Loader
 

Si Penjaga Pangan Dunia

sahabatpetani.com – Pertanian merupakan vital utama dalam perkembangan populasi manusia terutama dalam pemasuk kebutuhan pangan dan lapangan pekerjaan. Negara kita juga  dikenal sebagai negara agraris , namun dengan melihat fakta yang ada apakah sebutan negara agraris masih akan disandang oleh Indonesia? Seiring berjalannya waktu regenerasi petani muda semakin sedikit. Data dari BPS (Badan Pusat Statistika) mencatat bahwa adanya jumlah penurunan terhadap jumlah rumah tangga petani yang terdaftar yaitu pada tahun 2013 sebanyak 31,7 juta rumah tangga petani, hal ini menurun sebanyak 5 juta dari tahun 2003.

Hal ini dapat disimpulkan bahwa ketertarikan generasi muda terhadap pertanian berkurang dan beranggapan bahwa pertanian sudah tidak menguntungkan lagi. Selain dunia pertanian yang dianggap tidak menguntungkan, profesi sebagai petani masih dianggap sebagai pekerjaan yang berstatus sosial rendah. Hal ini dapat dilihat dari ada beberapa petani tua yang enggan bertani lagi dan generasi muda yang enggan untuk berprofesi sebagai petani.

Jika dilihat, petani-petani di Indonesia masih didominasi oleh petani-petani yang sudah berumur. Beberapa data  mengatakan sebanyak 8,56 juta petani berumur diatas 54 tahun, dan menurut dari hasil penelitian banyak  generasi muda yang memilih untuk berprofesi selain petani.

Paradigma generasi muda terhadap pertanian adalah faktor terbesar dari mau atau tidaknya untuk terjun di dunia pertanian. Banyak dari generasi muda menganggap bahwa pekerjaan sebagai petani adalah pekerjaan yang banyak menguras tenaga dan banyak membutuhkan banyak tenaga. Namun pada kenyataannnya berprofesi sebagai petani tidaklah harus mengeluarkan banyak tenaga dan tidak melulu bercocok tanam. Pada saat ini banyak perkembangan pertanian modern seperti vertical farming, pertanian organik, hidroponik, aeroponik, dll. Ditambah lagi dengan masuknya ke era industri 4.0 banyak teknologi canggih yang membantu dalam memudahkan pertanian.

Selain itu, sekarang ini banyak lahan pertanian yang disulap menjadi jalan tol, perumahan, perkantoran, taman hiburan, dll. Dengan berkurangnya lahan pertanian ini, menyebabkan adanya keraguan minat generasi muda terhadap dunia pertanian dan akhirnya para generasi muda untuk memilih profesi lain. Belum lagi dengan adanya ketidakstabilan harga yang membuat petani menderita. Tidak sedikit petani yang rugi dengan ketidakstabilan harga ini.

Dengan adanya faktor-faktor tersebut, Jika regenerasi pertanian ini tidak segera ditangani  maka bukan hal yang tidak mungkin jika pada tahun 2045 Indonesia menjadi lumbung pangan dunia hanya menjadi isapan jempol semata, dan bahkan bisa saja di tahun itu kita menjadi pengimpor beras terbesar didunia. Selain itu, sebutan Indonesia sebagai negara agraris bukan hal yang mustahil akan hilang. Perlu adanya kontribusi dari berbagai pihak baik dari pemerintah, dunia pendidikan, dan  masyarakat agar regenerasi petani dapat terealisasi dengan baik. Bagi pemerintahan, harus menunjukkan kesungguhannya dalam meregenerasi petani muda dengan cara mengadakan pelatihan bagi calon petani muda, menjaga kestabilan harga, dll.

Dalam kaitan ini, Petrokimia Gresik sebagai produsen pupuk terlengkap di Indonesia dalam membantu regenerasi petani muda telah mengadakan event yaitu Jambore Petani Muda. Dengan adanya Jambore Petani Muda ini, para generasi muda diberikan pemahaman mengenai dunia pertanian dan mengubah paradigma generasi muda mengenai dunia pertanian. Kita tentu berharap agar regenerasi petani muda ini dapat terwujud dan banyak generasi muda cinta akan dunia pertanian agar terjaganya pangan dunia. (SP/Sumber foto: Sahran W).

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment