Loader
 

Pasar Cari Buah Tin

            sahabatpetani.com – Kulit buah mulus, segar, dan berukuran hampir seragam. Itulah penampilan buah tin hasil panen di kebun Bambang Murdianto. Tekstur buah tin segar itu legit seperti manisan. Pantas bila konsumen rela membayar Rp300.000 untuk mendapatkan 1 kg tin terdiri atas 12—18 buah. Meski berharga premium, para pelanggan memborong tin itu. “Sekitar 5 orang kerap memesan tin setiap hari,” ujar pekebun tin di Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Sejak medio 2017 Bambang memproduksi 1—2 kg tin per hari dari 10 tanaman. Ia membudidayakan tin di dalam rumah tanam untuk menghasilkan buah berkualitas premium. Menurut Bambang, “Buah lebih mulus jika dibandingkan dengan penanaman tanpa rumah tanam.” Selain itu produksi buah juga sulit saat musim hujan. Tin berisiko lebih tinggi terserang hama dan penyakit bila dibudidayakan di lahan terbuka.

Menurut Bambang hama dan penyakit yang kerap menyerang tin adalah kutu putih dan penyakit karat daun. Ia mengandalkan insektisida berbahan aktif profenovos untuk mengatasi kutu putih. Adapun fungisida berbahan aktif maneb dan zineb untuk menanggulangi karat daun. “Sebaiknya pengendalian hama dan penyakita dilakukan sebelum buah matang agar tin tetap aman dikonsumsi, maksimal sebulan sebelum panen,” ujarnya.

Bambang membudidayakan Ficus carica sejak 2012. Perawat bedah itu mengoleksi tin berjenis taiwan golden fig (TGF) jumbo, brown turkey modified (BTM) 6, dan masui dauphine. Yang disebut terakhir cocok untuk produksi buah karena berukuran besar dan bercita rasa manis. Pada tahap awal Bambang fokus memperbanyak bibit. Pada Juni 2017 Bambang mulai fokus memproduksi buah berkualitas. Permintaan buah tanaman kerabat sukun itu tinggi menjelang puasa, sedangkan buah yang tersedia terbatas.

  Menurut Bambang tin berbuah perdana ketika berumur 7 bulan dan menghasilkan 1—2 buah per hari. Ciri buah siap panen warna buah merah kehitaman. Bambang memanen 1—2 kg buah per dua hari dari 10 pohon berumur setahun pascatanam. Ia membalut tin dengan tisu, lalu memasukkannya ke dalam kotak. Tujuannya agar kulit buah tidak rusak akibat gesekan. Harap mafhum, kulit tin rentan lecet karena tipis.

Pekebun tin di Sumengko, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Joko Witono, juga memanen 2—3 kg buah tin per hari dari 250 tanaman. Ia menanam varietas blue giant, black jack, TGF jumbo, dan BTM 6. Joko menjual buah tanaman kerabat beringin itu dengan harga Rp250.000—Rp300.000 per kg untuk perorangan dan Rp100.000 per kg untuk pedagang yang membeli dalam jumlah banyak. (SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment