Loader
 

Penyelamat Padi Ngata Toro

sahabatpetani.com – Matahari bersinar terik di atas langit Ngata Toro. Masyarakat setempat lebih senang menyebutnya Ngata Toro. Ngata bermakna desa. Wilayah itu berada di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, 3 jam bermobil dari Kota Palu, ibu kota provinsi itu. Tofografi Ngata Toro tak ubahnya sebuah mangkuk. Dinding mangkuk adalah hutan di perbukitan yang mengelilingi desa. Luas Ngata Toro 22.950 hektare berpenduduk 2.460 jiwa.

Prinsip hidup mereka maroho ada, manimpu ngata bermakna adat yang kuat menjadikan negeri atau ngata aman dan harmonis. Oleh karena itu, mereka menjaga hutan yang mengelilingi desanya. Luas hutan adat 18.360 hektare terdiri atas beberapa area tradisional, wanangkiki (zona inti), wana (zona rimba), dan oma (zona pemanfaatan). Meski di zona pemanfaatan, masyarakat terlarang mengambil sesuatu dari hutan seperti rotan menjelang panen padi.

Hingga hari ini mereka percaya, melanggar larangan itu menyebabkan gagal panen. Bulir padi akan kosong. Menurut warga setempat, Brambel Togagi, warga yang melanggar adat itu mendapat denda. Menurut As’at Toheke denda efektif membuat efek jera. “Meskipun dari segi nominal tidak tinggi, sanksi sosial atau rasa malu membuat pelaku enggan mengulanginya lagi,” katanya.

Hutan yang mengelilingi Ngata Toro berdampingan dengan Taman Nasional Lore Lindu. Bertahun-tahun masyarakat Ngata Toro menanam padi lokal. Warga Ngata Toro, As’at Toheke hingga kini tetap mengembangkan beragam padi lokal seperti padi kanari, raki, kama, dan siampanona. Ia mengelola sawah 3 hektare  di sekitar rumahnya.  Sosok padi lokal terutama jenis kanari lebih tinggi daripada padi modern. Tinggi tanaman mencapai 1 meter.

Adapun jenis raki, bulir padi berwarna lebih gelap kehitaman. Cita rasa keduanya hampir mirip dan menghasilkan aroma harum. Nasi hasil olahan padi raki, misalnya, sangat  pulen dan enak. “Rasanya enak, nasinya pulen dan aromanya harum,” kata As’at. Padi lokal lain  siampanona  memiliki keistimewaan sama bercita rasa enak dan beraroma harum. Sayangnya, umur padi-padi lokal itu lama, rata-rata 6—7 bulan.

Pantas, sebagian orang meninggalkan padi lokal, dan beralih ke padi yang lebih genjah seperti inpari 24 dan PB 8. Umur kedua padi itu relatif singkat, hanya 3 bulan. Alasan lain petani meninggalakan padi lokal karena hasil panen rendah, hanya 1,5—2 ton per hektare. Bandingkan dengan padi hasil pemuliaan modern rata-rata menghasilkan 3 ton per hektare. As’at menuturkan, “Kini hanya tersisa 2 jenis padi lokal di Ngata Toro, kanari dan raki.”  

Petani tidak lagi menanam padi lokal lain seperti padi gembira dan kama. Satu-satunya petani yang masih rutin menanam beragam padi lokal hanya As’at. Ia menanam padi lokal di luasan 5.000 m2 untuk satu jenis. As’at tetap menanam padi lokal untuk konsumsi keluarga. Budidaya padi lokal tanpa pupuk kimia. “Paling pupuk dasar dari kotoran hewan dan kompos, sehingga budidaya bisa dibilang organik,” kata petani berusia 45 tahun itu.

“Padi modern jika semai terlalu lama pasti anakan kurang baik,” kata As’at. Harga jual padi lokal relatif tinggi dibandingkan dengan padi biasa. Harga padi biasa Rp7000, sedangkan padi lokal Rp10.000—Rp15.000 per kilogram. “Permintaan padi lokal tinggi, banyak pedagang mencari hingga ke desa,” kata As’at.

As’at menjaga beragam padi lokal itu. Ia menyimpan benih beberapa jenis padi lokal di rumahnya. Ia menjaga beragam padi lokal itu dan menyimpan benih beberapa jenis padi lokal. Sayang, bencana gempa dan  likuefaksi—tanah yang jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan, antara lain gempa—pada September 2018 menyebabkan benih-benih padi lokal itu tercampur.

“Penyimpanan benih dalam karung yang sudah lama, sehingga rapuh. Benih padi pun bercampur karena gempa,” kata As’at mengenang bencana alam itu. Petani padi sejak 1997 itu memurnikan padi dengan penanaman ulang di lahan 5.000 m2. Di sawah itu tampak ganjil karena tinggi dan bentuk padi pada satu hamparan itu beragam. Ada yang tinggi tanaman hingga 1,5 meter, ada pula yang pendek.

Sosok menjulang itu adalah padi kanari, sedangkan yang pendek merupakan padi inpari. Selain itu ada pula padi dengan bulir berwarna lebih gelap agak pipih, ada pula yang berbulir terang agak membulat. As’at Toheke tengah memurnikan benih padi lokal. Ia benteng terakhir padi lokal di Ngata Toro. Sebagian besar masyarakat Ngata Toro bertani padi. Menurut Ketua Kelompok Tani Jaya, Brambel Togagi, luas sawah di Ngata Toro 450 hektare.

Di desa itu terdapat 54 kelompok tani, masing-masing beranggotakan 25 orang. Mereka membudidayakan padi turun temurun dengan memperhatikan adat. Sekadar contoh, ketika hendak menyemai benih As’at memperhatikan langit pada pukul 17.00—18.00. Jika langit kemerahan pada sore hari petani harus mengurungkan niatnya. Langit merah pertanda banyak hama akan mengganggu persemaian. Idealnya petani baru meyemai padi jika melihat langit sore cerah atau tidak ada gejala langit memerah.

Mereka juga akan mengurungkan penanaman jika pada malam hari ada warga yang melihat bintang berkedip atau bintang jatuh. Kepercayaan setempat mempercayai jika bintang jatuh di darat memicu tumbuh ulat. Adapun jika jatuh di air memicu tumbuh lindu—sebutan masyarakat setempat untuk hewan mirip belut. Selain itu warga juga mematuhi saran tina ngata atau tetua adat wanita sebelum penanaman. Saat ini yang menjabat tina ata di Ngata Toro adalah Mina Tolao. Tina Ngata menggunakan ilmu perbintangan sebagai pedoman dalam bercocok tanam.

Sebelum penanaman padi secara serentak, maradika atau kepala desa, dan totua ngata kepala adat laki-laki, mendengar penjelasan tina ngata dalam pertemuan. Kemudian hasil musyawarah itu baru disampaikan kepada masyarakat mengenai waktu menabur bibit, menanam, termasuk membuka lahan baru untuk area pertanian. Menurut Tina Ngata Toro, Mina Tolao, penentuan kapan waktu tanam memang ada perhitungannya.

Amina—panggilan akrab Mina Tolao—memperhatikan waktu bulan mengelilingi bumi atau geosentris untuk menentukan waktu tanam. Ia menyarankan memulai waktu tanam padi pada bulan hari ke-17 sampai hari ke-20. Jika awal menanam pada bulan sabit atau kurang dari 14 hari menyebabkan pertumbuhan dan hasil panen kurang baik.  Menurut Amina jika mengikuti kalender modern, penanaman idealnya pada bulan ke-5 atau Mei.

Namun, waktu terbaik menghambur atau meyemai benih pada Agustus. Menyemai di luar waktu itu menyebabkan serangan hama tinggi. “Kodok, ulat, dan tikus pun ada masa berkembang biak, sehingga merusak tanaman,” kata perempuan 57 tahun itu. (SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment