Loader
 

Pasar Olahan Kopi

sahabatpetain.com – Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatat pertumbuhan kedai kopi tercepat dalam setahun adalah Janji Jiwa. Hingga Desember 2019 kedai kopi itu memiliki 540 cabang di seluruh Indonesia, termasuk di  Papua. Di  balik kesuksesan itu ada Billy Kurniawan yang membidani kelahiran Janji Jiwa—Billy berjanji membuat kopi dari hati, kopi yang turut menemani masyarakat memperjuangkan panggilan jiwanya masing-masing.

            Pemuda 31 tahun itu menerapkan konsep bisnis yang tren di kalangan generasi milenial: grab and go—ambil dan pergi. Pelanggan hanya menggerakkan jempolnya untuk mengeklik ponsel pintar saat memesan kopi, lalu tunggu beberapa menit saja dan barang pesanan akan sampai ke lokasi. Billy mengikuti konsep ambil-antar dengan sistem bisnis waralaba. Pembeli waralaba atau pewaralaba hanya menyiapkan modal Rp150 juta—Rp200 juta untuk membangun kedai Janji Jiwa lengkap dengan peralatan dan pekerja. 

Mengenalkan kopi

            Billy melatih barista dan manajemen kedai sebelum waralaba dibuka. Setelah itu ia juga mengadakan pelatihan penyegaran untuk barista. Pewaralaba balik modal dengan rata-rata penjualan 100 gelas per hari. Harga jual es kopi susu Rp18.000 per gelas, sedangkan harga produk paling murah salah satunya es kopi hitam Rp15.000 per gelas gelas. Omzet pewaralaba Rp45 juta—Rp54 juta per bulan.

            Menurut Billy hampir seluruh kedai pewaralaba meraih titik impas bisnis sesuai prediksi, 10—12 bulan. Selain itu Billy juga menydiakan pasokan bahan utama yaitu kopi sangrai.  Sarjana Pemasaran dan Keuangan alumnus Seattle University, Amerika Serikat, itu menggunakan kopi dari Lampung. Billy bekerja sama dengan kelompok tani yang mampu memenuhi perkembangan bisnis Janji Jiwa secara konsisten.

            “Awalnya kami hanya meminta sebanyak 200 kg biji kopi robusta dan arabika hijau per bulan. Sekarang kami meminta 10 ton per bulan dan mereka tetap bisa memenuhi itu,” kata Billy. Selain konsistensi kuantitas dan kualitas biji kopi, profil rasa kopi lampung paling serasi dengan produk-produk Janji Jiwa, khususnya es kopi susu gula aren. “Kopi lampung sudah terkenal body dan spices kencang. Itulah yang ingin kami tonjolkan,” ujar Billy.

            Selain kopi susu gula aren dan es kopi hitam, Janji Jiwa kini memiliki 28 varian produk lain termasuk nonkopi. Rentang harga produk-produk Janji jiwa Rp15.000—Rp30.000. Tujuan Billy dan tim Janji Jiwa memperkenalkan kopi ke masyarakat yang lebih luas, dari yang belum terbiasa minum kopi menjadi lumrah. Menurut Billy keunggulan Janji Jiwa, “Harga terjangkau, tetapi tetap kopi yang sesungguhnya meskipun bukan kopi artisan.”

Membuka cabang

            Billy membangun kedai kopi Janji Jiwa di Kedoya Utara, Jakarta Barat, pada 2018. “Awalnya saya beli biji kopi dari petani, lalu saya sangrai sendiri, dan saya buat es kopi susu gula aren,” ujar ayah 2 anak itu. Harap mafhum es kopi susu gula aren menjadi pilihan produk utama. Itu minuman kekinian generasi milenial selama setahun terakhir. Bahkan, menurut Billy kopi susu gula aren tersohor dengan label minuman kopi khas Indonesia.

             “Minuman kopi dari luar negeri biasanya pakai gula merah atau brown sugar, bukan gula aren atau palm sugar,” kata Billy. Bisnis es kopi susu gula aren punya potensi menembus pasar internasional karena ketenarannya. Namun, Billy mengatakan, masih tahap perbaikan bisnis dalam negeri dulu. Apalagi bisnis kopi Janji Jiwa di pasar nasional masih terus berkembang. 

            Pada awal membuka kedai laba Billy amat kecil. “Sehari cuma untuk Rp200.000—Rp300.000, bagaimana ini biar kita selamat,” begitu Billy menirukan aspirasi para karyawannya kala itu. Bisnis grab and go memang mengandalkan jasa pengantaran makanan dari pihak ketiga. Namun, Billy tetap optimis melanjutkan kopi Janji Jiwa. Musababnya hasil analisis Billy menunjukkan banyak pelanggan kembali atau return customer.

            “Artinya sebenarnya produk kopi susu kami disukai, tetapi pemilihan lokasi yang kurang tepat,” kata pria kelahiran Padang itu. Tak lama kemudian Billy memutuskan untuk membuka 5 cabang lain di Jakarta. Sambil gencar berpromosi di media sosial, Billy dan tim menyilangkan jari tengah ke jari telunjuknya, berharap efek pemasaran lekas berdampak baik bagi bisnis mereka.  

            Ide Billy membuahkan hasil. Membuka cabang meningkatkan keterjangkauan produk pada calon pembeli. Selain promosi produk minuman kopi espresso dengan ragam varian rasa, pemuda yang mengemban pendidikan barista dan Q grader itu juga promosi sistem bisnis waralaba kedai kopi Janji jiwa. Pertumbuhan bisnis kopi Janji Jiwa memang tak lepas dari tren gaya hidup minum kopi di Indonesia sejak 2016.

            Hadirnya Janji Jiwa menurut Billy menjadi agen perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia. Kopi kini menjadi suatu kebutuhan sehari-hari, bukan lagi sebuah tren. Dampak kedai kopi dalam bentuk waralaba grab and go yang ekonomis mempercepat edukasi dan penetrasi pasar minuman kopi ke seluruh lapisan masyarakat. Billy juga sempat memiliki kedai kopi artisan.

            “Dalam sehari paling maksimal 200 pelanggan. Tetapi dengan sistem bisnis seperti Janji Jiwa, dalam sehari bisa 10 juta orang. Jika 10 juta ini nantinya beralih ke artisanal atau kopi yang lebih serius, tentu bukan main bagusnya,” kata Billy. Tingginya permintaan kopi arean tentu meningkatkan bahan baku. Warga yang semula menganggur ikut bekerja menjadi petani kopi. (SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment