Loader
 

Paling Top Serap Air

sahabatpetani.com – “Ada hubungan yang erat antara model arsitektur pohon dengan besarnya erosi tanah dan juga konservasi air,” kata guru besar di Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Dede Setiadi, M.S. Arsitektur pohon terbentuk pola pertumbuhan batang, cabang, ranting, dan pembentukan pucuk terminal pohon serta tata letak dan bentuk daun. Tumbuhan menerima curah hujan dan mengalirkannya melalui daun, ranting, cabang, dan batang hingga mencapai tanah.

Saat hujan, air hujan tertahan di tajuk sehingga tidak langsung jatuh mengenai tanah disebut intersepsi. Setelah itu, air yang tertahan di tajuk akan menetes ke tanah dan disebut curahan tajuk (through flow). Ada pula air hujan yang mengalir di sepanjang batang disebut aliran batang (stem flow). Curahan tajuk dan aliran batang akan menuruni batang dan mengalir bersama aliran permukaan tanah (surface run off). Sebagian lagi akan masuk ke dalam tanah sebagai air infiltrasi.

Tajuk lebar

Menurut Dede tumbuhan yang paling baik untuk konservasi air dan tanah lumrahnya memiliki kapasitas intersepsi besar, laju curahan tajuk tinggi, dan aliran batang yang lambat. “Pilih pohon dengan curahan tajuk lebih besar dibandingkan dengan aliran batang. Aliran batang besar menimbulkan erosi,” kata laki-laki kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 2 April 1951 itu. Makin besar tajuk, akarnya juga makin besar.

Secara alami akar mengikuti bentuk tajuk sehingga membentuk keseimbangan. Akar yang besar mengikat air makin banyak dalam tanah. Setelah berkali-kali meriset, Dede menyimpulkan terdapat tiga model arsitektur pohon yang dapat menahan air dan mencegah erosi. “Model McClure, Massart, dan Roux paling baik sebab laju erosinya rendah. Sebagian besar curahan tajuk jatuh ke tanah dan meresap menjadi air infiltrasi,” kata Dede.

Contoh pohon dengan model arsitektur McClure adalah bambu. Bambu memiliki percabangan di bawah permukaan tanah yang disebut basitoni. Meski daun bambu berukuran kecil, tapi kumpulan daun membentuk tajuk yang padat dan rapat. Tanaman anggota famili Poaceae itu tumbuh merumpun sehingga kanopi makin luas. Model arsitektur pohon bambu memiliki curahan tajuk lebih besar dibandingkan dengan aliran batang.

Adanya tunas bambu pada bagian bawah dapat memperlambat aliran batang. Akibatnya aliran permukaan menjadi lebih lambat dan tanah yang terbawa aliran juga sedikit. Salah satu lokasi riset doktor bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup alumnus IPB itu berada di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya. Lahan itu berkontur gelombang dan banyak ditumbuhi bambu tali Gigantochloa apus.

Ternyata tanah yang ditumbuhi rumpun bambu mengalami erosi 3,74 ton per ha per tahun. Sebagai perbandingan, masih di Kabupaten Tasikmalaya, terdapat kebun campur yang didominasi sengon Paraserianthes falcataria dengan model arsitektur Troll. Hasil pengamatan menunjukkan kebun sengon mengalami erosi 10,59 ton per ha per tahun. Lokasi lain di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Gambung, Bandung Selatan.

Akar kopi

Pohon damar Agathis damara dengan model arsitektur Massart amat mendominasi RPH Gambung. Model itu memiliki batang tegak, lurus, dan bulat. Damar bertajuk tebal seperti kerucut dan berdaun lebar. Daunnya saling berhadapan dan terjumbai ke bawah. Pohon Massart dapat menahan air hujan untuk diserap tanah. Selain itu, laju erosi kebun damar tergolong rendah yakni hanya 5,31 ton per ha per tahun.

Pohon lain yang memiliki model arsitektur Massart di antaranya cemara Araucaria heterophyla, randu Ceiba pentandra, dan pala Myristica fragrans.  Menurut Dede di lokasi yang sama terdapat kopi Coffea robusta ternaungi tusam Pinus merkusii. Kopi memiliki model arsitektur Roux sedangkan pinus model Rauh. Keberadaan pinus sebagai penaung juga berperan mengurangi dampak tetesan air hujan secara langsung.

Kopi bertajuk berlapis yang melindungi tanah dari tetesan air hujan langsung sehingga mencegah terjadinya splash erosion. Tumbuhan anggota famili Rubiaceae itu berakar tunggang kuat dan mencapai kedalaman 3 m. Akar lateral mencapai 2 m dan membentuk anyaman ke segala arah. Oleh karena itu, kopi melindungi dan memegang tanah dari daya erosif air hujan. Laju erosi kebun kopi tergolong kecil hanya 6,94 ton per ha per tahun. (SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment