Loader
 

SUKSES PANEN JAHE MERAH DI POLIBAG

sahabatpetani.com – Halaman rumah Sere Rohana Napitupulu sejatinya tidak seberapa luas, kira-kira hanya 300 m². Namun, warga Malakasari, Durensawit, Jakarta Timur, itu berhasrat menanam jahe. Harap mafhum rimpang jahe multikhasiat. Tanaman anggota famili Zingiberaceae itu meningkatkan kekebalan tubuh, memperlancar detoksifikasi, menambah stamina, membantu meringankan rematik, mag, dan kembung akibat masuk angin.

Sere memilih jahe merah. Menurut peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Tumbuhan Obat Universitas Nasional, Drs. Ikhsan Matondang M.Si., para pekebun di tanah air membudidayakan tiga jenis jahe, yakni jahe besar (jahe badak), jahe kecil (emprit), dan jahe merah (jahe sunti). Jahe merah paling kaya senyawa aktif seperti gingerol, oleoresin, dan minyak asiri lain. Total kandungan minyak asiri jahe merah 2,58—2,72%; jahe badak 0,82—1,68%, dan jahe emprit 1,5—3,3%.

Untuk mewujudkan hasratnya, Sere menanam jahe di polibag. Peraih penghargaan Kalpataru pada 2015 itu mengatakan, 2 kg rimpang jahe merah sebagai bibit untuk 25—30 polibag. Dalam sebuah polibag berukuran 10 kg Sere menanam 5 rimpang jahe merah seukuran 2 jari. Duta urban farming dari Bank Indonesia itu menanam 10 polibag jahe merah di lahan 5 m². Diameter polibag 50 cm.

Sere menyarankan penanaman jahe merah menggunakan polibag lantaran lebih mudah mengontrol nutrisi. Penanaman langsung di tanah sulit mengontrol nutrisi lantaran nutrisi lebih banyak terbuang dan tidak terserap tanaman. Menurut Sere, pertumbuhan jahe merah lebih cepat pada polibag bila dibandingkan dengan langsung di tanah. Ia menggunakan media tananam berupa campuran sekam bakar, serbuk sabut kelapa atau cocopeat, bokasi, pupuk organik, trichoderma, dan tanah.

Untuk meningkatkan kandungan nutrisi, rendam sekam bakar selama 30 menit kedalam pupuk organik cair sebelum pencampuran dengan media lain. Serbuk sabut kelapa mengandung garam yang tinggi, maka perlu dicuci terlebih dahulu.
Pencucian serbuk sabut kelapa tidak perlu terlalu lama, agar kandungan garam tidak terbilas semua karena tanaman membutuhkan dalam jumlah kecil. Adapun Tricoderma berperan sebagai agen hayati untutk mencegah patogen yang merugikan tanaman. Harap mafhum cendawan anggota kelas Ascomycetes itu memiliki aktivitas biokontrol terhadap cendawan patogen atau antifungal.

Menurut praktisi pertanian di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Sudarmoko, kunci untuk mendapatkan jahe merah yang baik dan banyak adalah pada media tanam, pupuk organik cair, dan ruang tumbuh. Ia menggunakan media campuran tanah, kompos, dan pasir. Sudarmoko mengayak tanah agar butiran media menjadi kecil sehingga mempermudah pertumbuhan rimpang dan akar untuk menembus media.

Jahe memerlukan media dengan derajat keasaman netral yaitu antara 6—7 untuk tumbuh dengan baik. Sudarmoko menanam jahe merah di dua wadah berbeda, yakni kantong tanam atau planter bag berkapasitas 100 kg dan karung. Sudarmoko menggunakan karung untuk budidaya jahe merah. Sebab, ruang tumbuh jahe merah lebih luas. Semakin luas ruang tumbuh, makin besar pula rimpang jahe merah dihasilkan.

Pada Februari 2017 Sudarmoko menanam jahe merah total di 5 karung dan 9 kantong tanam berdiameter 50 cm. Ukuran karung lazimnya tinggi hingga 50 cm. Namun, Sudarmoko menekuk sehingga tingginya hanya 30 cm. Pria 64 tahun itu mengatakan karung atau kantong tanam bisa dipakai hingga 2—3 kali budidaya.

Menurut Sere jahe Zingiber officinale itu tidak memerlukan air terlalu banyak. Penyiraman cukup 2 hari sekali. Namun, penyiraman tambahan diperlukan bila tanaman tersiram hujan. Air hujan bersifat asam, bila tidak segera ditangani akan menyebabkan tanaman rusak. Cara paling mudah untuk mengatasinya adalah siram tanaman sesaat setelah hujan untuk menetralkan keasaman.

Untuk menambah nutrisi, berikan pupuk cair setiap 4 hari. Larutkan 1 tutup botol pupuk cair dalam 1 liter air untuk menyiram 5 polibag jahe merah. Sudarmono memfermentasi urine sapi sebagai sumber nutrisi. Ia mencampur beberapa macam rempah seperti kapulaga, pala, untuk menghalau dan mematikan penyakit layu kuning pada jahe merah. Ia dan kelompok ternaknya memelihara 1.200 ekor sapi perah sehingga dapat memanfatkan urine.

Sudarmoko juga membumbun tanaman jahe merahnya setinggi 3 cm setiap bulan. Tujuannya untuk menambah media perkembangan dan nutrisi bagi rimpang agar rimpang dapat berkembang maksimal. Ketika tanaman berumur 7—9 bulan merupakan fase pertumbuhan optimal. Pada umur itu batasi 5—6 tunas setiap 1 rimpang tanaman. Bila tumbuh melebihi jumlah itu, potong batang paling tua sebatas permukaan tanah.

Hal itu bertujuan agar perkembangan rimpang baru dapat maksimal, dan terus merangsang tumbuhnya rimpang baru yang lain. Menurut Sere panen jahe merah pada umur 14 bulan setelah tanam. Dengan perawatan dan media yang baik dapat menghasilkan 5—8 kg rimpang jahe merah per polibag.(SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment