Loader
 

REINKARNASI BAWANG SUPER

sahabatpetani.com – Tiga varietas bawang putih berhasil dirilis Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang. Super putih, adalah salah satunya. Daun super putih  amat khas, yakni tegak sehingga mampu bertahan di musim hujan. Degan morfologi seperti itu, air hujan tidak tergenang pada daun. Petani di Tuwel, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, membuktikan ketangguhan super putih pada musim hujan. Meski budidaya ketika curah hujan tinggi, petani memanen 10 ton umbi super putih per hektare. Lazimnya para petani memanen bawang putih pada musim kemarau.

Panen awal bawang super putih itu berlangsung ketika mendung menyelimuti Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Menurut petani di Tegal, Abdul Jafar Setiawan, super putih memang cocok dibudidayakan pada musim hujan. Wajar bila fakta itu sangat menyenangkan bagi para petani anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Budi Luhur lantaran sukses memanen bawang putih pada musim hujan. Varietas super putih juga lebih tahan terhadap serangan hama thrips dibandingkan dengan varietas lainnya.

Varietas bawang putih baru merupakan hasil seleksi para periset Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa). Para periset Balitsa menyeleksi varietas lumbu putih sehingga menghasilkan super putih yang adaptif pada musim hujan. Produksi 10 ton per hektare itu lebih tinggi dibandingkan lumbu putih yang menghasilkan rata-rata 4—7 ton per hektare.

Panen bawang putih pada musim hujan itu menunjukkan adanya varietas yang bisa diunggulkan ditanam di luar musim. Selain menyeleksi dan menghasilkan super putih, para periset Balitsa juga “membidani” kelahiran dua varietas baru lain, yakni super kuning dan super hijau. Keduanya berasal dari Malang, Jawa Timur.

Menurut peneliti bawang putih dari balitsa, Ir. Diny Djuariah, munculnya dua bawang putih anyar itu untuk mengimbangi bawang putih impor. Pasalnya, konsumsi bawang putih di tanah air 95% berasal impor, hanya 5% hasil panen di dalam negeri. Itu pun bukan untuk kebutuhan rumah tangga. Tetapi untuk kosmetik dan obat, komentar Diny. Kedua genotipe anyar itu memiliki keunggulan yakni aroma bawang yang menyengat.

Diny mengatakan, perbandingan satu siung varietas super hijau dan super kuning setara dengan 5 siung bawang putih impor. Keunggulan lainnya berumbi besar. Bobot rata-rata 30—40 gram, varietas lain hanya 10—30 gram per umbi. Varietas super kuning berpotensi produksi 10—12 ton per hektare. Sementara super hijau 10—14 ton per hektare. Tetua super kuning berasal dari lumbu kuning. Para periset memilih umbi lumbu kuning yang berukuran besar. Produktivitas lumbu kuning yang menjadi tetua super kuning hanya 6—8 ton per hektare.

Begitu juga pada proses “kelahiran” super hijau, maka para periset menyeleksi lumbu hijau yang rata-rata menghasilkan 8—10 ton per hektare. Baik super kuning maupun super hijau memiliki produksi yang lebih besar daripada tetuanya. Oleh karena itu para periset Balitsa menabalkan nama super pada ketiga varietas bawang putih itu.

Para periset berharap peningkatan konsumsi bawang dalam negeri. Minimal meningkat menjadi 25% bukan hanya 5%. Beberapa sentra bawang putih di antaranya Ciwidey, Provinsi Jawa Barat, Tuwel, Jawa Tengah, dan Batu, Jawa Timur. Ketiga bawang super itu tumbuh optimal di lahan berketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut.

Menurut Fauzi Henidar dari Balitsa, adanya tiga genotipe anyar unggul mendukung kegiatan produksi benih sebar bawang putih untuk mendukung program swasembada pada 2018. Pada 2019, Puslitbang Hortikultura, melalui Balitsa memproduksi 225 ton benih sebar bawang putih. Itu sebagai upaya peningkatan kapasitas petani dalam budidaya bawang putih, di antaranya melalui demplot di sentra-sentra produksi.(SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment