalah menanam moringa—di tanah air kita, sohor sebagai kelor. Ia menanam secara polikultur dengan tanaman produktif lain yang toleran tanah gersang. Dua tahun berselang, ia menanam akar wangi untuk menahan erosi. Paul menggunakan seresah moringa sebagai pupuk.

Selain itu, Paul juga menanam tanaman pangan. Petani sekitar, yang semula sinis, berbalik antusias. Saat itulah ayah 3 anak itu merangkul mereka untuk menanam moringa dan membudidayakan jamur tiram. Pertanian berkelompok itu menjadi bagian Ghana Permaculture Institute (GPI), lembaga nonformal yang Paul dirikan untuk meningkatkan perekonomian petani Ghana melalui hal terbaik yang mampu mereka lakukan, bertani.

Upaya Paul meregenerasi lahan dan meningkatkan ekonomi masyarakat sampai ke telinga keluarga produsen kosmetik di Inggris, Lush Fresh Handmade Cosmetics, pada 2013. Pendiri Lush, Mark Constantine, mengajak putra sulungnya Simon menyambangi GPI. Selanjutnya, minyak biji moringa dari GPI menjadi bahan penyusun calir atau lotion dan sabun. Moto bisnis Mark, melibatkan konsumen dan komunitas alih-alih mengandalkan jalur promosi konvensional, membuat Lush dikenal pasar Inggris sebagai merek yang unik.

Moto itu pula yang membuatnya menyambangi GPI. Lush mengajak pelanggan peduli kepada pemasok bahan baku produk yang mereka beli dengan berbelanja secara arif. Berbeda dengan produsen lain yang lazimnya merahasiakan sumber bahan baku, Lush mengungkap gamblang pemasok mereka termasuk GPI. Mereka juga mendirikan yayasan Lush, yang bermitra dengan petani dari negara-negara dunia ketiga sebagai pemasok bahan baku.

Syaratnya, petani membudidayakan tanaman di lahan menggunakan permakultur atau pertanian terpadu. “Lush bekerja sama dengan GPI sejak 2013 untuk memperbaiki kualitas lahan di sana,” ujar Lush UK customer care, Laura S.P, dalam surat elektroniknya kepada Majalah Trubus. Peningkatan kesuburan lahan meningkatkan produktivitas, yang ujung-ujungnya menjamin pasokan bahan baku.

Selain Lush, Inggris, GPI mengekspor olahan kelor ke berbagai negara maju yaitu Amerika Serikat, Jerman, Austria, Swiss, dan Jepang. Negara tetangga di Afrika yang rutin meminta produk moringa GPI adalah Afrika Selatan, Burkinafaso, Namibia, Nigeria, dan Pantaigading. Jika negara maju meminta kiriman bahan baku seperti minyak biji atau serbuk daun, negara di Afrika membeli produk kosmetik seperti sabun atau sampo.

Selain kosmetik, negara-negara Afrika juga membeli daun kering, kapsul daun, atau minyak biji dalam botol. Di tingkat domestik Ghana, GPI meluncurkan produk moringa berupa sediaan mirip teh celup, kapsul biji, dan pupuk ampas biji. Berkat perniagaan domestik dan internasional itu, GPI merangkul dan memberdayakan ribuan petani lokal. “Saat ini kami bermitra dengan lebih dari 8.000 petani yang menanam moringa di lahan sendiri bersama tanaman budidaya mereka,” kata Paul.

Kaum perempuan pun mereka berdayakan di lingkungan tempat tinggal masing-masing. Produk segar berupa 3 ton daun setiap per panen 2 bulan sekali, akar (500 kg per 3 bulan), bunga (300 kg per tahun), biji (10 ton per tahun). Selain produk berbasis moringa, GPI juga membuat minyak serai dan sereh wangi. Budidaya jamur tiram diperluas ke lingkungan petani sebagai upaya meningkatkan penghasilan sekaligus perbaikan gizi.

Saat ini GPI mengandalkan pasokan moringa dari 50 kelompok petani dan pembibit tanaman di Techiman dan sekitarnya. Dampak lain penanaman Moringa oleifera itu adalah perbaikan kualitas tanah. Semula petani hanya bisa menanam singkong sebagai makanan pokok. Sejak ada moringa, mereka bisa menanam jagung hingga panen. Petani mitra GPI juga bisa memelihara ternak menggunakan ampas biji moringa dan daun berbagai tanaman budidaya.

Kotoran ternak menjadi pupuk yang meningkatkan kesuburan lahan. Di tanah air, kosmetik berbasis moringa masih langka. Petani dan pengolah di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Ir. Ai Dudi Krisnadi, memanfaatkan minyak biji moringa untuk membuat minyak antipenuaan dini dan body butter. Sayang, pasar terbatas lantaran harganya jauh di atas produk sejenis buatan industri besar. Padahal perempuan Ghana setiap hari mengoleskan minyak moringa sebelum bekerja di pembibitan tanaman binaan GPI. Di negara Afrika Barat itu, moringa terbukti sebagai pohon keajaiban.(SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment