Loader
 

RAHASIA BUAH JAMBU MADU SUPER

sahabatpetani.com – Sosok buah-buah jambu madu deli hijau itu berukuran kelereng memenuhi semua ranting pohon setinggi 2,5 meter. Tampak pekebun menyeleksi buah dengan mempertahankan maksimal 3—5 buah berukuran seragam, bebas gerekan, mulus, dan berpotensi tumbuh dengan baik. Nurseri tersebut mengelola 400 pohon produktif berumur 1—4 tahun di lahan 2.600 m².

Setelah seleksi buah, Dardi—sang pekebun—segera membungkus pentil-pentil buah jambu air. Pembungkusan untuk mencegah serangan lalat buah Bactrocera dorsalis. Tanpa pembungkusan serangga betina dewasa leluasa meletakkan telur dengan menusukkan ovipositor di permukaan buah. Seiring pertumbuhan buah, telur pun menetas menjadi ulat. Pria 41 tahun itu memanfaatkan pembungkus buah spunbond.

Satu buah pembungkus hanya untuk melindungi satu buah jambu. Menurut Dardi pembungkus spunbond mempunyai sirkulasi udara yang baik dan anti air. Itu untuk mencegah air menggenang di dalam pembungkus. Bahan spunbond melindungi buah dari hama, mempunyai pori-pori yang bagus sehingga sirkulasi udara lancar, dan tidak menampung air. Bahan yang disebut juga dengan pur kertas atau kain kapas itu memang tembus air dan cepat kering sehingga tidak merusak buah jambu.

Karena bahan pembungkus tipis dan kuat, maka pekebun masih bisa melihat perkembangan buah. Oleh karena itu, pemilik pohon tidak perlu membuka pembungkus bila hendak melihat kondisi buah. Oleh karena itu, bahan pembungkus harus tepat. Keliru memilih pembungkus mengakibatkan buah rusak atau cacat. Misalnya, pembungkus plastik yang tidak tembus air menyebabkan air terjebak di dalam pastik. Akibatnya air menggenang. Bila terkena permukaan buah akan menyebabkan rusak. Bila cuaca panas, air hujan, air bekas siraman, atau embun yang terperangkap dalam bungkusan itu akan menguap. Dampaknya kelembapan meningkat sehingga buah rusak. Ada 2 macam pembungkus yang umum dijumpai, pembungkus buah berbahan spunbond dan jaring rajut seperti jaring serangga.

Kedua jenis itu peruntukannya sama yaitu melindungi buah dari serangan hama seperti ulat, lalat buah, serangga, burung, dan kelelawar. Selain itu pembungkus juga mampu melindungi buah dari air hujan, cuaca panas, pestisida, debu, sinar ultraviolet, bahkan dari salju di negara empat musim. Pembeda dari masing-masing jenis adalah bahan dan keawetan masa pakai.

Spunbond atau polipropilen (PP) nonwoven yang merupakan bahan tanpa rajut cenderung lebih rentan dan gampang rusak. Masa pakai hanya 2—3 kali pembungkusan. Adapun bahan jaring yang berbahan polietilen berdensitas tinggi (high density polyethylene, HDPE) rajut cenderung lebih awet. Itulah sebabnya pekebun mampu menggunakannya berulang kali pembungkusan buah.

Penggunaan pembungkus mampu menjaga buah agar tidak terinfeksi sejak dini. Buah yang sudah terinfeksi biasanya mempunyai cacat, kurang dapat berkembang secara maksimal, atau bahkan menghasilkan buah kerdil. Bila pelindung bagus sehingga tidak terinfeksi hama, maka  buah mampu berkembang lebih besar, berpenampilan istimewa dan memberikan nilai tambah.

Menurut Dardi sebuah pohon jambu madu berumur 3 tahun memerlukan 15—20 pembungkus. Pekebun bisa memanfaatkan sebuah pembungkus untuk 3—6 kali pemakaian. Biaya pembungkus buah relatif murah jika dibandingkan dengan biaya pengadaan pestisida untuk mengontrol lalat buah. Pekebun mesti menyemprotkan insektisida 12 kali dalam satu periode pembuahan. Padahal, biaya sekali penyemprotan mencapai puluhan juta. Itu pun belum tentu efektif.

Selain pembungkusan, cara lain untuk menghasilkan jambu madu bermutu adalah memanfaatkan kantong tanam atau planter bag. Imam Murod di Kota Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, menanam jambu madu hijau di kantong tanam. Menurut Imam penggunaan kantong tanam agar nutrisi tanaman dapat terkontrol dan sirkulasi udara bagus sehingga memaksimalkan penyerapan nutrisi bagi perkembangan tanaman.

Hasilnya, pada usia yang sama, penanaman di kantong tanam lebih cepat berbuah. Untuk meningkatkan kemanisan buah, Imam menutup kantong tanam ketika musim hujan. Itu untuk membatasi asupan air ke dalam kantong tanam. Wadah itu memang dilengkapi penutup khusus sehingga memudahkan pekebun.

Selain mengatasi air hujan, penutup kantong tanam itu juga berfungsi menghambat tumbuhnya gulma. Perawatan maksimal sejalan dengan produksi yang menggembirakan. Dari 200 pohon produktif Imam memetik 1,4 ton buah jambu kualitas prima per sekali panen. Itu berarti setiap pohon berumur 4 tahun mampu menghasilkan buah mencapai 7 kg. Padahal dalam setahun pohon tiga kali berbuah. Di pasaran terdapat beragam ukuran kantong tanam, dari yang terkecil 15 cm hingga 50 cm. Imam menggunakan kantong tanam berdiameter 30 cm. Sebuah kantong tanam mampu bertahan hingga 1—2 tahun. Penggunaan kantong berbahan spundbond itu terbukti relatif awet sehingga tidak menguras dompet pekebun.(SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment