Loader
 

Penggerek Menjauh, Begini Caranya

sahabatpetani.com – Petani padi di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur, Mokhamad Muslim, khawatir tanaman padinya puso. Musababnya, populasi klaper atau serangga penggerek batang Scirpophaga innotata membludak. “Untung tanaman padi sudah mratak atau tahap setelah pengisian biji sehingga tidak terjadi beluk,” kata Muslim. Telat sebulan saja sawah seluas 7.500 m² milik Muslim bisa gagal panen. Menurut petani sejak 1997 itu, penggerek batang paling berbahaya dari fase larva atau ulat.

Pengendalian di lapangan lazimnya dengan mengaplikasikan pestisida kimia. Menurut ahli hama penyakit padi Prof. Dr. Ir. Baehaki Suherlan Effendie, rata-rata kehilangan hasil padi untuk setiap kenaikan 1% serangan penggerek batang adalah 31,68 kilogram gabah kering panen (GKP) per hektare. Artinya jika serangan 10% maka kehilangan hasil adalah 316,8 kilogram GKP per hektare. Itu setara dengan Rp1,2 juta bila harga gabah Rp 4.000 per kilogram.

Pengendalian

Bayangkan jika serangan sundep dengan intensitas 10% terjadi pada sawah seluas 3 juta hektare per musim. Potensi nilai kehilangan hasil padi mencapai Rp3,8 triliun tanpa ada pengendalian. Oleh karena itu, pengendalian hama penggerek menggunakan pestisida tidak dapat ditunda setelah ada penerbangan atau ambang batas serangan 10%. Baehaki menambahkan, penggerek batang bisa menyerang dari masa vegetatif hingga masa generatif.

Pada fase vegetatif disebut sundep deadhearts) dengan gejala titik tumbuh tanaman muda mati. Gejala serangan penggerek pada fase generatif disebut beluk whiteheads) dengan gejala malai mati, bulir hampa, dan terlihat berwarna putih. Gejala sundep terlihat sejak 4 hari setelah larva penggerek masuk. Larva penggerek kerap keluar masuk batang padi. Satu ekor larva hingga menjadi ngengat menghabiskan 6—15 batang padi.

Beberapa cara pengedalian penggerek batang antara lain penanaman serempak, penggunaan varietas toleran, manipulasi parasitoid, penggunaan lampu perangkap, dan pestisida. Menurut Baehaki, teknologi tanam serempak dijamin berhasil dan akurat dalam menurunkan populasi hama  dan penyakit. Turunnya populasi hama berdampak terhadap pengurangan input pestisida, atau pemakaian pestisida dapat ditekan minimal 50%. Cara itu efektif pada kawasan dengan luasan 1.000 hektare.

Menurut Baehaki hingga kini belum ada varietas padi yang benar-benar tahan penggerek batang. Musababnya, belum ditemukan sumber gen ketahanan penggerek batang, baik pada padi maupun  kerabat liarnya. Namun, bisa memilih padi yang memiliki sifat biokimia dan biofisik lebih tahan. Contoh sifat biokimia dapat berupa senyawa kimia berupa hormon tanaman atau metabolit sekunder seperti fenol, steroid, dan terpenoid yang pada kadar tertentu tahan terhadap serangga.

Adapun karakter biofisik berupa sifat morfologi tanaman yang dapat menghalangi terjadinya proses makan, peletakan telur, dan pergerakan serangga secara normal. Misal terdapat rambutrambut pada permukaan daun yang disebut trichome dan glandular trichome yang licin atau mengilat, dan lapisan lilin. Menurut dokter entomologi alumnus Institut Pertanian Bogor itu, peningkatan gejala sundep dan beluk disebabkan oleh tidak adanya persaingan di antara larva dalam menggerek tanaman.

Pestisida


Satu larva dapat menggerek lebih dari enam batang padi. Adapun penggunaan lampu, selain sebagai pencegahan juga bermanfaat sebagai indikator menentukan nilai ambang ekonomi. Bila pada lampu perangkap sudah tertangkap ngengat penggerek, maka harus segera dikendalikan 4 hari setelah ngengat tertangkap. Pengendalian menggunakan pestisida atau insektisida perlu memperhatikan ambang ekonomi.

Baik saat fase vegetatif atau generatif. Contohnya Direktorat Perlindungan Tanaman menetapkan ambang kendali berdasarkan kerusakan tanaman pada stadia vegetatif 6% dan pada stadia generatif 10%. Menurut Baehaki, teknologi terbaru pengendalian hama penggerek batang padi perlu disesuaikan dengan harga gabah pada saat panen, yaitu segera dilaksanakan 4 hari setelah penerbangan ngengat yang dapat diketahui dari hasil tangkapan lampu perangkap.

Teknologi terbaru pengendalian hama penggerek tidak berdasar kepada intensitas serangan akibat larva, tetapi berdasar hasil tangkapan ngengatnya. Hasil kajian Baehaki di Jawa Barat dan Jawa Tengah menunjukkan bahwa bila pengendalian hama penggerek  dilakukan setelah adanya  serangan maka hasil padi sudah turun sebelum pengendalian. Menurut anggota staf pemasaran PT Petrokimia Kayaku, Bambang Jatmiko, dua pestisida andalan kreasi PT Petrokimia Kayaku adalah Montaf 400 SL dan Petrofur 3 GR.

Montaf 400 SL adalah pestisida berbahan aktif bisultap atau dimahepo 400 gram per liter. Insektisida berbentuk pekatan berwarna kuning kecoklatan itu bekerja sebagai racun kontak dan lambung. Keunggulan lainnya secara sistemik dapat mengendalikan telur dan larva hama penggerek batang dan ulat penggorok daun. Kebutuhannya 0,375 – 0,750 liter pestisida cukup luasan 1 hektare. Caranya larutkan 0,375 – 0,750 liter pestisida ke dalam 500 liter air.

Demi mencegah resisitensi hama, petani bisa memakai insektisida lain kreasi PT Petrokimia Kayaku, Petrofur 3 GR. Insektisida berbahan aktif karbofuran 3% itu bekerja secara racun kontak dan sistemik serta berbentuk butiran berwarna ungu. Keunggulannya dapat diaplikasikan langsung ke tanah, Mampu mengendalikan hama penggerek batang hingga 35 hari setelah ditabur. Kebutuhannya 17 kg—34 kg per hektare.

Tanaman sehat karena pemupukan berimbang akan lebih tahan serangan penggerek. Beberapa pupuk kreasi PT Petrokimia antara lain Phonska Plus, ZA, dan Petroganik. Phonska Plus memiliki kandungan unsur hara majemuk NPK dilengkapi Sulfur dan Zink. Adapun ZA pupuk kaya nitrogen dan sulfur untuk mengoptimalkan  pertumbuhan. Kombinasi lebih optimal  dengan menambahkan Petroganik yang berfungsi memperbaiki struktur dan tata udara tanah, sehingga tanaman tumbuh optimal. (Muhamad Fajar Ramadhan)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment