Loader
 

Pot Terakota idaman

sahabatpetani.com – Beragam pot terakota berjajar elok di Urban Little Garden di Kota Depok, Jawa Barat. Pemilik Urban Little Garden, Nyi Indah Kristianingsih, jeli membaca tren. “Trennya orang lebih menyukai tanaman yang bisa tahan lama dengan perawatan mudah. Secara ukuran dan tampilan bisa langsung terlihat tidak seperti terarium,” kata perempuan berusia 38 tahun itu. Semula ia membuat taman mini dalam wadah kaca atau terarium sejak 2016. Setahun berselang, ibu dua anak itu beralih menekuni tanaman hias dalam pot.

Di kios  milik Indah konsumen menggemari sansevieria dalam pot terakota. Delapan rumpun Sansevieria trifasciata dalam pot berdiamater 25 cm itu seharga Rp285.000. Masyarakat urban tengah meminati desain hunian yang menonjolkan keasrian dan kesejukan alam. Meningkatnya minat khalayak pada tanaman hias terutama dalam ruangan turut menaikkan pamor pot terakota.

Kelebihan pot

Istilah terakota merujuk pada tembikar yang tidak dilapisi glasir dan dibuat dari tanah liat yang dibakar sehingga warnanya merah kecokelatan. Menurut Indah yang juga sering melayani jasa dekorasi taman, tanaman dalam ruangan atau indoor yang tumbuh di pot gerabah menjadi primadona lantaran mampu menghadirkan konsep asri. Di samping itu pot terakota juga memiliki beragam kelebihan.

Menurut ahli fisiologi tumbuhan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Ir. Edhi Sandra, M.Si., tanah liat sebagai bahan pot terakota mempunyai andil dalam perkembangan akar yang lebih baik. “Pengaruhnya terkait dengan pori-pori tanah liat yang berdampak pada ketersediaan udara. Aerasi berjalan dengan lancar. Daya pegang air lebih banyak sehingga ketersediaan air pun lebih baik. Suhu udara mikro lebih baik karena adanya pori. Selain itu, kelembapan juga lebih baik,” kata Edhi.

Alumnus Departemen Biologi IPB itu menuturkan, “Pot plastik lebih kedap dibandingkan dengan terakota sehingga tidak tembus udara. Aerasi dan sirkulasi udara menjadi kurang baik. Suhu dan kelembapan tinggi sehingga memicu berkembangnya mikrob.” Kelemahan lain pot plastik, ketersediaan oksigen lebih rendah dan akar tanaman kesulitan bernapas. Jenis lain yakni pot keramik, menurut Edhi, lebih dingin dibandingkan pot plastik.

Namun, pot keramik juga kedap sehingga sirkulasi udara kurang baik. Suhu pot keramik bergantung pada kondisi lingkungan. “Kadang bisa dingin dan berubah menjadi panas. Itu lantaran keramik menyimpan panas lebih banyak,” kata pengusaha kultur jaringan itu. Meski demikian, pot terakota juga memiliki kelemahan. Pot tanah liat menurut Edhi cenderung lebih mahal dan rawan pecah. Pot itu juga rentan ditumbuhi lumut dan mikrob.

Menurut riset Gita Winata dari Program Studi Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, pot karya perajin Plered, Kabupaten Purwakarta, itu mengisi pasar mancanegara sejak 1980-an. Itu bersamaan dengan berkembangnya bentuk baru dengan finishing tembaga. Negara tujuan ekspor pot gerabah Plered antara lain Jepang, Taiwan, Korea, Australia, Selandia Baru, Belanda, Inggris, Italia, Spanyol, Kanada, Amerika Serikat, dan negara-negara Timur Tengah.

Bentuk dan kelir pun beragam. Bentuk lawas lumrah berpotongan lurus seperti tabung memanjang atau tabung dengan bagian atas melebar, Kini variasinya cenderung membulat mirip guci tanpa leher. Kelir rusty atau karat banyak digandrungi. Gita menjelaskan setidaknya ada lima jenis gerabah karat, yakni rustybrus, rustyiron, rustywash/ rustypaint, rustygold, dan rustysilver.

Jenis rustybrus menyerupai karat tembaga dan cenderung berwarna hijau kebiruan atau cokelat muda. Rustyiron mirip karat besi yang cenderung berwarna gelap dengan komponen warna merah, biru, atau hitam kecokelatan. Lain dengan rustygold, jenis ini menyerupai karat besi bercampur galvanil dengan komposisi warnanya kuning, oranye, merah dan cokelat, hingga mirip warna emas. Jenis rustysilver mirip karat seng ferro dengan warna silver dan kecokelatan.

Pemilik toko tanaman Plantis et Java, Venessa Tirta, juga menyediakan beragam pot. Venessa terinspirasi menjual pot terakota setelah berkunjung ke beberapa toko retail tanaman hias di Australia seperti Brookfield Garden Centre. Berlokasi di Kota Brisbane, Brookfield Garden Centre memamerkan aneka pot terakota di salah satu sudut toko. Ada yang masih gerabah murni berwarna cokelat yang dilabur kapur tembok.

Permukaannya cenderung kasar sehingga variasinya pada tekstur. Ada pula keramik porselen dengan permukaan licin dan mengilap—bersih dan bercahaya. Jenis itu cenderung bermain motif. Terdapat pula pot gerabah berlapis cat monokrom seperti putih, abu-abu, dan hitam. Harganya berkisar antara AU$10—AU$180 setara Rp96.000—Rp1.738.000 bergantung model dan ukuran.

Toko lain di Kota Brisbane seperti Cottage Garden Nursery dan Plant Factory Outlet juga menawarkan pot keramik dengan bentuk unik menyerupai karakter binatang seperti kura-kura, gajah, domba dan sapi. Harganya AU$39 atau Rp376.500. Vanessa yang  sempat tinggal di Australia untuk menempuh studi desain komunikasi di RMIT University, Melbourne. Setelah pulang ke Indonesia, ia kesulitan mencari pot terakota untuk dekorasi rumahnya.  (SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment