Loader
 

Sektor Pertanian di Yogyakarta Masih Bergairah Dimasa Pandemi Covid-19

Sahabatpetani.com – Pandemi Covid-19 berpengaruh ke berbagai sektor kehidupan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Namun, sektor pertanian masih mampu bertahan, bahkan tumbuh positif.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY, Tri Saktiyana, mengatakan,

masa pandemi dapat menjadi momentum yang tepat untuk kebangkitan sektor pertanian lokal. Bahkan, ia berharap sektor pertanian tetap bergerak maju agar bisa menutup sektor yang negatif, sehingga pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) bisa lebih.

Tri Saktiyana menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian DIY tumbuh sebesar 0,3%,

“Meski kecil, pertumbuhan ini menunjukkan sektor pertanian relatif tidak terganggu oleh pandemic covid-19,” ungkapnya kepada awak media di Yogyakarta, belum lama ini.

Menurutnya, beberapa faktor yang mempengaruhi seperti produksi tetap memungkinkan untuk jaga jarak, pabrik terbuka, energi langsung dari alam, serta konsumsi pangan stabil,

“Hal ini perlu dimanfaatkan sebagai momen kebangkitan pertanian lokal,”ungkapnya.

Ia juga berharap antar kabupaten dan kota di DIY perlu memperkuat dan memperluas jaringan perputaran produk pertanian. Hal itu, kata dia, supaya produksi di Sleman segera bisa dikonsumsi di Bantul, produksi di Bantul bisa segera dikonsumsi di Sleman atau Gunungkidul dan seterusnya secara bergilir.

Untuk mendorong sektor pertanian ini, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertan) DIY akan kembali menggelar Pasar Tani, yang sebelumnya biasa digelar setiap Jumat di depan kantor Dispertan DIY. Karena covid-19 Pasar Tani ini sempat tutup, ke depan rencananya akan ditambah lokasinya.

Dalam upaya penguatan sektor pertanian ini, Pemda DIY juga mendorong masyarakat untuk difersivikasi pangan lokal, yakni dengan tidak bergantung pada beras saja sebagai bahan makanan pokok, tapi juga sumber karbohidrat lainnya seperti umbu-umbian, jagung, dan lainnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertan) DIY, Syam Arjayanti, menuturkan produksi bahan pokok non beras dari petani di DIY surplus, namun tingkat konsumsinya masih kecil. Dicontohkannya produksi ubi kayu yang produksinya sekitar 800.000 ton per tahun, tingkat konsumsinya hanya sebesar 12 Kg per kapita pertahun,

“Ubi kayu justru banyak dimanfaatkan bukan untuk bahan makanan melainkan untuk pakan ternak,” ujarnya.

Hal itu menurutnya karena teknologi penyimpanan masih perlu dikembangkan. Dispertan DIY akan terus berupaya mendorong petani agar bisa memproduksi dari bahan mentah menjadi produk yang lebih menguntungkan.

Di sisi lain, pada September ini, petani masih menanam. Tak hanya beras, melainkan Jagung, dan bahkan mengembangkan kedelai edamame. Di DIY salah satu jenis kedelai varietas Jepang tersebut sukses dikembangkan Petani Desa Argodadi dan Argosari, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul. Petani-petani di Kabupaten Sleman saat ini juga banyak yang mulai menanam kedelai edamame. (*)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment