Loader
 

TERAPKAN CARA INI, PRODUKSI CABAI RAWIT NAIK 400%

sahabatpetani.com – Panen kali ini  membuat Syamsuddin Nugraha tercengang. Ia berhasil memanen 3—4 kg cabai rawit per tanaman dalam 2,5 bulan. Hasil ini jauh melebihi produksi rata-rata cabai rawit nasional sebesar 1,5 kg per tanaman. Syamsuddin memetik produksi tinggi setelah menerapkan teknik baru yaitu, model irigasi, penggunaan mulsa dan  penambahan media tanam sabut kelapa. Ketiganya merupakan kunci penting dalam peningkatan hasil cabai rawit. Secara tidak langsung, penggunaan mulsa sekaligus mengurangi penyemprotan pestisida. Selama menggunkan mulsa plastik, Syamsuddin hanya mengeluarkan biaya pengadaan pestisida 40% dari biasanya.

Pada media tanam, Syamsuddin menambahkan 10 kg serbuk sabut kelapa atau cocopeat di setiap guludan berukuran 1 m x 7 m, Tujuannya, untuk mencegah penyakit tular tanah. Setelah sabut kelapa tercampur merata dengan tanah, ia menutup dengan mulsa plastik. Jarak tanam  yang digunakan  1 m x 1 m.

Petani di Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Nanggoroe Aceh Darussalam itu, menanam bibit cabai berumur 21 hari setelah semai. Populasi di  lahan 1 hektare mencapai 10.500—12.000 tanaman. Sejak penanaman itu ia memberikan nutrisi menggunakan sistem fertigasi dengan irigasi tetes. Sistem fertigasi merupakan pemberian air irigasi untuk penyiraman tanaman bersamaan dengan pemupukan melalui emiter di dekat perakaran tanaman.

Fertigasi memudahkan serta mengefisiensikan penggunaan air dan pupuk secara tepat. Menurut alumnus Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara itu irigasi tetes memberikan air dan pupuk secara langsung ke setiap tanaman. Tanaman mendapatkan larutan pupuk dari spaghetti cube yang menancap di dekat perakaran tanaman. Syamsuddin mengatakan, frekuensi pemberian air dan nutrisi 2 kali sehari pada pukul 07.00 dan 15.00.

Durasi pemberian 30 menit. Pada fase vegetatif, umur tanaman 28—40 hari, ia memberikan pupuk tinggi nitrogen. Namun, saat tanaman memasuki fase generatif atau setelah berumur 40 hari, ia memberikan pupuk tinggi fosfor dan kalium.  Ia melarutkan 850 kg pupuk itu dalam sebuah drum plastik berkapasitas 500 liter. Kemudian ia memasukkan larutan itu ke tandon dan mengalirkan nutrisi itu melalui pompa listrik.

Tanaman magori atau berbuah perdana pada umur 60 hari. Menurut pria berusia 45 tahun itu, setiap tanaman menghasilkan 500—1.000 buah cabai rawit. Bobot cabai rawit yang berbentuk silindris sepanjang 4—6 cm dan berdiameter 0,8 itu mencapai 2—3 g per buah, setara 4 kg per tanaman atau 5—6 ton per ha sekali panen. Syamsuddin memanen cabai nirmala dengan interval panen 5—7 hari.

Syamsuddin mempertahankan umur cabai rawit hingga 6 bulan. Artinya dalam satu periode budidaya, ia minimal 17 kali panen. Dalam satu kali budidaya, total hasil panen 84 ton per ha cabai. Produktivitas itu jauh lebih besar dibandingkan dengan budidaya tanpa fertigasi yang hanya 20 ton per ha.

Menurut Syamsuddin biaya pembelian sarana fertigasi mencapai Rp70 juta per ha. Ia dapat menggunakan sarana pemupukan dan penyiraman itu hingga 5—6 tahun. Dengan demikian maka untuk satu kali masa budidaya Syamsuddin memerlukan biaya pengadaan fertigasi hanya Rp3,5 juta per ha. Lonjakan produksi cabai yang signfikan itu mampu menutupi peningkatan biaya produksi. sistem fertigasi menjadi solusi untuk kebun yang pasokan airnya terbatas. Sistem pengairan itu juga lebih praktis sehingga dapat meringankan kerja pekebun untuk menyiraman. Irigasi tetes mampu menekan serangan penyakit pada daun dibandingkan dengan penyiraman melalui sprinkler.

Air tidak diaplikasikan lewat daun sehingga dapat mempertahankan daun dalam kondisi kering. Akibatnya daun dapat menekan kerentanan tanaman terhadap serangan penyakit. Hal itu juga menekan penggunaan fungisida. Menurut Susuila saat ini rekomendasi pemupukan sayuran di Indonesia masih sangat beragam. Pemupukan melalui fertigasi yang tepat dan sesuai dengan kemampuan tanah mensuplai hara tanaman sangat diperlukan. Hal ini akan mempermudah petani mengadopsi teknologi fertigasi melalui irigasi tetes.

Penggunaan mulsa plastik hitam-perak mempertahankan struktur tanah tetap gembur, memelihara kelembapan tanah, mengurangi kehilangan unsur hara, dan menekan pertumbuhan gulma. Selain itu  juga mengurangi kerusakan tanaman karena thrips, tungau, dan virus lainnya.(SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment