Loader
 

Rawat Pamelo Model Khun Pin

            sahabatpetani.com – Pekebun di Distrik Bang Chakreng, Provinsi Samut Songkhram, Thailand, Khun Pin menjual pamelo varietas khao nam phueng 100 baht setara Rp40.000 (kurs 1 baht = Rp400) per buah. Harga jual itu lebih mahal daripada harga pamelo jenis sama dari pekebun lain yang hanya 40—80 baht. Itu harga normal. Saat panen raya yakni saat kemarau, harga di tingkat pekebun lebih murah lagi yakni hanya 20 baht. Sementara itu harga jual pamelo dari Khun Pin ajek.

            Meski berharga lebih mahal, pamelo berdaging buah putih dari kebun Khun Pin itu tetap laris. Ia menjual 130.000 buah pamelo per tahun. Artinya, Khun Pin meraup omzet 13 juta baht atau Rp5,2 miliar per tahun. Hasil panen sebanyak itu ia peroleh dari 1.300 pohon pamelo di lahan 25 rai atau setara 4 hektare.

            Konsumen menyukai pamelo dari kebun Khun Pin karena daging buahnya manis, bertekstur lembut, dan sedikit air. Konsumen juga mudah melepaskan daging buah dari kulitnya. Menurut perempuan ramah itu, pamelo yang tumbuh di wilayah Bang Chakreng berkualitas lebih baik karena termasuk dalam komoditas indeks geologi—upaya pemerintah Thailand untuk memetakan komoditas berdasarkan kesesuaian lahan.

Komoditas yang ditanam para pekebun disesuaikan dengan kecocokan lahan. Ada 57 komoditas yang masuk dalam program pewilayahan komoditas I. Bang Chakreng wilayah yang cocok untuk budidaya pamelo. Daerah itu kawasan  pertemuan air payau dengan air tawar sehingga  bernutrisi lebih komplet. Namun, dengan kemurahan alam itu bukan berarti Khun Pin merawat kebun pamelo ala kadarnya.

Ia membudidayakan tanaman anggota famili Rutaceae itu secara intensif. Ia menerapkan teknologi budidaya tepat guna hasil bimbingan para peneliti dari Kasetsart University, Bangkok, Thailand. Salah satu teknologi yang ia terapkan adalah irigasi. Ia memasang teknik irigasi sprinkler untuk penyiraman. Teknologi itu mampu menghemat tenaga kerja. Ia hanya mengandalkan 2 orang tenaga kerja untuk menyiram kebun seluas 4 hektare.

Khun Ping memanfaatkan pupuk kandang dan limbah ikan yang telah difermentasi sebagai sumber nutrisi. Dosis 3 kg per pohon setiap 3 bulan. Ia juga memberikan pupuk yang sama setiap kali selesai pemangkasan dan panen. Khun Ping juga rutin memangkas untuk membentuk tajuk. Ia hanya mempertahankan percabangan yang tumbuh lurus ke atas.  Untuk mencegah serangan lalat buah, ia membungkus saat buah berumur 4 bulan setelah penyerbukan.

Semula Khun Pin membungkus buah pamelo di kebunnya dengan kertas berkarbon untuk mengatasi hama lalat buah. Namun, selain membuat kulit buah mulus, pembungkusan buah itu ternyata juga menyebabkan pamelo khao nam phueng berwarna kuning cerah merata. Padahal, pamelo berdaging buah putih, berasa manis, dan bertekstur lembut itu lazimnya berkulit hijau. Setelah Khun Pin melihat penampilan pamelo seperti itu, tercetus ide untuk memperkenalkan pamelo miliknya dengan nama golden pamelo di pasaran.

            Ketika buah berumur 9 bulan setelah penyerbukan, pamelo siap panen. Ia memanen buah menggunakan gunting pangkas untuk mencegah buah jatuh ke tanah yang dapat menyebabkan buah memar. Khun lalu memisahkan buah yang berwarna kuning akibat pembungkusan dengan buah yang berwarna hijau. Khun Pin menjual pamelo berwarna kuning dengan nama pamelo golden. Selanjutnya Khun mengemas hasil panen dalam kotak karton. Setiap kotak berisi 6 buah. Pamelo pun siap dipasarkan. Khun Pin menjual pamelo ke beberapa pasar swalayan di Kota Bangkok dan sekitarnya. Berkat perawatan prima, Khun Pin lebih tinggi meraup laba. (SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment