Loader
 

siasat agar hasil panen kakao berlipat

sahabatpetani.com – Muhammad Syarif mengebunkan kakao di lahan 2,5 ha berketinggian 400 meter di atas permukaan laut. Namun, harapan memetik laba besar cuma impian. Saat panen perdana pada penghujung 2005, ia hanya memanen 0,5 ton biji kakao kering per ha. Setahun. Idealnya, tanaman asal Tanjung Yucatan, Meksiko, itu berproduksi 1,5 ton per ha. Meski demikian Syarif tak patah arang. Ia melakukan berbagai cara untuk mendongkrak hasil panen. Salah satunya dengan merehabilitasi tanaman kakao di kebunnya. Rupanya salah satu penyebab hasil panen rendah lantaran ia menanam varietas nonunggul. Ia lalu menyambung samping tanaman berumur 8 tahun di kebunnya dengan klon-klon unggul, seperti  Sulawesi 1 dan M01. Kedua klon unggul hasil penelitian dan pengembangan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember, Jawa Timur, lebih tahan penyakit pembuluh kayu alias vascular streak dieback (VSD). Kedua jenis klon itu juga berbuah terus-menerus.

Tinggi nutrisi

Syarif juga mengoptimalkan pemupukan agar nutrisi untuk tanaman lebih optimal. Ia memberikan 1,5 kg pupuk NPK per pohon setiap 6 bulan. Dosis itu lebih tinggi dari dosis rekomendasi yang seharusnya hanya 300—500 g per 6 bulan. Ia sengaja meningkatkan asupan hara dengan harapan meningkatkan hasil panen. Syarif juga menambahkan pupuk organik. Untuk menggunakan pupuk Petroganik dilakukan 2 kali setahun. Tahun kedua produksi kakao di kebun Syarif mulai meningkat, yakni mencapai 2 ton biji kering kakao per ha. Pada tahun ketiga produksi kakao kembali naik. Dalam setiap pekan ia memanen 200 kg biji kakao kering atau rata-rata 3 ton per ha. Jumlah hasil panen itu tiga kali lipat hasil panen. sebelum ia menerapkan teknik budidaya itu. Syarif memperoleh keuntungan bersih rata-rata Rp7,5-juta per pekan pada saat musim puncak berbuah. Pada tahun keempat, produksi kakao meningkat lagi hingga mencapai 4 ton per ha setahun. Menurut pemulia tanaman dari Pusat Penelitian Kopi  dan Kakao Indonesia, Dr. Agung Wahyu  Susilo, hasil produksi kakao itu terlalu tinggi. Agung menuturkan potensi hasil panen klon Sulawesi 1 dan M01 adalah 3 ton/ha. 

Batasi produksi

Agung menyarankan hasil panen  tidak melebihi potensi hasil. Jika dipacu berproduksi tinggi dapat menyebabkan tanaman cepat rusak akibat ”kelelahan” memproduksi banyak buah. Oleh karena itu Syarif mengendalikan produksi kakao menjadi hanya 3 ton per hektare setiap tahun. Caranya dengan mengatur pemupukan dan pemangkasan. Ia menurunkan dosis pemupukan, yakni menjadi hanya 300—500 g NPK per pohon setiap 6 bulan. Pekebun di Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Kholid Mustofa, melakukan pemupukan dan pemangkasan untuk mendongkrak hasil panen kakao. Menurut Kholid ada 4 jenis pemangkasan kakao, yakni pemangkasan bentuk, tunas air struktural, dan sanitasi. Pemangkasan bentuk untuk memacu perkembangan cabang sekunder yang menghasilkan banyak buah. Ada 2 tahap pemangkasan bentuk, yaitu pemangkasan pucuk ketika tanaman berumur 3—6 bulan dan pemangkasan tajuk ketika  tanaman berumur 6—9 bulan.  Adapun pemangkasan tunas air yang tumbuh vertikal dapat meningkatkan kekuatan struktur dan mengurangi cabang nonproduktif. Pemangkasan tunas air pada tanaman dewasa berperan memusatkan nutrisi untuk perkembangan buah, memperbaiki penetrasi sinar matahari, dan memperlancar sirkulasi udara. Interval pemangkasan tunas air atau wiwilan setiap 3 bulan.

Maksimal 30%

Pemangkasan struktural memacu perkembangan 4—5 cabang utama secara kontinu sebagai struktur kerangka primer. Pemangkasan struktural merangsang penggantian cabang tua dan sakit. Pemangkasan sanitasi untuk memperbaiki penetrasi sinar matahari dan aliran udara serta mengurangi gulma agar tidak berkompetisi dengan tanaman utama. Pemangkasan itu juga mencegah tanaman kakao menjadi inang hama atau penyakit. Pemangkasan sanitasi dilakukan bersamaan dengan pemangkasan struktural. Namun, pemangkasan itu juga dilakukan sewaktu-waktu jika terlihat banyak cabang rusak. Meski bertujuan memperbaiki produktivitas, pemangkasan harus dibatasi maksimal 30% dari tajuk. Selain itu kakao membutuhkan naungan agar dapat berkembang dengan baik. Tanaman penaung berfungsi untuk mengurangi intensitas matahari. Tanaman kakao Theobroma cacao sebaiknya menerima 50% cahaya matahari. Adapun tanah di  sekitar tanaman membutuhkan 25%  paparan sinar. Tanaman penaung juga memerlukan perawatan teratur agar tidak menjadi inang hama atau penyakit yang mengurangi produksi kakao. Kholid menanam sekitar 20% tanaman naungan di kebunnya atau 1 pohon naungan per 5 tanaman kakao. Dengan pemangkasan seperti itu Kholid memanen rata-rata 2 ton biji kakao kering per hektare setahun. (Imam Wiguna)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment